
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" Tanya Rio sembari mengusap dahi istrinya.
"Maaf tuan Rio, tapi karna benturan yang cukup keras anak anda tidak dapat diselamatkan"
Deggg
Jantung Rio seakan berhenti berdetak.
"Do dokter, ti tidak mungkin" Rio masih mencoba menampik kenyataaan didepannya.
"Maaf tuan, kami sudah mengusahakan yang terbaik"
Rio menghapus air mata yang menets dari pelupuk matanya.
"Lalu tindakan apa yang harus dilakukan dok?"
"Harus melakukan operasi secepatnya"
"Bisa jika menunggu sampai istriku sadar dulu dok?"
"Boleh tuan, mungkin 30 menit lagi nyonya Kayla akan sadar.
Rio mengangguk
Setelah dokter keluar, Rio menatap sendu wajah istrinya.
"Kenapa harus terjadi pada kita berdua" mata Rio mulai memerah.
Hatinya terasa diremas mendengar ucapan dokter.
Belum sempat ia mendengar tangis anaknya tapi ternyata tuhan lebih dulu memanggilnya.
"Rio" panggilan lirih Kay membuat Rio langsung menghapus air matanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa menangis? Anak kita tidak apa apa kan?"
Rio menggenggam telapak tangan wanita itu lalu menempelkannya dipipi nya.
"Maaf maafkan aku" tangis Rio mulai pecah.
"Rio, ada apa? Katakan bahwa anak kita baik baik saja" tangan Kay menyentuh perutnya yang sudah tidak ada pergerakan lagi.
"Rio, ada apa dengannya. Katakan padaku jangan diam saja" bentak Kay tak sabaran.
"Anak kita sudah tidak ada" Rio bergetar mengucapkan itu.
"Tidak tidak mungkin kamu bercanda kan?" Kay menggelengkan kepalanya.
Wanita itu memberontak saat hendak dipeluk.
"Rio, ibu macam apa aku ini. Menjaga anakku sendiri saja aku tidak becus" tangai Kay pecah.
"Maafkan aku lalai menjaga anak kita"
Tangisan Kay semakin terdengar pilu. Ia terus mengusap perut buncitnya berharap anaknya masih bergerak.
"Rio, tidak mungkin. Ini mimpi kan? Tidak mungkin" Kay menjambak rambutnya sendiri bahkan menampar wajahnya sendiri.
"Sayang, jangan seperti ini" Rio menahan tangan wanita itu.
"Rio, ibu macam apa aku ini. Katakan hukuman apa yang pantas untukku. Apa aku harus mati?! Katakan Rio!!"
"Hukuman yang pantas untukmu hanya satu. Sehatlah demi aku. Hanya itu"
Kay langsung memeluk tubuh suaminya. Hari ini ia benar benar hancur saat tau anaknya yang sudah ia perjuangkan malah kembali sang pencipta.
"Sayang jangan seperti ini, kita bisa memiliki anak lagi nantinya"
__ADS_1
"Rio, aku sudah memperjuangkannya selama ini. Kenapa dia tega pergi begitu saja!" Kay kembali menampar wajahnya sendiri.
"Kayla, tenanglah" kay mulai lemas berada dipelukan Rio.
"Setelah ini kau harus operasi untuk mengambil anak kita. Kita ikhlaskan dia sama sama" Rio mengusap rambut istrinya.
"Rio aku tidak bisa, aku tidak mau! Anakku masih hidup" lirih Kay kehabisan tenaga.
"Jangan seperti ini, masih ada aku. Kita lalui semuanya bersama sama. Everything will be fine okey?"
"Rio, aku ibu yang jahat. Aku tega membunuh anakku sendiri Rio"
"Sayabg, ini semua terjadi tanpa kendali kita. Ayo kita sama sama ikhlaskan dia. Anak kita pasti lebih bahagia disana karna dia tidak akan kesakitan lagi"
Beberapa saat kemudian Kay kembali tak sadarkan diri.
Dokter langsung mengambil tindakan operasi untuk Kay.
Beberapa jam kemudian,,
Operasi berjalan lancar,
Kay bahkan dalam keadaan sadar saat melakukan operasi. Rio berada disamping istrinya untuk menguatkan wanita itu.
"Rio, anaku" lirih Kay saat dokter menyerahkan bayi ke gendongan suaminya.
"Maafkan papa sudah gagal menjagamu. Papa harap kamu bahagia disana" Rio mengusap bayi berjenis kelamin perempuan itu.
Setelah dokter menyelesaikan operasi, Kay langsung dipindah keruang rawat.
"Rio, aku mau menggendongnya" lirih Kay melihat bayi perempuan masih digendongan suaminya.
"Ini" Rio menyerahkan putrinya.
__ADS_1
"Kau sangat cantik" puji Kay menatap wajah putrinya yang sudah tiada.