
"Al, tapi kalau gini terus yang gemuk ibunya bukan anaknya" protes Zifa.
"Gemuk? Gemuk darimana?" Al menaikam sebelah alisnya.
"Ya dari ini semua. Dikit dikit suruh nyemil. Dikit lagi makan, belum lagi kalo pengen makanan lain" protes Zifa merasa mendapat kebebasan karna ada orang tuanya.
"Belum ada sejarahnya buah bikin gemuk" jawab Al santai.
"Ada kok" bantah Zifa.
"Mana?"
"Ini, akuu"
"Sayang, kamu itu nggak gemuk tapi..."
Al membisikan sesuatu pada istrinya hingga wajah Zifa memerah.
"Hayo bisik bisik apa itu?" Goda mama Mia.
"Nak, kamu harus lebih nurut sama Al. Dia udah banyak sabar loh. Lagian juga yang diomongin Al bener semua" papa Bryan membela menantunya.
Zifa hanya diam tak mendengarkan ucapan sang papa.
Beberapa jam kemudian, papa Bryan dan mama Mia sudah kembali ke mansion mereka.
Hanya tersisa Al dan Zifa diruangan dengan bau khas obat obatan itu.
"Sayang, aku mau ngomong penting" Al mendekat lalu menggenggam telapak tangan wanita itu.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Minggu depan aku ada kerjaan diluar negeri dengan waktu lumayan lama. Kamu mau kan aku tinggal?" Tanya Al sedikit gugup.
"Berapa lama memangnya?"
"Kurang lebih satu bulan"
"Sa satu bulan?!" Zifa kaget.
"Iya satu bulan, kalau kau tidak mau tidak apa apa. Aku akan membatalkan kontrak kerjanya"
"Tapi aku ikut ya" pinta Zifa memohon.
"Sayang, hari ini saja kau masuk rumah sakit karna kelelahan perjalanan. Aku tidak mau hal seperti ini terulang lagi. Lagipula kandunganmu sudah besar. Sangat beresiko jika perjalanan jauh" Al berusaha meyakinkan istrinya.
"Tapi Al, satu bulan itu lama lo. Terus siapa nanti yang nemenin aku dirumah. Belum lagi kalau aku butuh apa apa" protes Zifa.
"Kalau masalah itu aku bisa meminta mama dan papa untuk menemanimu dirumah. Bagaimana?" Tawar Al berharap istrinya menyetujui.
"Satu minggu lagi. Tepatnya setelah kakakmu menikah"
"Ya udah deh, nggak papa" Zifa memutuskan walau sedikit kecewa karna suaminya tak memperbolehkannya untuk ikut.
"Makasih sayang" Al tersenyum lebar walau nyatanya hatinya sakit melihat wajah kecewa sang istri.
Ia tau istrinya itu sebenarnya tidak menyetujui permintaannya. Namun apadaya, ini semua juga Al lakukan untuk kebaikan mereka dimasa depan.
1 minggu kemudian
Hari ini hari pernikahan Zio.
Nampak Al dan Zifa sudah siap dengan baju seragam dengan keluarga lainnya.
__ADS_1
"Al, kamu besok beneran berangkat?" Tanya Zifa dengan wajah sedih.
"Iya sayang, kan kamu udah setuju"
"Tapi aku pengen ikut aja" rengek Zifa lagi.
"Sayang, plis dengerin aku. Aku nggak mau terjadi hal buruk pada kamu dan anak kita" Al berusaha membujuk istrinya itu.
"Tapi kamu janji nggak bakal macem macem kan disana?"
"Iya sayang, aku janji"
"Beneran?"
"Iya sayang bener"
Al dan Zifa ikit menyapa para tamu undangan yang juga merupakan rekn bisnis Al.
"Al udah yuk istirahat di kamar" pinta Zifa karna tamu undangan sudah mulai bubar.
"Kamu udah capek?" Tanya Al khawatir.
Zifa mengangguk
"Ya udah, yuk" Al menarik lembut pergelangan tangan istrinya itu.
Didalam kamar,
Al dan Zifa sama sama berbaring diranjang.
Zifa terus saja memeluk suaminya itu dan menyembunyikan wajahnya didada bidang milik Al.
__ADS_1
"Sayang, tumben manja manja gini" Al mengusap rambut istrinya itu.