Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Berjuang Bersama


__ADS_3

"Sayang, kenapa menangis" tanya Al saat ciuman itu sudah terlepas.


"Aku bingung harus mengungkapkannya bagaimana. Aku sudah lega mengatakan perasaanku"


"Terimakasih sayang, sekarang dan selamanya aku pasti akan mencintaimu"


Ceklekk


Dokter memasuki ruang rawat Al.


"Tuan Al, ruang operasi sudah siap. Operasinya sudah bisa dimulai. Anda siap?"


"Iya dok, saya siap"


"Baiklah sebelum dimulai, mari berdoa untuk kelancaran prosesnya"


Setelah selesai,


"Sayang, aku akan berjuang" ucap Al sebelum ranjangnya didorong para suster untuk pindah ruangan.


"Sus sebentar" Zifa menghentikan langkah para suster tepat didepan ruang operasi.


Zifa mencium dalam dahi suaminya itu seolah menyalurkan rasa cintanya pada sang suami.


Cup


Zifa mencium sekilas bibir suaminya itu.


"Aku akan menunggumu, Dev juga pasti merindukan dady nya" Zifa meremas telapak tangan Al untuk menyalurkan semangatnya.


Dokter pun mulai memberi tindakan medis pada Al.


nampak Zifa mondar mandir tidak tenang sesekali mengintip pintu operasi itu walaupun sebenarnya ia tau tak akan melihat apapun.


Setelah melewati beberapa jam, akhirnya dokter keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana dok?" Tanya Zifa tak sabaran.


"Semua berjalan lancar. Kami memberikan obat khusus untuk tuan Al agar bisa beristirahat total. Mungkin beliau akan sadar esok hari"


"Baik dok terimakasih"


Dokter itupun meninggalkan Zifa. Tak lama kemudian ranjang Al didorong oleh suster untuk dipindahkan keruang rawat.


Akhirnya Zifa bisa bernafas lega setelah mendengar bahwa operasi suaminya lancar.


Walau nyatanya suaminya itu belum sepenuhnya keluar dari masalahnya. Perlu pemulihan jangka panjang untuk kesembuhan Al.


"Momy, Momy" seorang bocah laki laki berjalan berjalan mendekat kearah Zifa bersamaan dengan mama Sofi.


"Oh ya ampun, maafin mom sampe lupain kamu" Zifa meraih tubuh putranya lalu segera memangkunya.


"Mama, makasih udah bantuin Zifa jagain Dev" ucap Zifa tulus karna Dev baru saja diantar mama Sofi ke rumah sakit.


"Iya nggak papa, itu kasih asi buat anakmu dulu. dari tadi dia nangis terus nggak mau minum stok asi pake botol" lapor mama Sofi.


"Oh ya ampun anak momy" Zifa merasa iba melihat putranya itu.


"Momy minum" bocah itu menepuk nepuk dada momynya seakan memberi tanda bahwa bocah itu sedang haus.


"Iya sayang, Dev mau minum?" Tanya Zifa sembari membuka kancing bajunya.

__ADS_1


"Zif, menyusui didalam saja. Takutnya nanti banyak orang lewat" mama Sofi mengingatkan.


"Oh iya ma, Zifa sampe lupa" Zifa pun mengangkat putranya memasuki ruang rawat Al.


Ia duduk disalah satu kursi dan mulai menyusui putranya itu.


"Dev, akhirnya kita diberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan dadymu. Maafkan momy. Karna keegoisan momy membuatmu harus berpisah dengan dadymu" Zifa menciumi puncak kepala putranya itu.


setelah kenyang bocah itu kembali mengoceh.


"momy, dady tidul lagi?"


"iya, dady sedang sakit jadi dady istirahat. Dev jangan berisik ya kasian dady nya"


bocah itu mengangguk mengerti


"momy, Dev pengen tidul" rengek bocah itu lagi.


Zifa membaringkan putranya di ranjang yang sudah disiapkan dan mulai mengusap usap pelan kepala bocah itu hingga tertidur.


Ke esokan harinya,,


Zifa mengusap pipi suaminya sambil memangku putranya yang sedang menyusu padanya dengan mata yang hampir tertutup. entah mengapa bocah itu sudah mengantuk pagi pagi begini.


Semalam papa Bryan mengambil Dev ke rumah sakit karna semua keluarga sepakat membawa Dev ke apartemen karna tidak baik jika anak kecil berada dilingkungan rumah sakit.


Tak terasa mata Al mengerjap bangun.


"Al, kau sudah bangun?" Sangking senangnya sampai wanita itu tak sadar sumber asinya terlepas dari mulut sang putra.


"Eughhh hikss huaa momy" bocah itu mulai menangis karna kaget.


"Ohh sayang, maafin momy" Zifa kembali duduk tenang dan kembali menyusui putranya.


Al hanya menatap istri dan putranya itu.


"Sayang" lirih Al dengan suara lemasnya.


"Sebentar biar aku tidurkan Dev dulu" Zifa menidurkan putranya ke ranjang ruangan itu dan membatasinya dengan guling agar lebih aman.


"Al, kau sudah sadar? Mana yang sakit?" tanya Zifa khawatir.


"Tidak ada sayang, semuanya baik" Al tersenyum tipis.


Zifa langsung memeluk tubuh suaminya itu


"Baiklah, mulai sekarang kita harus berjuang bersama untukmu" Zifa mencium pipi suaminya itu.


air mata bahagia menetes begitu saja


"sayang, kenapa menangis?" tanya Al heran.


"ini tangisan bahagia"


Beberapa saat kemudian dokter datang ke ruang rawat Al diikuti anggota keluarga lainnya.


"Syukurlah, keadaan tuan Al sudah stabil. Masih memerluka perawatan sampai 2 minggu kedepan dan masih perlu pemulihan kurang lebih 4 bulan" terang dokter itu membuat Zifa bernafas lega.


"Baik dok terimakasih"


Semuanya nampak bahagia melihat Al sudah mulai membaik.

__ADS_1


"Aku ingin memeluk Dev" pinta Al.


Zifa pun mengangkat putra gembulnya itu lalu menidurkannya disamping sang dady.


"Semakin lucu putraku ini" Al mengusap pipi putranya yang masih terlelap itu.


"Akhir akhir ini dia terus menangis"


"Benarkah?"


"Iya, bahkan sejak kau pergi beberapa bulan lalu dia selalu mencarimu" jujur Zifa karna putranya selaku mencari dady nya.


Hati Al sedikit mencelos


"Maaf" cicit Al pelan.


"Tidak apa apa, tapi kumohon jangan berbohong tentang apapun itu. Jangan menyembunyikan hal sekecil apapun dariku. Aku istrimu, kau harus jujur tentang semuanya denganku"


Al mengangguk pelan


Tok


Tok


Tok


Pintu ruang rawat Al diketuk seseorang.


Papa Farhan yang kebetulan berdiri didekat pintu pun membukakan pintunya.


"Permisi semua" seorang gadis menyapa dengan suara cemprengnya.


"Oh ya ampun Kayla!!" Seru Zifa melihat sahabatnya datang menyusulnya.


Kayla segera memeluk sahabatnya itu


"Huhh kau ini kenapa jadi melow begini. Kita kan baru berpisah beberapa hari saja" omel Kayla karna memang selama Al tidak ada Kayla lah yang selalu menemani Zifa di malam hari.


"Aku hanya terharu saja, kau sudah seperti saudara bagiku" Zifa menghapus air mata yang menetes.


"Sudahlah, kita kan memang sudah bersama sejak kecil" Kayla menenangkan sahabatnya itu.


Mata gadis itu melirik ke arah asisten Rio yang masih berdiri diruangan itu sambil sesekali menatapnya.


"Sebentar aku ingin keluar membeli sesuatu" pamit Kayla.


"Baiklah"


Setelah sampau dipintu luar, Kayla menuliskan pesan pada asisten tampan itu untuk menemuinya direstoran depan rumah sakit.


"Permisi, aku harus pergi sebentar karna ada urusan mendadak" pamit asisten itu setelah melihat pesan yang dikirin Kaym


"Baiklah, hati hati" Al lah yang menjawab.


Asistennya itu sangatlah berjasa baginya. Tanpa Rio mungkin Al belum tentu masih bisa bernafas seperti hari ini.


Rio pun menemui Kayla di restoran yang disebutkan tadi.


"Ada apa kau memintaku kemari?" Tanya pria itu heran.


Kayla membuka tasnya

__ADS_1


Ia menyerahkan sebuah amplop coklat pada asisten itu.


__ADS_2