
"Papa, sudahlah tidak usah dibahas lagi"
"Al.." papa Bryan mencoba mengintimidasi menantunya.
"Percayalah pa, semua akan baim baik saja"
"Kecuali hubunganku dengan Zifa" lanjut Al yang hanya mampu ia pendam sendiri.
"Kalau kau tak mengatakan yang sebenarnya, aku pastikan sore ini juga Zifa akan mengetahui keadaanmu" ancam papa Bryan.
"Paa.."
"Cepat katakan!!" Desak papa Bryan.
"Aku melakukan tlasplatasi ginjal pa" pengakuan Al kembali mengagetkan paruh baya itu.
"Tlans,, transplatasi ginjal?" Papa Bryan kaget.
Ia menyingkap baju menantunya yang jelas terlihat luka jahitan diperut pria itu.
"Apa yang terjadi sebenarnya?!"
"Tidak apa apa pa, doakan saja Al cepat sehat"
Papa Bryan menghembuskan napasnya kasr karna tau menantunya sangat sulit mengatakan yang sebenarnya.
"Kau berselingkuh dari Zifa?" Papa Bryan merendahkan nada bicaranya.
"Papa tau betapa aku mencintai Zifa. Mana mungkin aku menduakannya"
"Sudahlah, aku pusing dengan permasalahan kalian"
"Pa, boleh kuminta sesuatu?"
"Apa?"
__ADS_1
"Katakan saja pada Zifa untuk mengangkat telponku. Biar nanti aku sendiri yang menjelaskan padanya. Dan juga jangan katakan apapun tentang kondisiku pada Zifa. Aku pasti akan mengatakan padanya. Tapi nanti, setelah semuanya telah membaik"
"Lalu bagaimana jika yang terjadi diluar kendalimu?" Papa Bryan mengintimidasi.
Al tersenyum lembut
"Jika itu memang jalan yang diberikan Tuhan, aku bisa apa? Aku hanya meminta agar papa menjaga Zifa untukku. Nanti bila sudah saatnya, aku akan kembali menjemputnya. Tapi jika waktu itu tidak pernah ada, aku harap papa mencarikan seseorang yang mencintai Zifa lebih dari aku mencintainya"
Papa Bryan menghembuskan napasnya kasar.
Ia harus mencari tahu semuanya. Walau nyatanya ia tau informasi tentang Al pasti sudah ditutup rapat.
"Baiklah jika itu keputusanmu. Aku hanya berharap kau bisa menyimpannya dengan rapi"
"Pasti pa"
Keesokan harinya papa Bryan kembali ke indo karna memang ada tanggung jawab pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan begitu saja.
"Bagaimana pa?" Pertanyaan mama Mia menyambut kedatangan suaminya itu.
"Sebaiknya kita bicara dikamar saja"
Kedua paruh baya itupun menuju kamar
"Beneran Al selingkuh?" Tanya mama Mia tidak sabaran.
"Maaf ma, kemarin hampir saja papa membunuhnya"
"Maksudnya? Al beneran selingkuh?" Mama Mia menduga.
"Bukan"
"Lalu apa?"
Papa Bryan pun menceritakan semuanya pada sang istri tanpa ditutupi sedikitpun.
__ADS_1
"Jangan katakan apapun pada Zifa. Katakan saja agar dia mengangkat panggilan telepon Al"
Mama Mia mengangguk mengerti
"Jangan menangis, Al dan Zifa pasti akan baik baik saja nantinya" papa Bryan mengusap air mata istrinya itu.
"Tapi bagaimana jika cucu kita benar benar terlahir tanpa dady nya?" Mama Mia tersedu.
"Percayalah, Al pasti bisa menghandle semuanya"
Setelah selesai berbicara, mama Mia menghampiri sang putri yang sedang merenung dihalaman belakang.
"Zifa" panggil mama Mia membuat sang empu menoleh.
"Iya ma"
"Kamu kenapa?"
"tidak apa apa"
"Jangan terlalu difikirkan, mama yakin Al tidak seburuk itu"
"Haruskah aku memberikan kesempatan lagi untuknya ma?"
"Aku lelah ma" cicitnya pelan.
Mama Mia hanya diam bingung bagaimana harus bertindak. Karna bagaimanapun ini masalah pribadi anak dan menantunya.
Beberapa hari berlalu,
Al sudah genap 15 hari berada di negara x
Sudah berapa puluh kali Al mencoba menghubungi sang istri namun tak ada jawaban.
Diruang keluarga
__ADS_1
"Ma, Zifa ingin berpisah baik baik dengan Al" lirih Zifa pada sang mama.