Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Tindakan


__ADS_3

"Sudah jangan menangis, maafkan aku. Aku hanya sedang berusaha mencoba memperbaiki semuanya. Terutama rumah tangga kita. Aku harap kau bisa mengerti aku, begitupun sebaliknya"


Kay mengangguk lemah


Rio memeluk raga rapuh itu


"Aku menyayangimu dan anak kita. Aku berjanji akan memberikan yang terbaik untuk kalian berdua" Rio menciumi puncak kepala istrinya.


Setelah dirasa cukup, Rio melepaskan pelukan itu. Ia mengusap punggung tangan Kay yang masih tertancap selang infus.


"Rio, aku tidak mau melahirkan prematur" ucap Kay kesekian kalinya.


"Kayla, kamu jangan egois. Anak kita didalam pasti juga sedih melihatmu seperti ini"


"Tapi aku tidak mau" lirih Kay.


"Besok kita kontrol kerumah sakit. Aku ingin tau semuanya dengan detail"


"Tapi.."


"Tidak usah takut, ada aku. Semuanya pasti bakal baik baik aja. Aku juga sudah mendapatkan donor ginjal untukmu"


Kay menatap manik suaminya


"Terimakasih"


"Boleh aku memanggilmu dengan panggilan lain?" Tanya Rio hati hati.


"Panggilannlain?" Tanya Kay bingung.


"Seperti 'sayang' contohnya" wajah Rio memerah.


Kay mengangguk


"Boleh"


"Aku ingin menumbuhkan rasa cinta diantara kita. Aku harap kau mengerti"


Kay mengangguk


"Istirahatlah, besok kita kedokter"


Perlahan Rio ikut berbaring sambil mengusap perut istrinya.


"Anak papa jangan nyusahin mama ya. Nanti papa cari jalan keluar dulu biar kita bisa kumpul sama sama"

__ADS_1


Pagi hari,


Terlihat Kayla masih menutup matanya tepat saat Rio keluar dari kamar mandi.


"Sayang, bangun" Rio membangunkan istrinya dengan panggilan barunya itu.


Kay mengerjapkan matanya bangun


"Mandi dulu gih"


Kay bangun dari pembaringannya.


Sejenak dia terdiam,


'bagaimana caranya mandi kalau aku masih pakai infus gini?' batinnya.


"Kenapa?" Tanya Rio melihat istrinya bengong.


"Aku tidak bisa mandi"


"Kenapa?"


"Kalau infusnya kena air gimana? Lagian kan infusnya harus diatas"


"Biar aku yang pegang infusnya"


"Kenapa? Malu?"


Kay mengangguk


Nampak pria itu menghela napasnya kesal


"Kenapa harus malu? Kita sudah sering melakukannya" ucapan Rio membuat pipi Kay bersemu merah.


Memang benar, setiap Rio pulang dari luar negeri pasti Rio meminta 'nya.


"Rio, tapi tetep aja aku malu"


"Ya udah ditahan dulu malu nya. Masak ke dokter nggak mandi dulu"


Akhirnya mau tidak mau Kay mengiyakan.


Setelah selesai, Rio juga membantu istrinya untuk berpakaian.


"Sayang, kau semakin kurus" ucap Rio menatap sendu badan Kay.

__ADS_1


"Kurus? Enggak kok biasa aja" kay menyangkalnya.


"Jangan menyembunyikan apapun dariku. Tanpa kau katakan aku tau apa yang kau rasakan selama ini. Jadi berhenti untuk terlihat baik baik aja. Ada aku yang siap jadi pendengar keluh kesahmu. Aku ingin kau juga menganggapku sahabat, bukan seperti ini. Hubungan kita dingin seolah olah tidak ada interaksi antara kita berdua"


"Lain kali aku akan menceritakan semua padamu"


Tok tok tok,,


Pintu kamar Rio diketuk


Ceklek


Ternyata adalah seorang perawat yang datang untuk mengecek kondisi Kay.


"Keadaan nyonya Kay sudah membaik. Infusnya bisa dilepas tapi nyonya Kay harus kerumah sakit untuk mengambil hasil tes kemarin" ucap perawat itu lalu melepas infus ditangan Kay.


Rio mengiyakan ucapan perawat itu.


"Makan dulu ya?" Tawarnya saat perawat itu sudah keluar dari kamarnya.


"Makan dibawah aja sekalian kerumah sakit"


"Yakin?" Tanya nya diangguki Kay.


Mereka pun ke lantai bawah menuju meja makan.


" Rio, kamu gimana sih?! Istrimu wajahnya masih pucet malah disuruh capek capek turun kebawah. harusnya kamu yang turun bawain makanan buat istrimu" omel mama Tasya.


"Kay sendiri ma yang pengen makan dibawah. Lagian habis sarapan kita mau langsung kerumah sakit ambil hasil pemeriksaan"


"Huhh ya udah terserah kalian" mama Tasya pusing memghadapi dua manusia didepannya itu.


Di ruangan dokter,


"Gimana dok?" Tanya Rio tak sabaran.


Dokter itu menghela napasnya membuat Rio cemas dengan kenyataan didepannya.


"Seperti yang saya katakan sebelumnya, nyonya kayla tidak dalam kondisi baik. Dan kini janin nya mulai terpengaruh. Mau tidak mau tetap harus melahirkan prematur demi keselamatan janin nya juga. Jika tidak segera ditangani, ditakutkan terjadi hal buruk pada janinnya karna kondisi nyonya Kayla sangat mempengaruhi perkembangan janin"


Tangis Kayla mulai pecah


"Sayang, jangan seperti ini. Semuanya pasti baik baik saja. Percayalah"


"Rio, aku mau dia terlahir sehat dan sempurna. Bagaimana aku bisa tega jika nanti aku melihatnya berada di inkubator dengan selang penunjang kehidupan menempel ditubuhnya"

__ADS_1


"Sayang, jangan pesimis seperti ini. Semua demi kebaikanmu dan anak kita. Kau harus segera sehat, begitu pula anak kita. Kalian berdua sama pentingnya" Rio menenangkan istrinya.


"Lalu kalau mau ambil tindakan kelahiran prematur harus berapa bulan dok? Istriku tidak setuju jika melahirkan di usia 30 minggu"


__ADS_2