
"tidak akan, aku mencintamu. mana bisa aku melepasmu begitu saja" Rio memeluk tubuh istrinya erat.
Kay hanya mampu meneteskan air mata didalam dekapan hangat itu.
"kau janji tak akan meninggalkanku?" tanya Kay sekali lagi.
"aku janji, aku akan memperbaiki semuanya. aku ingin kita bahagia bersama" Rio juga ikut meneteskan air matanya mengingat perjuangan istrinya demi kesembuhannya.
"bagaimana jika aku sakit atau bahkan mati, apa kau akan meninggalkanku?"
"tidak, istriku hanya kamu. aku tak akan membiarkanmu terluka sedikitpun"
Kay tersenyum tipis
"kau menyembunyikan sesuatu?" selidik Rio.
"tidak, aku hanya bertanya saja" Rio kembali memeluk erat raga rapuh istrinya itu.
"aku mencintaimu. sangat, aku sangat mencintaimu. jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku" ucap Rio tulus.
"aku juga mencintaimu"
"kau harus percaya oadaku. sudah berapa kali ku katakan aku sangat mencintaimu. jadi jangan berfikiran yang tidak tidak"
keduanya larut dalam kebahagiaan mereka
"Rio, apa kau akan meninggalkanku jika aku melanggar ucapanmu?"
"belum tentu, tergantung mana yang kau langgar"
"jadi ada kemungkinan kau akan meninggalkanku?"
Rio hanya terdiam tak mempu menjawab
"ah, ternyata cintamu tak sebesar itu"
"Kay, bukan sepeerti itu. semuanya kan butuh penilaian"
"setelah aku mengatakan ini kau boleh mengambil keputusanmu"
"keputusan apa?"
"ya terserah, kau juga boleh melepasku atau bahkan membuangku"
hati Rio berdetak ceoat takut dengan ucapan istrinya itu.
"ayo katakan"
"a aku hamil"
"a apa?!" Rio kaget sampai matanya melotot.
"ah tidak apa apa, aku akan menerima semua konsekuensinya. ini memanng karna kecerobohanku"
"katakan sekali lagi Kay!" Rio mengguncang keras bahu istrinya.
"kumohon jangan menyuruhku untuk membunuhnya. dia anakku, jika kau tak mau mengakuinya biarkan dia tumbuh dan terlahir sehat. biar aku sendiri yang merawatnya" Kay menangis takut suaminya akan menyakitinya dan anaknya.
apalagi Kay ingat bahwa Rio pernah mengatakan tak ingin punya anak lagi selain Rean.
__ADS_1
Kay beringsut mundur menjauh dari suaminya takut Rio berbuat yang tidak tidak padanya.
"aku mohon jangan sakiti aku dana anakku" Kay menelungkupkan wajahnya diantara kedua lututnya.
"hei, kamu kenapa?" Rio menyadarkan istrinya itu yang terlihat ketakutan.
"jangan,," tangis Kay semakin pecah.
Rio memeluk raga istrinya itu.
"maafkan aku, aku hanya kaget saja tadi" peia itu mengusap punggung istrinya.
perlahan tangis Kay mulai reda
"kau tidak marah?" tanya Kay hati hati.
"bagaimana aku bisa marah? aku sedang bahagia, kita akan punya ank lagi" Rio menciumi puncak kepala istrinya.
"ka kau bebar benar tidak marah kan?" tanya Kay memastikan.
"enggak, beneran deh. aku bahagia banget" Rio kembali membawa istrinya ke dalam dekapannya.
"kau takut padaku?" tanya Rio membuat Kay langsung mengangguk.
"kenapa? aku tidak pernah memukulmu" Rio heran.
"tidak tau, intinya aku takut padamu"
"sudah berapa bulan?" tanya Rio mengusap perut istrinya.
"3 bulan"
"kau baru mengatakannya? kenapa tidak dari dulu?"
Rio hanya terkekeh pelan
"mana bisa aku marah, ayo lebih baik kita pulang sekarang"
Kay menggeleng
"tidak mau, aku masih ingin disini sampai sore"
"Baiklah kalau begitu" Rio mengangguk setuju.
"halo anak papa" Rio masih setia mengusap perut istrinya yang belum terlalu membuncit itu.
"kenapa tidak bilang kalau sudah copot kb?"
"aku masih meminum pil, tapi mungkin ini hasil dari saat itu aku tak minum pil"
"bibit unggul papa memang tak pernah gagal" Rio mencium gemas pipi istrinya.
"Rio, anakmu diperut bukan dipipi" kesal Kay.
"ya gemesnya kan sama kamu. kan buatnya sama kamu"
"masih ada satu kabar lagi"
"apa? cepet ngomong" Rio tak sabaran.
__ADS_1
"janji nggak marah?"
"iya janji"
"anak kita kembar" ucap Kay malu malu.
"astaga? kembar?!" Rio kaget.
"tuh kan kamu marah" kesal Kay.
"sayang, aku nggak marah aku cuma kaget. kok bisa kembar? dikeluargaku nggak ada gen kembar"
"terus kamu kira ini anak orang lain gitu?"
"bukan sayang, kamu pikirannya negatif terus"
Rio menciumi gemas istrinya karna sangking bahagianya akan memiliki anak kembar.
sore hari keduanya kembali kerumah.
sepanjang perjalanan Rio terus menggenggam telapak tangan istrinya sedangkan tangan satunya untuk menyetir.
"Rio, kenapa seperti ini terus" kesal Kay karna tak bisa bergerak bebas.
"tidak apa apa, aku hanya terlalu bahagia saja"
setelah menempuh perjalanan hampir satu setengah jam kahirnya mereka sampai mansion dan disambut oleh tangis putranya.
"mama" Rean berhambur pada mamanya.
"cup cup, mama udah pulang. jangan nangis lagi, okey" perlahan bocah itu diam.
"ayo gendong papa saja"
"enggak mau, Rean mau mama"
"tidal boleh, mama sedang bawa adik Rean. nggak boleh gendong" jelas Rio yang mendapatkan cubitan di pinggangnya.
"kenapa malah mencubitku" kesal Rio karna cibitan istrinya terasa sakit.
"kau jangan berkata seolah Rean sudah dewasa. dia masih anak anak, mana tau dia dengan penjelasanmu itu" kesal Kay.
"oke oke, nanti aku akan menjelaskannya.pelan pelan" papa muda itu mengangkat tubuh putranya dan menggendongnya.
"ayo tidur ke kamar, papa temenin" bicah itu mengangguk semangat karna jarang jarang papanya.mau menemaninya.
"Rean, coba Rean hitung berapa umur Rean"
bocah itu nampak memperlihatkan jari jari tangannya dan meipatnya beberapa.
"3 pa"
"cona tebak, tiga itu banyak apa sedikit?"
"banyak" jawab bocah itu antusias.
"nah, berarti umur Rean sudah besar. Rean akan menjadi seorang kakak"
"kaka?" bocah itu semakin bingung.
__ADS_1
perlahan Rio menjelaskan agar putranya tak meminta gendong.pada Kay dan juga tak terlalu banyak meminta ini itu.
bocah itu akhirnya mengerti perintah papanya walau tidak tau jelas maksud tujuannya.