
"Jadi 4 bulan lagi bisa dok?"
"Bisa nyonya, tapi anda harus mempertimbangkan komplikasi yang akan terjadi baik pada diri anda maupun janin anda nanti"
Kay mengangguk paham
Kay harus menunggu 1 jam agar cairan infus habis.
Setelah 1 jam akhirnya infus itu habis. Bukannya pulang, Kay langsung menuju ke kantor lamanya yaitu perusahaan milik Al.
Ia berniat kembali bergabung dengan perusahaan itu karna ia merasa sudah terlalu bosan dirumah tanpa kegiatan.
Sesampainya di perusahaan Al Kay langsung menelpon sahabatnya.
"Halo Kay, gimana?" Tanya Zifa diseberang.
"Kamu dimana?"
"Dikantor Al" jawab Zifa terkekeh karna sejak hamil wanita itu selalu ingin menempel pada suaminya.
"Wah kebetulan banget, aku mau ketemua sama suamimu. Aku mau daftar jadi karyawan nih" ucap Kay tertawa.
"Waduhh nyonya Aditama sekarang pake jalur orang dalem ya" canda Zifa lagi.
"Iya dong, manfaatin yang ada aja"
"Ya udah kamu keruangan Al langsung aja. Aku tunggu"
"Oke"
Kay pun ke lantai atas menuju ruangan Al
Tok
Tok
Tok
"Masuk!" Suara Zifa yang menyahut.
"Astaga, nyonya Danendra udah mau brojol masih aja ngikut suaminya kerja" ledek Kay pada sahabatnya itu.
"Aduhh aku pusing hamil kedua ini. Nggak mau jauh jauh dari dady nya. Tambah lagi Dev mulai aktif jadi aku bingung bagi waktu"
"Ya udah, sabarin aja Zif. Lagian kamu beruntung dapet cepet. Daripada kaya aku, belum sempet lahiran tapi udah keduluan sama yang diatas" ucap Kay sendu.
Zifa hanya mampu mengusap pundak sahabatnya itu.
"Sabar ya Kay, pasti bentar lagi juga dapet"
"Dokter belum ngenolehin Zif"
"Ya nggak papa, kalau emang dokter bilang nggak boleh mending ikutin aja dulu. Pasti dokter punya pertimbangan yang matang"
Kay mengangguk paham
"Emangnya Rio nggak ngasih uang sampe kamu mau daftar kerja lagi?" Tanya Al mengalihkan pembicaraan dua wanita itu.
"Ngasih sih, cuma bosen aja. Aku udah nggak kerja lama banget loh. Sejak aku masih hamil 5 bulan lebih dikit malahan. berarti aku udah nganggur setahun lebih" jawab Kay tersenyum.
"Kamu udah tanya Rio? Apa dia setuju?"
"Belum sih, aku yakin dia setuju kok. Lagipula kan aku bekerja bukan berbuat kejahatan" canda Kay.
"Kau bicarakan dulu dengan Rio, takutnya nanti ada masalah dikemudian hari"
"Percayalah, dia pasti mengizinkan"
"Hubunganmu dengan Rio baik baik saja kan?" Selidik Zifa.
"Baik kok, seperti biasa" jawab Kay tenang.
__ADS_1
"Ya udah, besok kamu mulai kerja aja. Biar nanti aku ngomong sama Rio" ucap Al memberi solusi.
Kay mengangguk paham
Malam harinya
Suasana dikamar Kay dan Rio sangat sepi. Kedua insan itu masih saja saling diam sejak kejadian kemarin.
"Kau mau bekerja di perusahaan Al?" Tanya Rio memecah keheningan.
"Hmm" jawab Kay singkat.
"Kenapa?" Tanya Rio heran.
Kay hanya mengedikam bahunya malas menjawab pertanyaan itu.
Rio menghela napasnya berat. Istrinya masih mendiamkannya meski ia sudah meminta maaf.
Ke esokan harinya
Nampak Kay sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
"Kamu mau balik kerja Kay?" Tanya mama Tasya.
"Iya ma, Kay udah mulai bosen dirumah"
"Ya udah nggak papa biar nggak suntuk" mama Tasya menyetujui langkah yang diambil menantunya itu.
Kay disambut hangat diperusahaan Al setelah resign berbulan bulan lalu.
"Kok kerja lagi Kay? Bukannya suamimu pemilik perusahaan ya?"
"Iya nih, bosen dirumah. Tapi males kalo mau kerja diperusahaan suamiku. Masak tiap menit ketemu terus" canda Kay membuat temannya tertawa.
"Iya bener juga sih. Lama lama juga bosen. Tapi ngomong ngomong suamimu kan ganteng, masak bosen sih. Kalau aku mah udah aku pepet terus takut nanti ada uler keket deketin"
"Nggak ah, lagipula aku percaya sama dia" jawab Kay santai.
Hari ini Al tidak masuk bekerja karna dari tadi Zifa merengek enggan melepaskan pria itu.
"Sayang" panggil Zifa manja karna suaminya terus fokus pada laptop.
"Kamu manggil aku apa tadi?" Al mendongakan kepalanya.
"Kenapa emangnya?"
",Enggakpapa kok cuma tanya. Takutnya aku salah denger" jawab Al tersenyum tipis.
Beberapa waktu lalu Zifa sudah membiasakan dirinya memanggil 'dady' pada suaminya itu walaupun Al sempat protes karna ia jadi merasa pedofil.
"Kamu nggak suka aku panggil sayang?" Selidik Zifa.
"Suka sayang, suka banget" Al mendekat.lalu mencium puncak kepala wanita itu.
"Yang perutku sakit daritadi"
"Sakit gimana? Kontraksi palsu lagi?" Tanya Al khawatir karna sebelumnya istrinya mengalami kontraksi palsu.
"Enggak, ini beda. Sakitnya dari tadi"
"Ya udah kita kerumah sakit sekarang"
"Tapi yang, nanti kalau kontraksi palsu lagi gimana?"
" Ya nggakpapa, daripada brojol dirumah. Kan lebih bahaya" canda Al.
"Iya deh, aku ganti baju dulu kalo gitu"
Setelah mengganti bajunya, Zifa dan Al menuju rumah sakit.
"Gimana dok?" Tanya Al cemas.
__ADS_1
"Sudah mulai pembukaan tuan Al, seperti yang saya katakan sebelumnya. Posisi janin nya tidak sesuai. Jadi harus dilakukan caesar"
"Ya udah dok, lakuin aja yang terbaik"
"Sayang, kamu mau kan operasi?" Tawar Al.
Zifa mengangguk lemah
"Kamu temenin kam?"
"Iya dong, pasti"
Dokter pun menyiapkan operasi untuk Zifa.
Al sudah mengabari anggota keluarga lain.
Beberapa jam kemudian,,
Suara tangisan bayi memecah keheningan ruangan operasi itu.
"Ini bayinya tuan Al, cantik dan sehat" dokter menyerahkan bayi yang sudah dibersihkan.
"Sayang, anak kita" Al mendekatkan bayi itu kewajah istrinya.
Zifa menangis terharu
Pernikahannya dengan Al kini lengkap sudah dengan kehadiran dua anak dihidup mereka.
Setelah operasi selesai, dokter meminta Zifa agar menyusui bayi nya.
Tangis Zifa kembali luruh menatap wajah putrinya yang baru lahir kedunia.
"Sayang, kenapa menangis" Al menghapus air mata Zifa.
"Aku bahagia, akhirnya keluarga kita lengkap" tutur Zifa membuat Al tersenyum.
"Dia akan tumbuh menjadi gadis cantik seperti momy nya" tutur Al mengusap lembut pipi bayi itu.
Bayi perempuan itu merupakan perpaduan yang sempurna dari wajah Zifa dan Al.
Hanya saja hidung anak kedua mereka tak mewarisi dady nya, namun seperti Zifa. Tetap cantik karna bulu matanya lentik seperti dady nya.
"Kau beri nama siapa?"
"Devanie Danendra"
"Sayang kenapa kau tidak kreatif sekali sih. Yang pertama Devano, yang kedua Devani" protes Zifa.
"Devanie artinya gadis manis yang berkeinginan kuat. Seperti kisahnya yang hadir karna keinginan kerasmu. kelak dia akan menjadi gadis cantik seperti momy nya" jelas Al membuat mau tidak mau Zifa menerimanya.
Kay tersenyum memandang foto yang dikirimkan Zifa.
Hatinya mencelos mengingat putrinya yang telah tiada.
"Kau pasti bahagia disana nak" gumam Kay mengingat wajah putrinya.
Kay segera menetralkan ekspresinya dan kembali fokus bekerja.
Tak terasa 6 bulan berlalu,,
Sudah lebih dari 1 tahun dari Kay melakukan transplatasi ginjal.
Artinya ia sudah diperbolehkan hamil walaupun masih dalam pengawasan ketat oleh dokter.
Namun ia sudah tidak meminum pil penunda kehamilan sejak 3 bulan lalu.
Kay masih selalu melayani kebutuhan Rio walaupun nyatanya hubungan keduanya sama sama dingin.
Kay memasuki kamar mandi setelah Rio pergi joging karna hari ini week end.
"Astaga??! Aku hami!!" Kay berteriak dikamar mandi.
__ADS_1