Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Cemburu


__ADS_3

"kita akan ke pulau seberang, jadi harus dengan menggunakan kapal"


Kay heran tapi tetap menuruti ucapan suaminya itu.


mereka menggunakan kapal fery yang sudah disewa pribadi oleh Rio.


Kay duduk di atap kapal itu menikmati angin yang berhembus.


"kau suka?" tanya Rio yang baru saja menyusul.


"iya, aku sangat suka"


Rio merengkuh tubuh istrinya kedalam dekapannya.


"terimakasih"


"untuk apa?" Kay bingung.


"kau sudah merawatku selama aku sakit sampai aku sembuh seperti hari ini"


"tidak usah berterimakasih, itu memang tugasku sebagai istri"


"aku bersyukur memilikimu, kau bahkan tak meninggalkanku saat aku sedang terpuruk"


Kay hanya tersenyum tipis


"tapi kau malah meninggalkanku saat kau sudah sukses" batin Kay berteriak mengingat kebersamaan sang suami dengan Nesya.


"berjanjilah akan terus bersamaku dan Rean" Rio mengusap pipi lembut wanita itu.


"aku tidak bisa berjanji"


"kenapa?"


Kay hanya diam tak menjawab


tak dirasa ternyata kapal sudah sampai ditepi pulau itu.


mereka berdua berjalan bergandengan mengitari pulau itu.


"pakai ini" Rio menyerahkan sun block untuk istrinya.


"kau senang disini?"


Kay mengangguk


"ya, aku sangat senang disini"


"cium aku" pinta Rio namun dengan nada perintah.


Kay memandang suaminya sejenak.

__ADS_1


"kenapa?"


"ayo cepat cium aku"


Kay mencium bibir pria itu dan memberinya lummattan kecil seperti biasanya.


"apa kau mencintaiku Kay?"


Kay terdiam


"kenapa tidak menjawab? ayo jawab, apa kau mencintaiku?" Tanya Rio lembut sekali lagi.


"Kau sudah tau jawabannya, tidak perlu bertanya begitu"


"aku tidak tau, lebih baik kau menjawab pertanyaanku"


"apa menurutmu cintaku penting?" tanya Kay balik.


"sangat penting untukku"


Kay tertawa getir


"apa artinya aku mencintai seseorang yang tak mencintaiku" senyumnya semakin terlihat menyakitkan saja.


"siapa yang kau maksud?" Rio mengernyit.


"memangnya siapa lagi pria yang pantas kucintai" Kay menoleh menatap manik hitam didepannya.


"Kau yakin sudah memastikannya dengan hatimu itu?"


"iya aku yakin, aku memang mencintaimu"


"tapi kau bertindak sebaliknya" tukas Kay.


Rio hanya mengernyit heran


"coba kutanya balik, apa kau bahagia denganku?" Tanya Kay membalikan keadaan.


Rio terdiam


"Kau saja tak mampu menjawab pertanyaanku" Kay tersenyum miris.


"aku bahagia denganmu, sangat. hanya kita memerlukan beberapa pendekatan lagi, kurasa kita sedikit menjauh"


"ah kurasa kau sedang berbohong padaku"


"maksudnya?"


"kau bahagia kan dengan nona itu?" ingin rasanya Kay menangis lalu menjerit sekuat kuatnya.


"nona mana? tak ada wanita lain dihatiku"

__ADS_1


"ah, lupakan saja. itu juga tidak penting" Kay mengalihkan takut hatinya tak kuat dengan kenyataan di deoannya.


Rio mulai paham kemana arah pembicaraan istrinya itu.


"Nesya maksudmu? dia hanya sekertarisku, tak ada hubungan lebih. kami hanya sebatas rekan kerja"


"oh, berarti mataku yang salah lihat"


"Apa kau berfikir bahwa aku selingkuh darimu?" selidik pria itu.


Kay hanya diam


"intinya aku dan dia hanya sebatas rekan kerja saja. tidak lebih"


"dulu sebelum operasi kau memintaku untuk melanjutkan proses perceraian kita. kau ingatkan,? tepat sebelum kau operasi aku juga mengatakan bahwa berjanji akan membiarkanmu bahagia dengan pilihanmu"


"lalu?"


"aku tau bahagiamu bukan bersamaku. hubungan kita terlalu jauh untuk dikatakan harmonis. Kulihat kau memang lebih bahagia bersama nona itu"


"Kau cemburu?"


Kay hanya diam


"jangan seperti ini, kita sudah menikah sangat lama. kita bukan lagi pasangan pengantin baru yang perlu adaptasi. aku hanya ingin kau mengeluarkan segala keluh kesahmu padaku. jika kau memang tak nyaman dengan keberadaan Nesya, katakan saja. aku pasti akan berusaha sebaik mungkin" Rio mengusap lembut rambut istrinya.


Kay hanya menghela napasnya


"Ya, aku tak nyaman dengan kehadirannya. aku cemburu" jujur Kay membuat Rio tersenyum.


"Kalau begitu aku akan memecatnya saja. aku tak mau terjadi kesalah pahaman diantara kita"


"untuk apa dipecat? kalau tak ada dia bagaimana kau bisa bahagia?" Kay tersenyum getir.


"ada kau dan Rean, itu sudah lebih dari cukup untukku"


"kau jangan berkata seperti itu Rio, kau mengatakannya karna kau takut kehilangan Rean kan? dia tak akan oergi darimu. dia outramu, aku tau dia adalah pewarismu nantinya. dia tak akan pergi"


"bukan itu, aku juga membutuhkanmu disisiku. kau istriku, dan selamanya akan seperti itu"


"Rio, boleh aku pergi sekarang!" Tanya Kay dengan mata berkaca kaca.


"Maksudmu?"


"Aku sudah jenuh dengan hubungan kita. Berpuluh puluh kali aku mencoba bangkit dari rasa kecewaku. Tapi kenyataannya semua berakhir sama. Sepertinya memang semesta tak menginginkan kita bersama"


Tanpa sadar air mata Rio menetes begitu saja.


Hatimya terasa diremas. Ia merasa gagal menjadi seorang suami yang baik. Berbagai keluhan istrinya tujukan atasnya.


"Jangan seperti ini. Bukankah kau tau betapa aku mencintaimu? Aku hanya kurang bisa mengekspresikannya saja. Jauh dalam lubuk hatiku aku sangat mencintaimu. Bagaimana mungkin aku akan melepasmu" pria itu menangkup pipi istrinya.

__ADS_1


"jadi kau tak akan menceraikanku?" tanya Kay hati hati.


__ADS_2