
"apa kau benar benar mencintaiku Rio?"
"Kenapa? kau meragukanku?"
Kay hanya diam
"Jawab saja, aku hanya perlu jawabanmu" kekeh Kay.
Rio mengangguk yakin
"Aku memang sangat mencintaimu, tapi bukan berarti aku akan memaksamu berada disini" Rio mengusap lembut rambut Kay membuat wanita itu tak kuasa menahan air matanya.
"jangan gegabah, pikirkan matang matang. jangan sampai kau menyesal, aku sudah memberimu beberapa saran" lanjut Rio.
"tapi aku ingin tetap menjadi istrimu. maafkan aku, beberapa bulan lalu aku terlalu emosi" sesal Kay.
Rio tersenyum lembut
"Tidak apa apa, tidak usah dipikirkan. untuk hubungan kita, aku harap kau mempertimbangkannya lagi. lebih baik kau yang menggugatku daripada aku yang menggugatmu"
"kenapa? kau bilang kau mencintaiku tapi seolah olah kau memang menginginkan perceraian ini. apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" selidik Kay yang sudah hafal dengan watak suaminya itu.
"tidak ada, aku hanya tak ingin membuatmu kecewa. itu saja"
setelah beberapa hari berada dinegara itu, akhirnya Kay dan Rean kembali ke indonesia.
Tak dirasa hari hari berlalu begitu berat untuk Rio. 2 bulan berlalu sejak Rio mengatakan dengan jujur apa yang dialaminya.
Pria itu sudah terbaring lemah diranjang rumah sakit sejak satu bulan yang lalu. Ia sudah tak mampu beraktifitas apapun karna tubuhnya sudah benar benar memburuk.
__ADS_1
Dokter juga sudah angkat tangan. Beliau sudah mengusahakan mencari pendonor namun nyatanya tak semudah itu.
Golongan darah Rio yang langka membuat dokter kesulitan mengendalikan penyakit yang diderita pria itu.
Rio terdiam memandangi langit langit ruang rawat itu.
"Mama, Rio mau pindah perawatan ke indo saja ma" pinta pria itu.
"Kenapa?"
"Rio sudah bosan disini. Lebih baik di indo saja agar lebih mudah"
"Apanya? Sama saja. Disini lebih canggih. Kau pasti akan sembuh"
"Rio sudah lelah ma, mau ke indo saja" kekeh pria itu.
Mama Tasya dan papa Roni meminta dokter untuk memberi rujukan ke rumah sakit ternama di indo.
Di mansion Kay
"Cari nyonya Kay ya buk, pak?" Tanya seorang penjaga rumah yang tau betul siapa tamunya kali ini.
"Iya mbak"
"Silahkan masuk, nyonya sedang diruang tengah" Al dan Zifa memasuki rumah itu.
"Loh Al, Zifa. Tumben? Ada apa?"
"Ada keperluan sedikit"
__ADS_1
"Oh begitu, ayo duduk dulu"
Ketiga orang itu duduk
"Bagaimana proses perceraianmu?"
"Belum kulanjutkan, aku masih memikirkannya lagi. Lagipula aku belum berbicara langsung dengan Rio lagi. kabarnya dia akan pulang tapi aku masih belum tau kapan"
"Oh begitu, ngomong ngomong kau tau Rio dimana?"
"Tau, 2 bulan lalu aku mengunjunginya di negara A"
"Kau tau Rio sedang sakit?"
"Sakit? Sakit apa memangnya?"
"Oh tidak jadi" Zifa membatalkan ucapannya karna Kay belum mengetahui keadaan Rio.
"Sebenarnya ada apa?" Kay merasa ada yang ditutupi.
"Tidak ada apa apa, tenang saja. Oh ya selama 4 tahun bersama Rio apa kau menemukan kejanggalan aneh pada Rio?"
"Tidak ada, memangnya kenapa?"
"Oh begitu ya, tidak apa apa"
"Kalian ini sebenarnya kenapa? Aneh sekali" kesal Kay.
"Kau mau bertemu Rio kan?"
__ADS_1
"Mau, memangnya dia sudah pulang?"
"Sudah, dia sudah pulang. Kau mau melihatnya?" Tawar Zifa membuat Kay mengangguk.