
Rio tersenyum,
"Dia sudah mulai menendang" ucapnya mendapat beberapa tendangan dari anaknya.
"Ya, dia memang sudah mulai menendang"
Kay ikut tersenyum.
"Tunggu dulu, bagaimana bisa hamil? Bukankah dokter belum sepenuhnya memperbolehkan?" Walaupun Rio jarang mengantarkan istrinya kontrol kesehatan namun sedikit banyak ia tahu bahwa dokter belum sepenuhnya mengizinkan Kay hamil.
"Ya karna aku menginginkannya" jawab Kay enteng.
"Astaga, kau ini selalu bentindak ceroboh tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu. Aku tidak suka dengan caramu seperti ini" omel Rio.
Sebenarnya Rio memang tidak terlalu buru buru ingin memiliki anak walaupun usianya sudah hampir 27 tahun. karna ia sadar istrinya tidak sedang dalam kondisi baik.
Apalagi dokter pernah mengatakan agar Kay hamil setelah 2 tahun melakukan operasi agar lebih aman.
"Apa resikonya?" Selidik Rio karna tau betul istrinya pasti mengambil resiko besar.
"Tidak ada yang besar, hanya seperti ini saja"
"Tidak mungkin" sanggah Rio karna tau betul istrinya pasti menyembunyikan sesuatu.
"Sungguh, tidak ada" Kay meyakinkan.
"Biar aku sendiri yang mencari tahu"
Kay hanya diam, lagipula kalaupun suaminya tau resikonya memangnya apa yang bisa dia buat.
Tidak mungkin kan dia akan menghilangkan darah dagingnya sendiri. Paling suaminya hanya lebih protektif saja terhadapnya.
"Istirahatlah, aku mau keruangan dokter dulu" Rio mengusap puncak kepala istrinya kalu beranjak keluar dari ruang rawat itu.
Ceklek
Mama Tasya dan papa Roni menoleh mendengar pintu dibuka.
"Bagaimana? Kay baik kan?"
"Mama sama papa apa apaan, kenapa tidak memberi tahu kalau Kayla hamil?" Kesal Rio pada kedua paruh baya itu.
"Kayla sendiri yang memaksa tidak ingin memberitahumu karna akan memberi surpzise. Mana tau kalau kejadiannya bakal kayak gini"
"Ya tetap saja, bagaimana kalau terjadi sesuatu. Bayangkan hari ini aku tidak pulang, bukankah akan lebih memalukan aku suaminya tapi tak mengetahui apa apa" kesal Rio.
"Sudahlah, lagipula kau juga sudah tau kan"
Rio menghela napasnya berat
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya mama Tasya melihat putranya berjalan menjauh.
"Mau keruangan dokter untuk menanyakan kondisi Kay secara detail"
Rio terlihat lesu setelah keluar dari ruangan dokter itu.
"Kenapa?" Tanya Kay heran.
"Yang harusnya bertanya pendapat padaku dulu, kenapa kau mengambil keputusan sebesar itu sendirian. Apa sulitnya menunggu 2 tahun" kesal Rio pada istrinya.
Mungkin kekesalan pria itu tak akan habis sebelum melihat anaknya terlahir dengan selamat dan istrinya dalam keadaan sehat.
Kay hanya diam malas berdebat karna kepalanya masih terasa sakit. Setelah 5 hari dirawat dirumah sakit, akhirnya Kay diperbolehkan pulang.
"Rio, aku ini sudah sehat" protes Kay karna suaminya merengkuh pundaknya masuk ke dalam kamar.
"Tidak apa apa, aku takut kau terpeleset lagi" ucapan Rio membuat Kay mengingat putrinya yang telah tiada.
"Maaf, aku tidak bermaksud.."
"Tidak apa apa" potong Kay.
"Berbaring dulu, biar aku yang membereskan barang barangnya" ucap Rio membereskan beberapa pakaian kotor milik Kay.
Setelah beberapa saat, pria itu ikut bergabung berbaring diranjang.
"Rio, jangan seperti ini" protes Kay karna suaminya malah memeluknya.
"Kenapa?"
"Kenapa risih? Aku kan suamimu" balas Rio tak mau kalah.
"Kau tidak bekerja?" Tanya Kay.
"Tidak"
"Why?"
"Aku sedang malas berangkat kerja hari ini"
Kay hanya diam malas menanggapi ucapan suaminya.
"Kenapa kau nekat mengambil resiko ini" Rio mengusap perut buncit itu.
"Resiko apa?"
"Jangan berpura pura tidak tau. Aku tau resiko dengan kehamilan kamu ini. Tidakkah kau sabar menunggu 1 tahun lagi agar lebih aman"
"Rio" lirih Kay dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
"Kenapa? Jangan menangis aku tidak memarahimu" Rio mendekap tubuh mungil itu.
"Apa kau tidak sadar bahwa rumah tangga kita sudah tidak sehat?"
"Maksudmu?"
"Kau yang selalu memikirkan pekerjaanmu tanpa memperdulikan ku. Kau datang padaku hanya untuk menyalurkan hasratmu"
"Sayang, bukan seperti itu"
"Tapi aku merasa seperti itu. Kau berangkat pagi pagi dan pulang malam hari. Bahkan di week end yang seharusnya kau ada waktu denganku malah kau habiskan dengan bekerja juga"
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku memang benar benar sibuk dengan pekerjaan"
"Aku pikir dengan aku hamil pasti kau akan berubah"
Sura Rio tercekat bingung harus berkata apa.
"Sayang, bahkan aku tidak pernah berfikir agar kau hamil cepat. Yang kupikirkan hanya bagaimana caranya kau pulih dengan cepat"
"Tapi kau bahagia kan dengan kehadirannya?" Tanya Kay sambil mengusap perutnya.
"Aku bingung harus bahagia atau sedih. Disatu sisi aku bahagia karna akan kembali menjadi seorang papa. Tapi disisi lain ada resiko besar di hadapanmu. Aku takut terjadi sesuatu buruk denganmu"
"Kenapa kau memikirkan ku? Aku sendiri saja malas memikirkannya. Itu bukanlah hal penting untuk dipikirkan"
"Kenapa begitu? Kau sangat penting. Banyak orang yang menyayangimu termasuk aku"
"Aku menganggap diriku seperti itu, aku sudah terbiasa sendiri dari kecil. Dan kau tau aku tak selemah itu. Nyatanya aku bisa kembali bangkit dari keterpurukan ku yang lalu. Entah untuk kali ini aku mampu bangkit atau tidak"
"Maaf"
"Kenapa meminta maaf? Kau tidak ada salah disini. Ini memang takdir tuhan. Dan kuharap kau menyukai takdir tuhan ini"
"Terimakasih" Rio memeluk erat tubuh itu.
"Rio, bolehkah aku meminta sesuatu penting padamu?"
"Katakan saja, aku akan mengusahakannya"
"Entah ini penting bagimu atau tidak aku tidak peduli. Aku juga tidak peduli bahwa cintamu habis untuk siapa sampai tak tersisa setitik pun untukku. Tapi satu permintaanku.." Kay terhenti.
"Katakan, aku akan mengabulkannya untukmu"
"Cintai anak kita melebihi cintamu pada siapapun itu"
"Sayang, aku berjanji akan melakukannya"
"Dan satu lagi" pinta Kay membuat Rio menatap dalam mata wanita itu.
__ADS_1
"Jangan panggil aku dengan panggilan palsu itu lagi. Aku sudah cukup terluka setiap mendengar panggilan 'sayang' itu padaku padahal kenyataannya kita tidak seharmonis itu"