Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Merasa Bersalah


__ADS_3

Batinnya meramalkan doa untuk suaminya yang masih berjuang melawan penyakitnya.


12 jam berlalu


akhirnya pintu ruang operasi itu terbuka menampakan wajah dokter yang kelelahan setelah menjalankan tugasnya.


"bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Kay tak sabaran.


papa Roni juga harap harap cemas dengan keadaan putranya.


"syukurlah, operasi berjalan lancar. namun perlu pemulihan hingga 1 tahun kedepan karna penyakit tuan Rio yang sudah buruk"


Kay menghembuskan napasnya lega.


tak terasa air matanya menetes begitu saja sangking bahagianya.


"kapan suamiku sadar dok?"


"mungkin besok sudah sadar, jangan diganggu dulu biarkan dia istirahat"


Kay mengangguk paham


brankar Rio langsung dibawa ke ruang rawat.


Kay menatap sendu suaminya yang masih dipasangi alat alat medis.


Kay selalu ingin menyalahkan dirinya sendiri karna tak pernah peka dengan keadaan Rio.


pagi hari,


Rio mengerjapkan matanya kala mendengar suara tangisan seorang perempuan.


tangisannya tergugu hingga terdengar begitu pilu.


"Kay"


wanita itu kaget kala namanya dipanggil. ia segera menghapus air matanya.


"Rio kau sudah sadar? mana yang sakit? dadamu sakit? apa tubuhmu yang lain?" tanya Kay panik.


Rio hanya menggeleng pelan


"tidak ada"


"jangan banyak bicara dulu, biar ku panggilkan dokter" buru buru Kay memanggil dokter sampai tak terfikir jika ada tombol nurse call di kamar itu.


dokter pun mengikuti langkah Kay dan langsung memeriksa Rio.


"Bagaimana dok?"

__ADS_1


dokter itu tersenyum


"Keadaannya sudah membaik, tinggal menunggu pemulihan saja"


Kay semakin lega


beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan rawat itu.


Kay kembali menangis sembari memegang telapak tangan pria itu dan menempelkannya dipipinya.


"kenapa masih menangis?"


Kay hanya diam masih tergugu


"Akhirnya kau sudah berhasil operasi, kau akan segera sembuh"


Rio hanya tersenyum tipis melihat istrinya itu.


"mana Rean?" tanya Rio tak melihat sang putra beberapa hari ini.


"sebelum kita berangkat aku menitipkan Rean pada papa Bryan. hari ini juga mereka akan terbang kemari. mungkin nanti malam mereka akan sampai" jelas Kay membuat Rio mengangguk paham.


malam harinya, papa Bryan menyerahkan baby Rean yang sedang menangis.


pria kecil itu memang tak bisa jauh dari sang mama. namun jika ada papanya, jelas calon penerus perusahaan itu pasti akan memilih sang papa.


bocah itu langsung terdiam


"mama"


"iya mama disini"


"Ean aus" pinta bocah itu.


"Rean haus?" tanya Kay membuat bocah itu mengangguk.


papa Bryan menyerahkan botol susu pria kecil itu yang jelas isinya masih baru dan hangat.


"ean gak au" Rio junior menggeleng tak mau.


"kalau nggak mau ini terus maunya apa? katanya haus" tanya Kay lembut berusaha sabar menghadapi putranya.


"Ean mau ini" bocah itu menyentuh sumber air minumnya.


"minum susu botol dulu ya, mama sedang pusing pasti nanti asinya nggak enak" ucap Kay berusaha memberi putranya pengertian.


pria itu masih menggeleng


"kasih aja Kay, umurnya baru satu setengah tahun. nanti lepas asi kalau sudah 2 tahun" mama Tasya menasehati.

__ADS_1


"tapi pikiran Kay lagi nggak tenang ma, pasti asinya rasanya nggak enak"


"nggak papa, coba aja dulu"


akhirnya Kay mengangguk


para pria segera keluar saat tau Kay akan menyusui Rean.


dan benar saja, Rean langsung meminum dengan rakus seakan pria kecil itu sangat kehausan.


"pelan pelan nak" Kay meringis merasakan nyeri.


Kay mengusap lembut kepala putranya itu. diamatinya wajah Rean yang memang perais papanya.


setelah merasa kenyang bocah itu melepaskan mulutnya.


ia menatap papanya yang dari tadi memandangnya dari atas brankar.


"papa" panggil bocah itu merentangkan tangannya seolah meminta gendong.


"papa belum bisa gendong Rean, jadi Rean yang duduk disamping papa" Kay mendudukan putranya disamping kepala Rio.


"papa atit?" tanya bocah itu melihat infus ditangan sang papa.


Rio menggeleng


"papa tidak sakit, papa hanya lelah"


"papa kelja?"


Rio mengangguk


"iya, papa capek kerja"


"papa, mama pulang" pinta Rean mulai rewel meminta pulang ke rumah.


"jangan dulu, papa masih disini. jadi kita nemenin papa dulu"


bocah itu bingung dengan maksud sang mama.


"pokoknya Rean disini sama mama sama papa" jelas Kay karna tau putranya takut kembali berpisah dengannya.


"apa Rean rewel pa dirumah?" tanya Kay pada papa angkatnya.


"tidak, pas dirumah anteng anteng aja. main sama anaknya Zifa. tapi ya kalau malem gitu, nyariin kamu"


"maaf ya pa, jadi ngerepotin" Kay tidak enak.


"enggak kok, malah seneng bisa jaga Rean"

__ADS_1


__ADS_2