
Kay memasuki kamar mandi setelah Rio pergi joging karna hari ini week end.
"Astaga??! Aku hami!!" Kay berteriak dikamar mandi.
Rasa bahagia menyelimuti hatinya.
Setelah 2 bulan tak mendapatkan tamu bulanannya kini Kay memberanikan diri melakukan test dan hasilnya menunjukan kabar gembira.
"Terimakasih sudah hadir diperut mama" Kay mengusap lembut perutnya.
"Apa aku harus memberitahunya hari ini juga?" Gumam Kay bertanya tanya.
"Lebih baik aku menunggu waktu yang tepat" lanjutnya lagi.
Setelah satu jam kepergiannya, akhirnya Rio kembali kedalam kamar.
"Sudah selesai?" Tanya Kay basa basi.
"Hmm sudah, kau sudah mandi?"
Kay mengangguk
"Aku mandi dulu, ada hal yang ingin kubicarakan nanti" ucap Rio diangguki Kay.
"Pasti hal penting" gumam Kay.
Setelah 30 menit berlalu, akhirnya Rio keluar dari kamar mandi.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Rumah baru kita sudah siap ditempati" ucap Rio.
"Benarkah?" Tanya Kay berbinar.
"Iya, hari ini juga kita bisa pindah kesana. Barang barang yang disini biar diurus maid" ucap Rio lembut.
Terkadang Kay bingung, suaminya memang tak kasar. Namun hubungan keduanya sangat senyap. Tak ada hal yang menarik dari hubungan mereka selain aktifitas ranjang.
"Baiklah, ada lagi?"
Rio mengangguk
"Aku ada proyek baru dijepang" ucapan Rio bisa ditebak kelanjutannya.
"Hmm lalu?"
"Aku harus tinggal selama kurang lebih satu bulan. Kau mau ikut?" Tawar Rio.
"Tidak, lebih baik aku bekerja disini"
"Apa kau yakin?"
"Ya aku sangat yakin"
"Kalau begitu kita tunda saja kepindahannya. Lebih baik kau disini agar ada yang menemani"
"Tidak mau, lebih baik pindah saja tidak apa apa. Lagipula pasti disana banyak maid" ucap Kay.
__ADS_1
"Kau yakin? Aku tidak tenang meninggalkanmu sendirian"
"Aku yakin. Tidak apa apa"
Sore harinya Rio membawa Kay kerumah baru mereka.
"Kenapa besar sekali?" Tanya Kay heran melihat bangunan didepannya.
"Ini untuk keluarga kecil kita nantinya" Rio merangkul pundak instrinya.
"Terimakasih"
"Aku masih berusaha memperbaiki semuanya. Aku hanya ingin kita menjadi keluarga yang utuh"
"Jangan terlalu memaksakan perasaanmu. Jika memang sudah tidak bisa, katakan saja. Aku akan pergi tanpa meminta apapun" Kay mengusap lengan kekar suaminya.
"Tapi yang, aku.."
"Jangan terlalu difikirkan. Lebih baik kau fokus dengan perusahaanmu" Kay mengukir senyum manis.
"Kapan kau berangkat ke jepang?"
"Satu minggu lagi"
Kay mengangguk paham
Besok ia berencana ke dokter kandungan dan hendak memberi tahu Rio secepatnya.
Ke esokan harinya, Kay izin tak masuk bekerja karna akan cek kandungan sekalian kontrol kesehatannya.
Dokter itu mendesahkan napasnya berat,
"Iya, nyonya memang hamil. Namun kehamilan anda mungkin akan mengalami beberapa masalah kedepannya karna ada riwayat transplatsi ginjal"
"Tidak apa apa dok, yang penting anakku nanti terlahir sehat" jawab Kay berbinar.
"Nyonya, anda harus mengurangi akhtivitas anda karna kandungan anda tergolong lemah"
"Benarkah? Apa aku sudah tidak boleh bekerja lagi?" Tanya Kay sendu.
"Menurut saya jangan bekerja dulu nyonya. Lagipula ini demi kebaikan anda dan janin anda kedepannya"
"Baiklah, terimakasih dok"
Kay tak mau berdebat panjang karna memang yang dikatakan dokter ada benarnya juga. Kay takut jika kehamilannya kali ini bermasalah.
Sebelum pulang, Kay lebih dulu ke kantor Al menyerahkan surat pengunduran diri.
"Kenapa tiba tiba?" Tanya Al heran pada istri sahabatnya itu.
"Aku hamil" jawab Kay tersenyum sumringah.
"Woww benarkah?" Al juga nampak bahagia mendengar kabar itu.
"Iya, tapi kandunganku lemah. Jadi dokter tidak mengizinkanku bekerja"
"Apa Rio sudah tau?" Tanya Al karna jika Rio sudah tau pasti akan mengabarinya.
__ADS_1
"Belum, aku berniat memberinya kejutan" jawab Kay antusias.
"Baiklah kalau begitu, semoga kehamilanmu lancar"
"Aamiin"
Kay pun kembali kerumah barunya,
Ia tak sabar menunggu suaminya pulang padahal hari sudah mulai malam.
Sudah pukul 9 namun suaminya belum juga kembali dari kantor.
Karna mengantuk, akhirnya Kay tertidur begitu saja tanpa sempat mengatakan kabar bahagia.
Pagi hari,
Kay kaget melihat Rio sudah lebih dulu bangun dan sudah rapi menggunakan kaus dan celana chinos pendek.
"Rio, kau tidak bekerja?"
"Maaf, aku harus berangkat ke jepang hari ini juga karna agendanya dimajukan. Kamu tidak apa apa kan?"
"Hmm ti tidak apa apa. Ta tapi.."
Ucapan Kay terpotong
"Kudengar dari Al kau resign. Kenapa?"
"Anu, itu aku.."
"Kalau tak mau mengatakannya padaku tidak apa apa, aku.."
"Jangan potong dulu ucapanku!" Kesal Kay.
"Oke oke, bicaralah aku mendengarmu"
"Tidak jadi, aku sudah tidak mood" kesal Kay.
"Kenapa? Katakan saja" desak Rio merasa penasaran.
"Tidak apa apa"
Kay memikih diam karna jika ia mengatakan bahwa ia hamil bisa dipastikan Rio tak akan jadi ke jepang.
"Ya sudah kalau tidak mau"
"Emangnya berangkat jam berapa?"
"Ini mau berangkat" jawab Rio enteng sambil merapikan kopernya.
"What?! Aku aja belum mandi" kesal Kay.
"Kenapa harus mandi?"
"Memangnga kau tidak mau diantar ke bandara?"
"Tidak usah, nanti kamu kecapekan. Lebih baik kau dirumah saja. Biar sopir yang mengantar"
__ADS_1