Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Permohonan Kayla


__ADS_3

"Berpura puralah mencintaiku. Aku tau selamanya kau tak akan bisa mencintaikum maka dari itu berpura puralah untuk beberapa waktu kedepan. Setidaknya sampai anak kita terlahir dengan sehat"


"Kenapa?"


"Entah kenapa akhir akhir ini aku kurang bisa mengendalikan perasaanku sendiri. Aku selalu ingin meratapi hal hal tidak penting yang membuat tubuhku drop. Setidaknya beri aku sedikit waktu dan perhatianmu walau hanya berpura pura"


"Kay,," tatapan Rio meneduh. hatinya ikut sakit mendengar keluhan istrinya.


"Apa kau bisa melakukannya untukku? Tidak lama, hanya 3 bulan kedepan. Setidaknya sampai aku bisa memastikan anak kita akan baik baik saja"


"Aku akan melakukannya" Rio memeluk istrinya.


Setelah beberapa saat Rio melepas pelukan itu,


Ia menangkup wajah istrinya yang pucat.


"Kau sakit lagi? Kenapa wajahmu pucat?" Tanya Rio.


"Emm tadi aku sempat drop lagi"


"Sudah panggil dokter?"


"Tadi aku pingsan dikantor, jadi langsung kerumah sakit"


Mata Rio membola


"Kenapa tak ada yang memberitahuku" kesal Rio.


"Tidak apa apa, hanya drop biasa. Anak kita juga baik baik saja"


"Bukan hanya tentang anak kita saja. Kau juga harus dalam keadaan baik" perhatian yang diberi Rio membuat hati Kay berdesir. Walau kenyataannya dia tau itu hanya pura pura.


"Tidak apa apa, aku sudah baik baik saja"


"Istirahatlah, sudah malam" Kay mengangguk.


"Sebentar" Rio mencekal tangan Kay yang hendak berjalan menuju ranjang.


"Kenapa?"


"Jangan tidur dulu, tunggu aku mandi sebentar" pinta Rio membuat Kay mengangguk meski ragu.


Rio langsung bergegas mandi


Setelah Selesai mandi, pria itu tersenyum melihat istrinya bersandar di kepala ranjang.


"Sudah?" Tanya Kay.


Rio mengangguk lalu ikut naik ke ranjang,


"Ehh kau belum pake baju" kesal Kay karna suaminya hanya menggunakan handuk.


"Ya karna memang aku tak membutuhkannya"


Mata Kag membulat sempurna karna tau apa yang dimaksud Rio.


"Rio, baru tadi siang kita melakukannya. Apa kau tidak bosan?" Kay heran.


"Tidak ada kata bosan untuk ini" Rio langsung memulai aksinya.


"Rio, aku mohon aku lelah sekali hari ini" pinta Kay mememohon tak membuat Rio mundur begitu saja.


"ayolah, hanya sebentar"


"Kau tidak kasihan denganku?" Kay mengiba namun tak digubris pria itu.


Ditengah permainan

__ADS_1


"Rio, udahhh" pinta Kay karna entah kerasukan darimana. Ini sudah ke sekian kalinya membuat Kay tak berdaya.


"Sedikit lagi"


"Rio, aku ini sedang hamil" protes Kay saat suaminya mulai tak terkendali.


"Iya, aku akan pelan pelan"


Setelah beberapa waktu akhirnya Rio mengakhiri permainannya.


Ia memeluk tubuh polos istrinya dan mengusap usap perut buncit wanita itu.


"Kau lelah?"


Kay mengangguk lemas


"Maafkan aku"


Rio terus mengusap perut buncit itu,


"Anak kita banyak bergerak. Sepertinya dia senang diusap papanya"


"Ya pasti dia senang karna papanya jarang mengusapnya bahkan sekedar berbicara saja tidak pernah" sindir Kay.


"Ya, mulai besok aku akan mengusapnya setiap malam"


"Tidak perlu, mamanya masih sanggup untuk mengusapnya"


"Tapi sepertinya dia senang dikunjungi papanya"


"Diamlah!" Kay malu sendiri.


"Rio, mundur sedikit" pinta Kay kala merasakan benda itu mulai kembali bangun.


"Kenapa?"


"Kau tidak nyaman? Bahkan kau saja selalu berteriak memanggil namaku ditengah percin taan kita" goda Rio.


"Diam!"


"Iya iya aku diam"


"Rio, kau..."


Ahhh


Suara Kay tercekat saat merasakan benda itu kembali masuk.


"Rio, kenapa memasukannya lagi. Aku lelah"


"Hanya sebentar" ucapan Rio yang satu ini paling tidak bisa dipercaya.


Setiap Rio mengatakan hanya sebentar nyatanya berlangsung lama.


"Rio, sudahh udahh" tangis Kay pecah merasakan badannya remuk semua.


"Oke oke udah, maaf" Rio segera menghentikan permainannya itu.


"Maaf" sesal Rio lagi.


Kay langsung terlelap merasakan badannya sakit semua.


Pagi hari,


"Kay, bangun. Udah pagi"


"Eummm" Kay mengerjapkan matanya bangun.

__ADS_1


Kay duduk diranjang sambil meringis kesakitan dengan tangan menarik selimut menutupi tubuhnya yang masih polos.


"Kenapa? Sakit ya?"


Kay mengangguk pelan


"Mana yang sakit?"


"Badanku rasanya remuk dan 'itu ku sakit"


"Benarkah?" Tanya Rio memastikan.


Pria itu mendekat hendak melihat milik istrinya.


"Ehh kau mau apa?!" Pekik Kay kaget.


"Aku mau melihatnya"


"Tidak mau" tolak Kay.


"Kau malu?"


"Iya lah, aku masih waras" kesal Kay.


"Ya udah, ayo aku bantu mandi"


"Tapi,"


"Tidak usah malu, aku sudah terbiasa melihat tubuhmu" ucapan Rio membuat Kay kesal.


Setelah selesai mandi, Kay memakai pakaiannya.


"Ayo sarapan kebawah"


Kay mengangguk,


Ia melangkah perlahan merasakan intinya terasa perih belum lagi badannya terasa remuk semua.


"Masih sakit?"


"Udah tau pake nanya" sewot Kay sebal.


"Mau aku gendong?"


"Nggak ah"


"Ya udah ayo" Rio merengkuh pinggang wanita itu.


Sesampainya dimeja makan


"Kamu kenapa kok jalannya gitu?" Tanya mama Tasya heran.


"Hehe, nggak papa ma. Cuma kesleo tadi" bohong Kay.


Mama Tasya tak percaya begitu saja. Ia menelisik tubuh menantunya dari bawah sampai atas.


"Ya ampun Rio, kamu apain istrimu sampek kayak gini" mama Tasya kaget melihat banyak tanda merah dileher dan didada menantunya.


Ia sudah bisa menebak yang terjadi sebenarnya antara 2 manusia itu.


"Hehe, kebablasan ma" jawab Rio tersenyum kikuk.


"Kamu kan udah tau istrimu lagi kurang sehat malah kamu paksa gitu. Kalau terjadi apa apa gimana" omel mama Tasya.


"Iya ma, nanti Rio nggak ulangi lagi"


"Halah, omongan kamu itu udah nggak bisa dipercaya sama sekali. Dulu pas hamil pertama kamu juga gini kan" sindir mama Tasya membuat pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

__ADS_1


__ADS_2