
"Nggak kok yang, bagus itu" jawab Al meski sebenarnya ia sedikit kurang setuju jika istrinya memakai celana yang menampakan lekuk tubuh istrinya itu.
Zifa kembali memandangi penampilannya ke cermin.
Ia menghembuskan napasnya lalu segera kembali ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya dengan dres selutut.
"Loh, kok ganti lagi yang?" Tanya Al heran saat melihat penampilan baru istrinya.
"Aku nggak pd pake celana" jawab Zifa jujur.
"Ya udah, gini aja malah tambah cantik" ucap Al lalu menyelipkan anak rambut istrinya ke belakang telinga.
"Hug me" Zifa merentakan tangannya.
"Dengan senang hati my princess" Al memeluk tubuh istrinya yang mulai berisi itu.
Ia menghirup dalam aroma shampo istrinya lalu mengecupi kepala itu berkali kali.
"Ya udah yuk berangkat. Kan udah buat janji sama dokternya. Kasian kalo kelamaan nunggu" Zifa mengangguk mengiyakan.
Dimobil
Zifa bersandar sambil mengusap perutnya. Beberapa kali ia menoleh kearah Al yang sedang menyetir mobil.
"Tuhan, semoga dengan keputusanku ini bisa membuat rumah tanggaku menjadi lebih baik" batin Zifa terus saja menatap Al.
"Kenapa? Hmm? Tumben" tanya Al.
"Nggak papa"
"Aku tau kok kalo aku ganteng" Al pd.
__ADS_1
"Dihh pd banget pak Al" celoteh Zifa.
"Harus pd dong yang, kalo nggak ganteng mana mau kamu aku ajak buat anak" ceplos Al yang langsung mendapat hadiah pukulan dilengannya.
"Al ih ngomongnya messsum banget. Malu sama anak" kesal Zifa mengusap perutnya.
"Malu gimana to? Ya kalo kita nggak buat ya dia nggak bakal ada"
"Al ih, bikin badmood aja!" Zifa semakin kesal dengan suaminya itu.
"Enggak enggak sayang, cuma bercanda aja kok"
"Bodo" cuek Zifa.
Al menepikan mobilnya
"Sayang, jangan marah dong" Al memegang lengan istrinya.
"Sayang, nanti dedek nya ikut kesel lo sama daddy nya" Al mengusap perut istrinya.
"Tuh, anak kita nendang nendang. Berarti artinya dia nggak suka kalo kamu marah sama aku. Iya kan boy" Al terus saja mengusap perut buncit istrinya.
"Siapa bilang? Dia anakku, berarti dia tim ku" bantah Zifa.
"Heh, siapa bilang dia tim mu? Tanpa aku dia nggak mungkin ada, jadi dia timku" kilah Al tak mau kalah.
"Ya tapi tetep aja tanpa aku dia juga nggak mungkin ada" Zifa membalas ucapan suaminya.
"Ya udah berarti tim kita berdua" Al mengalah.
"Terserah" cuek Zifa lagi.
__ADS_1
"Udah lah yang, jangan marah ya?" Al mengusap pipi wanita itu.
"Ya ya ya?" Rayu Al lagi.
"Hemm" Zifa menganggukkan kepalanya.
"Beneran yang?"
"He em" Zifa kembali menganggukan kepalanya.
Cup
Al mengecup sekilas bibir istrinya lalu segera kembali melajukan kendaraannya.
Beberapa saat kemudian mobil sudah sampai dipelataran rumah sakit.
Al dan Zifa langsung menuju ke ruangan dokter kandungan.
"Jadi gimana dok? Aman nggak kalau perjalanan jauh?" Tanya Al tak sabar.
"Aman pak Al. Selama kondisi badan nyonya Zifa fit dan tidak merasakan kram maka perjalanan jauh aman aman saja. Namun perlu diperhatikan agar tidak terlalu kelelahan karna bisa berakibat buruk pada janinnya"
"Iya dok"
Setelah konsultasi, Al dan Zifa langsung pulang kerumah guna mengistirahatkan diri sebelum perjalanan jauh sore nanti.
"Sayang, sini" Al menepuk bagian ranjang kosong sampingnya.
"Kenapa?" Tanya Zifa sembari mendekat.
"Aku pengen ngelus elus anak kita aja" jawab Al tersenyum.
__ADS_1