
"Kamu kemana aja? Kenapa belum pulang. Kamu sedang sakit jangan terlalu banyak lembur" omel mama Tasya diseberang.
"Rio nggak lembur ma, Rio pulang ke apartemen. Rio udah sehat ma, nggak usah khawatir"
"Yakin udah sehat?"
"Udah ma, tadi Rio udah ke dokter juga" bohong pria itu lagi.
"Ya udah, cepet istirahat. Jangan lupa makan"
"Iya ma"
Pagi hari
Rio nampak masih duduk menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Pria itu merasakan perut atas bagian kanannya terasa nyeri.
"Arghh ya tuhan" desis Rio menahan sakitnya.
Pria itu menelpon sahabatnya agar datang ke apartemennya.
"Kenapa? Tumben pagi pagi telpon" sajut Al dari seberang.
"Bantu aku kerumah sakit, perutku sakit sekali" ucap Rio masih tenang.
"Iya aku akan kesana"
Beberapa menit kemudian Al sudah sampai.
"Aku harus apa?" Al bingung karna tak pernah merawat sahabatnya itu.
"Tolong ambilkan salah satu bajuku di lemari"
"Untuk apa?" Tanya Al heran.
"Jangan banyak tanya, cepat!" Kesal Rio membuat Al menghembuskan napasnya kesal.
__ADS_1
"Ini" Al menyerahkan baju.
"Ri rio, kau..?" Al kaget melihat darah berceceran dilantai.
"Kau berniat bunuh diri ya?!" Tuduh Al.
"Ck, mana ada aku bunuh diri"
"Lalu ini darah apa?" Tunjuk Al.
Rio hanya diam tak menjawab. Ia lanjut membersihkan ceceran darah itu.
"Ayo kita ke rumah sakit saja" ajak Al.
"Tidak usah"
"Kenapa? Tadi kau meminta kerumah sakit"
"Tidak jadi, aku sudah lebih baik"
"Tidak usah, aku baik baik saja. Aku sudah minum obat tadi"
"Ck, kenapa? Kau takut aku mengetahui semuannya? Aku sudah tau semuanya" ketus Al.
"Ya sudah, makannya aku tidak mau. Aku malas"
"Ya sudahlah terserah kamu. Aku carikan makan ya?" tawar Al membut Rio mengangguk.
Beberapa saat kemudian Al datang membawa makanan.
"Sini biar aku saja" Al merebut sendok dari tangan Rio karna tangan pria itu bergetar.
"Lihatlah, baru menjadi calon duda saja sudah menyusahkanku begini. Bagaimana nanti kalau benar benar jadi duda?" Ledek Al.
"Ck kau ini, aku juga mana mau jadi duda" decak Rio kesal selalu diejek Al.
__ADS_1
Rio mengabari asistennya agar mengirimkan dokumen kantor ke emailnya.
"Dasar bodoh, kau masih sakit malah bekerja" umpat Al pada pria didepannya.
"Pekerjaanku banyak, jika bukan aku yang menyelesaikannya, siapa lagi?"
"Terserah kau lah"
Tak terasa 2 minggu berlalu, setiap hari Rio terbaring tak berdaya di kamarnya.
Al setiap pagi datang untuk mengantarkan makanan. Bahkan terkadang Zifa juga mengirimi pria itu makan siang.
Siang ini nampak Zifa mengantarkan makanan untuk Rio sesuai perintah suaminya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Kay?" Tanya Zifa pada Rio.
"Biasa saja"
"Maksudnya biasa seperti apa?"
"Tidak ada komunikasi?" tanya Zifa lagi.
Rio mengangguk
"Kau ini memang tak ada inisiatifnya. Setidaknya telpon atau kirimkan pesan. Tanyakan keadaanya dan juga Rean" kesak Zifa.
"Nomorku diblock"
"Oh pantas saja" ejek Zifa.
"Kau menertawaiku ya!" Kesal Rio.
"Enggak kok, lagain aku juga mau berterimakasih. Berkat kamu aku dan Al bisa seperti ini lagi. Kau saja rela merawat Al saat sakit tanpa minta imbalan. Dan ini saatnya aku membalas budi"
"Tidak usah, ini masalahnya beda. Saat itu kan memang kalian berdua sama sama saling ingin mempertahankan. Sedangkan aku berbeda. Jadi biarkan seperti ini saja"
__ADS_1
"Kau tidak kasihan dengan Rean. Bagaimana dia harus menanggung beban berat nantinya tanpa ada papanya" Zifa menyemangati.