
Ia segera keluar dari ruangan papanya dan segera melanjutkan pekerjaannya.
Malam hari,
Pukul 10 malam,
"Huh memang terasa sepi kalau tidak ada Al" batin Zifa.
Ia membuka ponselnya berharap ada notif dari suaminya namun nyatanya tidak ada.
"Sepertinya makan seblak malam malam begini enak" batin Zifa.
Ia melangkahkan kakinya menuju lantai bawah.
Ia membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan masakan.
Walaupun Zifa berasal dari keluarga kaya raya namun jika hanya membuat seblak dirinya masih bisa.
"Hmm sepertinya sangat enak" air liur Zifa serasa ingin menetes melihat sajian seblak yang sudah berada diatas meja makan itu.
Setelah selesai makan Zifa langsung kembali ke kamar dan memejamkan matanya.
Pagi hari,,
Zifa menggeliat bangun saat cahaya matahari mulai menelisik masuk ke dalam kamarnya.
Zifa sedikit kaget melihat suaminya yang berbaring disofa tempat Al biasa tidur.
"Kapan dia pulang?" Batin Zifa bertanya tanya.
Zifa kembali merasakan mual, ia berlari ke kamar mandi dan segera memuntahkan makanan yang dimakannya semalam.
Al terbangun mendengar suara istrinya muntah.
"Sayang sebaiknya kita kerumah sakit saja untuk memeriksakan diri mu" ucap Al sembari memijat tengkuk istrinya itu.
__ADS_1
"Tidak mau!" Tolak Zifa.
"Sudah hampir satu bulan loh kamu gini terus"
"Pokoknya aku tidak mau" tolak Zifa.
"Kalau begitu hari ini kau istirahat dirumah saja tidak usah berangkat kerja"
"Tidak, pukul 10 aku ada meeting penting"
"Tapi yang"
"Diamlah, kau membuatku tambah pusing" bentak Zifa.
"Oke aku minta maaf" Al mengusap punggung istrinya.
"Sudah mendingan?" Tanya Al setelah hening sejenak.
Zifa hanya mengangguk
Setelah beberapa saat Zifa telah keluar dengan menggunakan handuk kimono.
"Sayang, ini minun air putih dulu" Al menyerahkan segelas air putih.
Zifa menerima gelas itu dan segera meneguknya hingga tandas.
"Makasih" ucap Zifa tulus.
"Cium sini dulu" pinta Al menunjukan pipinya.
"Tidak mau!" Tolak Zifa.
"Ayo cepat cium" pinta Al.
"Atau aku saja yang menciumu?" Goda Al.
__ADS_1
Zifa hanya diam saja tak merespon ucapan suaminya.
"Oh, berarti kau maunya dicium" Al melebarkan senyumnya lalu membenamkan ciumannya dibibir manis istrinya.
"Ya sudah, aku mau mandi dulu" Al mengacak rambut istrinya lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
Zifa sendiri tersenyum tipis saat melihat suaminya sudah menghilang dari pandangannya.
"your lips are always cute" (bibirmu selalu saja manis) gumam Zifa.
Ia pun segera memulai makeupnya
Drttt
Drttt (dering ponsel Al)
Zifa yang merasa terganggu pun mendekati ponsel suaminya yang ada dinakas.
Terlihat panggilan telepone dari seorang wanita bernama Sarah.
"Nama ini lagi?" Gumam Zifa bertanya tanya.
Zifa berinisiatif mengangkat panggilan itu
"Halo Al, apa kabarmu. Aku menelponmu hanya ingin mengucapkan makasih karna kemarin kau mau membantuku merawat El. Kapan kapan seringlah berkunjung ke singapura. El sangat menyayangimu dan pasti akan merindukanmu" ucap wanita itu diseberang.
"Anda siapa?" Zifa mengeluarkan suaranya.
"Maaf, bukannya ini ponsel Alfin Danendra? Kenapa bisa ditangan anda?" Tanya wanita itu diseberang.
"Aku istrinya dan kau jangan sekali kali bermain api denganku atau kau akan tau akibatnya, camkan itu" ancam Zifa lalu segera mematikan ponsel itu.
Amarah Zifa berkobar setelah mendengar ucapan wanita tadi.
jangan lupa Like dan Komen
__ADS_1