Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Akhiri Saja


__ADS_3

"Bolehkah aku membawa anak kita pergi?"


"Maksudmu? Pergi kemana?"


"Rio, aku menyerah" lirih Kay.


"Kenapa menyerah? Menyerah tentang apa? Katakan dengan jelas"


"Akhiri saja rumah tangga ini"


"Kau jangan gegabah. Pikirkan baik baik, ini bukan tentang kita. Tapi juga tentang anak kita" Rio mengusap lembut kepala istrinya.


"4 tahun, apa masih kurang?"


"Aku masih berusaha, kenapa kau menyerah begitu saja?"


"Coba katakan padaku, mana usahamu. Dengan memberiku kepuasaaan di atas ranjang Rio? Apa menurutmu itu saja cukup? Hubunngan kita terlalu dingin untuk disebut sebagai suami istri. Aku sudah lelah"


"Jangan seperti ini, ayo kita perbaiki bersama. Katakan mana yang salah, biar aku yang memperbaikinya"


"Coba kau ingat, berapa kali kau mengatakan akan memperbaiki semuanya. Setiap aku mengeluh kau selalu menjawab dengan jawaban yang sama. Tapi apa kenyataannya, kita tetap sama kan?" Senyum Kay seolah menggambarkan luka yang begitu dalam.


"Aku tidak mau berpisah sampai kapanpun aku tidak mau" tolak Rio.


"Kenapa? Kau takut jika kau sulit mendapatkan wanita lain hanya karna statusmu duda?"


"Tidak, bukan itu. Aku hanya mau kamu, kita perbaiki semuanya. Jangan berbicara hal sampah seperti itu" Rio mengusap rambut istrinya berusaha untuk tetap tenang.


"Berapa lama lagi kita akan terus seperti ini? Dengan hubungan yang tak tau kemana arah tujuannya. Hubungan kita penuh kegelapan, semua terlihat terang karna ada anak. Sampai kapan aku menunghu lagi? 7 tahun, 10 tahun, 20 tahun? Atau bahkan sampai diantara kita telah tiada?"


"Jangan berbicara seperti itu, ayo bicara dengan kepala dingin"


"Kepala dingin? Tidakkah kau melihat wajahku yang penuh dengan senyum ini Rio? Tidak ada amarah diwajahku"


"Iya,, tapi.."


"Jangan banyak bicara. Cukup jawab, setuju atau tidak dengan perpisahan kita"


"Tidak setuju, aku sangat tidak setuju!" Kesal Rio.

__ADS_1


"Kenapa? Beri aku alasan"


"Kita sudah memiliki anak, bagaimana dengan anak kita?"


"Kita bisa merawatnya bersama. Itu hanya alasan klasik saja"


Rio terdiam sambil berfikir keras


"Jangan mendekatiku lagi sampai kau menemukan alasan yang tepat untuk tidak berpisah. Jika sampai sepuluh hari kedepan kau tak menemukan alasannya, jangan salahkan aku jika akan mengundangmu ke pengadilan agama" ucap Kay lalu keluar dari kamar.


Wanita itu lebih memilih tidur dikamar putranya yabg ketaknya tepat disamping kamar utama.


Kay memandangi wajah putranya yang terlelap itu.


"Mama bingung harus bagaimana" gumam Kay mengusap wajah tampan putranya.


5 hari berlalu,


Rio merasa ada sebagian jiwa nya yang hilang. Hatinya seakan kosong entah apa penyebabnya.


Istrinya selalu menghindarinya seperti saat sore ini.


Rio baru saja selesai mandi setelah seharian bekerja.


Baby Rean yang baru belajar berjalan itu nampak berjalan pelan menghampiri papanya yang berjalan ke arah anak itu.


"Uluh uluh, anak papa udah ganteng banget sih" Rio mengangkat tubuh putranya membuat bayi itu tertawa lepas.


"Papa"


"Iya, papa sudah pulang. Ayo main sama papa" Rio ikut duduk di samping istrinya dan mendudukan putranya.


Kay beranjak berdiri hendak meninggalkan dua pria itu.


"Kemana?" Tangan Rio mencekal oergelangan tangan istrinya.


"Ke dapur" jawab Kay singkat sambil melepas cekalan tangan Rio.


"Duduk dulu, kita temani Rean bermain"

__ADS_1


"Aku belum masak" jawab Kay datar.


"Ada maid, kenapa harus repot repot"


Kay hanya diam meninggalkan dua pria itu.


Beberapa saat kemudian jam makan malam


Semuanya nampak hening. Para maid juga menyadari perubahan sikap tuan dan nyonya nya itu namun mereka memilih bungkam.


Ke esokan harinya,


Rio berangkat kerja seperti biasanya setelah mengajak putranya jalan jalan pagi.


Kay mengambil sebuah tas kecil lalu memasukan beberapa peralatan putranya dan juga dompetnya.


"Ayo kita jalan jalan sebentar bareng mama" ucap Kay pada putranya.


Kay meninggalkan handphone dan segala benda yang berpotensi bisa dilacak oleh Rio.


Wanita itu juga meninggalkan sepucuk surat kecil di atas nakas.


Kay menumpangi taksi menuju rumah papa angkatnya, papa Bryan.


"Oh ya ampun. Kau datang nak, sini cucu opa" papa Bryan yang memang sudah tidak bekerja itu langsung menggendong baby Rean.


"Kamu kesini sama siapa?" Tanya mama Mia mendekat.


"Naik taksi ma"


"Kok pakek taksi? Emangnya nggak ada supir?"


"Ada ma, cuma Kay nggak pengen Rio tahu aja kalau Kay kesini. Kalau pakai supir kan nanti Rio gahu"


"Kamu kabur dari rumah?"


"Enggak kabur ma, cuma mau nenangin diri bentar"


"Kamu ada masalah sama Rio? Selesaikan baik baik dirumah jangan asal keluar rumah. Nggak baik" tutur mama Mia menasehati.

__ADS_1


"Kayla udah nggak kuat ma disana. Lebih baik Kayla hidup berdua aja sama Rean"


"Kenapa? Coba cerita pelan pelan"


__ADS_2