
"Ohh, bagaimana perkembangan perusahaanmu?" Tanya papa Bryan membuka obrolan.
"Lumayan pa, tapi mulai besok Al sudah masuk kerja karna sudah banyak pekerjaan yang terbengkalai"
"Apa kau tidak merencanakan untuk berbulan madu?"
"Belum pa, mungkin nanti kalau waktunya sudah tepat. Papa tau kan maksud Al?"
Bryan mengangguk mengerti maksud ucapan sang menantu.
"Yang terpenting jangan sampai kau menelantarkan putriku dengan alasan pekerjaanmu. Bagaimanapun dia sekarang sudah menjadi tanggung jawab dan prioritasmu" papa Bryan menepuk pundak menantunya.
"Iya pa, pasti"
"Ahahah, aku masih tidak menyangka. Kau pria tampan yang berkharisma bisa bersikap lembut seperti ini" tawa papa Bryan pecah.
"Itu dilingkungan pekerjaan pa, kalau dirumah pasti aku memposisikan diriku sebagaimana mestinya" Al melebarkan senyumnya.
"Papa, nak Al, ayo sarapan dulu" ajak mama Mia.
Kini semua keluarga ada diruang makan kecuali Zio.
"Kak Zio mana ma?" Tanya Zifa kala tak melihat sang kakak.
"Dia sedang pergi keluar sebentar tadi, mungkin sebentar lagi pulang" jawab mama Mia yang diangguki Zifa.
__ADS_1
"Maaf terlambat" Ucap Zio yang baru saja datang dan langsung duduk dikursinya.
"Tidak apa apa, cepat ambil sarapanmu nak" mama Mia berucap dengan lembut.
"Ma, pa, setelah ini Al akan mengajak Zifa pindah ke mansion Danendra. Mungkin beberapa bulan lagi kita baru pindah kerumah milik Al sendiri karna saat ini sedang tahap renovasi" Al membuka suara.
"Iya Al yang penting kau tidak lupa pesan papa tadi"
"Iya pa, Al tidak akan melupakannya"
"Oh ya, mama juga titip pesen. Kalian juga harus selalu akur, jangan juga terlalu gila kerja biar mama sama papa cepet dapet cucu. Dari siapa lagi mama meminta kalau tidak dengan kalian. Zio saja sampai sekarang belum mau menikah, entah apa yang ditunggunya" geram mama Mia sambil melirik putranya.
"Uhukk uhukkk" Zio yang tersedak pun langsung mengambil minumannya.
"Mama bicara apa sih" kesal pria itu.
"Tidak perlu repot repot, Zio bisa mencari pasangan Zio sendiri"
Setelah selesai sarapan bersama, Zifa dan Al pamit untuk pindah ke mansion Danendra.
"Sini kubawakan kopermu" Al menarik lembut koper istrinya itu.
Sepanjang perjalanan, keduanya sama sama terdiam.
Mereka tenggelam dalam pemikiran masing masing.
__ADS_1
"Apa kita tidak ada rencana honeymoon?" Al membuka suara.
"Cih, aku tidak sudi"
"Sayang, ayolah apa kau tak ingin hubungan kita sama dengan pasangan normal yang lain"
"Jangan harap!"
"Aku akan terus berusaha memperbaiki kesalahanku. Katakan jika aku salah, pukul aku atau maki aku tapi jangan bersikap dingin seperti ini"
"Aku tidak memerlukan perhatianmu" ucap Zifa lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.
Beberapa menit kemudian mobil telah memasuki sebuah mansion mewah bernuanta putih emas tak kalah megah dari mansion milik papa Bryan.
"Aa menantu mama udah sampai" mama Sofi menyambut menantunya dengan pelukan hangatnya.
"Ayo duduk disini dulu, biar Al yang membereskan barang barangmu" ajak mama Sofi.
30 menit kemudian, Al ikut duduk disamping istrinya.
"Sudah selesai Al?" Tanya mama Sofi.
"Sudah ma, kopernya sudah aku taruh di walk in closet"
"Ya sudah, bawa istrimu je kamarmu"
__ADS_1
Al menarik lembut tangan Zifa.