Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Membangun Semuanya


__ADS_3

"Ya udah kalau itu keputusan kalian. Yang penting jangan sampe gara gara mau liburan bikin Zifa dan janinnya kesusahan"


"Iya ma, oh ya, habis makan malam Al sama Zifa mau pulang kerumah Al ma"


"Iya nggak papa"


Setelah selesai makan malam, Al dan Zifa kembali ke rumah Al.


Disepanjang perjalanan


"Sayang, kira kira kita mau ngadain acara tujuh bulanannya kapan?"tanya Al pada istrinya yang sedang duduk dikursi mobil sambil mengusap perutnya.


"Terserah, aku ngikut aja"


"Kalo setelah pulang dari paris aja gimana?"


"Boleh"


"Berarti besok kita mulai cari baju sama perlengkapan lainnya"


"Iya aku ngikut aja"


Sesampainya dirumah,,


Al berbaring disofa


"Al, kau mau tidur disitu lagi?" Tanya Zifa.


"Iya, memangnya kenapa?" Tanya Al bingung.

__ADS_1


"Lebih baik mulai sekarang kau tidur diranjang saja"


"Memangnya kenapa?"


"Akhir akhir ini pinggangku sering sakit. Aku ingin kau mengusapnya" Zifa beralasan.


"Apa kau tidak akan risih nantinya?"


"Tidak, cepat pindahlan" ucap Zifa mulai kesal karna suaminya banyak bertanya.


Al pun segera pindah keranjang


"Mana yang sakit?" Tanya Al.


"Yang ini" tunjuk Zifa pada pinggangnya.


"Al,," panggil Zifa.


"Hmm, iya sayang ada apa?" Al menghentikan usapannya lalu menarik istrinya kedalam pelukannya.


"A aku ..."


"Kamu apa? Ngomong aja nggak papa" ucap Al karna merasa dari kemarin istrinya ingin mengatakan sesuatu.


"Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Bayu" lirih Zifa sambil memainkan jemarinya didada Al.


"Benarkah?" Tanya Al berbinar sembari melepaskan pelukannya.


"He em, kurasa memang saatnya aku membuka hatiku" Zifa nampak gugup mengucapkan kata itu.

__ADS_1


"Makasih sayang, aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu sekaligus dady yang baik untuk anak kita" Al menciumi puncak kepala istrinya.


"Iya, bantu aku menjadi lebih baik"


"Pasti" Al mengeratkan pelukannya pada sang istri.


Persaannya sangat membuncah saat mendengar istrinya mau memulai membangun rumah tangganya.


"Tuhan,.. kau lihatkan, istriku sudah mulai bisa menerimaku. Maka dari itu, bantu aku untuk sembuh dan dapat merasakan kebahagiaan bersama istri dan anakku. Jikapun kau berkehendak untuk mengambilku, setidaknya izinkan aku untuk melihat wajah anakku" batin Al merasa bahagia sekaligus sedih saat mengingat penyakitnya.


"Kamu senang?" Tanya Zifa ragu.


"Sangat senang, kau tau.. mungkin aku adalah satu satunya orang yang bahagia disini" ucap Al jujur membuat Zifa terdiam.


"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud..."


"Tidak apa apa aku paham maksudmu" potong Zifa.


"Kau tidak melakukannya karna terpaksa kan?" Tanya Al memastikan.


Zifa terdiam


"Sayang, jika ini semua kamu merasa tertekan, sebaiknya jangan terlalu memaksakan dirimu. Kalaupun memang kau bahagia bersama dengan Bayu, aku akan mengizinkanmu. Tapi satu hal yang perlu kau ingat selamanya kau tetaplah milikku" Al kecewa melihat respon istrinya yang menurutnya masih ada keraguan besar dalam diri istrinya.


Al melepaskan pelukannya, ia bangun dari tempat tidur itu dan hendak beranjak.


"Tidak Al, ini sudah keputusanku. Setelah kupikir pikir suka tidak suka, mau tidak mau, cepat ataupun lambat aku harus melepasnya. Aku berfikir bagaimanapun anak ini tetap membutuhkan dady nya. Aku tidak sanggup membayangkan pertanyaan anak ini nanti ketika dewasa tentang hubungan rumitku dengan mu dan juga Bayu" Zifa mencekal tangan Al.


Al membalikan badannya dan menatap wajah istrinya yang sudah berderaian air mata.

__ADS_1


__ADS_2