
Tanpa meminta persetujuan Al, Zifa langsung saja membayar beberapa barang yang menurutnya unik menggunakan kartu milik Al.
2 jam berlalu, ibu hamil itu sudah merasakan nyeri pada pinggang dan betisnya.
"Al ayo, aku sudah selesai" ucap Zifa sembari memegangi pinggangnya yang terasa nyeri.
Al mengangguk, ia mengangkat barang belanjaan istrinya dan membawanya menuju mobil.
"Auhhh" langkah Al terhenti saat mendengar ringisan istrinya yang masih berjalan dibelakangnya.
Nampak Zifa sudah mengibas ngibaskan dress nya yang basah akibat ketumpahan kopi panas dari seseorang yang menabraknya.
"oh gosh I'm sorry, I didn't mean to. are you okay?" Sesal orang tersebut.
(Oh astaga aku minta maaf, aku tidak sengaja. Kamu tidak apa apa kan?)
"Hmm, i'm fine" Zifa mengangguk.
"do I need to buy pharmacy medicine to relieve skin wounds or do I need to go to the hospital?"
(perlu aku belikan obat apotek untuk meredakan luka kulit atau perlukah kerumahsakit? )
"Oh no thanks, I'm really okay" jawab Zifa lagi.
Akhirnya seseorang itu meninggalkan Xifa karna Zifa sudah mengatakan bahwa ia baik baik saja.
"Kau tidak apa apa?" Tanya Al khawatir namun masih terdengar nada dingin dalam bicaranya.
__ADS_1
"Tidak apa apa, hanya sedikit panas dan perih" ucap Zifa masih dengan mengibas ngibaskan bajunya yang basah.
Al menarik lembut tangan istrinya dan membawanya kedalam toko pakaian terdekat disana.
"Pilih baju yang kau mau"
Tanpa pikir panjang Zifa segera memilih baju untuk dirinya.
"Ini saja"
Al membayar pakaian itu dan Zifa segera mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian barunya.
"Ayo" Al menarik lembut pergelangan tangan istrinya dan membawanya menuju mobil.
Zifa hanya pasrah, suaminya dari kemarin hanya diam saja. Ia belum menyadari kesahalannya.
Belasan jam di udara, Zifa hanya mampu menggenggam telapak tangan Al.
Terutama saat pesawat akan lepas landas. Biasanya Al akan memeluknya dan juga mengusap perutnya. Namun kali ini suaminya hanya diam sambil memejamkan matanya.
Mata Zifa celingak celinguk memastikan tidak ada orang lain yang duduk dikursi penumpang di pesawat yang ditumpanginya dan Al.
Zifa mengambil selimut disana. Ia menutupkan selimut itu dibagian bawah perutnya.
Ia menyingkap dress yang digunakannya hingga ke atas perut.
"Hmm pantas saja perih, ternyata memerah" gumam Zifa mengusap lembut perutnya.
__ADS_1
"Huhh untung saja tidak terjadi apa apa denganmu nak" gumam Zifa lagi yang mendapat tendangan dari buah hatinya.
Al membuka matanya saat mendengar gumaman istrinya itu.
"Sakit?" Tanya Al mengusap perut istrinya tanpa menatap wajah cantik itu.
"Hmm, sedikit perih dan panas" Zifa mengangguk lesu.
Al berdiri dari duduknya. Ia mencari cari kotak obat di pesawat itu.
Setelah ketemu Al mengusapkan salep ke perut sang istri.
"Ehh jangan" Zifa menolaknya.
Al menghentikan gerakannya. Ia hanya mengangkat sebuah alisnya seakan bertanya 'kenapa?'
Zifa menghembuskan nafasnya
"Kita tidak tau apa salep itu aman untuk ibu hamil apa tidak. Aku takut jika nanti membawa efek buruk untuk anak kita"
"Ini aman untuk ibu hamil" ucap Al singkat lalu melanjutkan untuk mengoleskan salep itu diperut istrinya.
"Bagaimana kau tau?"
"Ada tulisan dikemasannya"
"Al, kau itu sebenarnya kenapa? Dari kemarin kau hanya diam saja"
__ADS_1