
"Ehh" Kay yang kaget reflek menutup tubuhnya dengan selimut.
"Kenapa?" Tanya Kay.
"Tidak apa apa, aku kira tadi kau belum bangun"
"Ohh, ku kira ada apa"
Rio mendekat lalu memungut pakaian istrinya yang tercecer.
"Ini pakai, cepat mandi, setelah itu makan siang. Ini sudah lewat dari jam biasanya"
Kay hanya mengangguk
Wanita itu segera memakai pakaiannya lalu berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi Kay keluar, ia melihat suaminya malah berkutat dengan laptop.
"Memangnya ada kerjaan weekend begini?"
"Ada email masuk, aku baru mengeceknya"
"Kau sudah makan siang?"
"Sudah, tadi bersama mama dan papa"
Kay menghela napasnya pelan, jawaban Rio sedikit membuatnya kecewa. wanita itu berharap agar Rio menemaninya makan siang namun pria itu lebih sibuk dengan pekerjaannya.
Ia berjalan gontai menuju lantai bawah untuk makan siang.
"Sendirian aja nyonya? Kok tadi nggak bareng sama nyonya besar?" Tanya maid yang sedang menyiapkan makanan untuk Kay.
"Tadi Kayla ketiduran mbak, suamiku mau bangunin katanya kasihan. Jadi ini aku jadi telat"
"Ohh begitu" pembantu itu manggut manggut mengerti.
"Temenin saya mbak"
"Ini udah saya temenin" jawab maid itu terkekeh.
"Maksudnya ikut duduk mbak"
"Nggak ah nyonya, nanti dimarahin kepala pelayan"
"Nggak papa, ada aku. Kan aku yang nyuruh"
Mau tidak mau maid itupun duduk disamping majikannya.
"Tuan Rio dimana nya? Kok nggak kelihatan?" Maid itu tampak celingak celinguk.
"Suamiku masih ngerjain tugas kantor"
"Oh gitu"
Setelah selesai Kay menonton tv diruang tengah.
Matanya menatap tv namun pikirannya melayang jauh entah kemana.
__ADS_1
"Sebenarnya pernikanku ini seperti apa? Apa hubungan seperti ini sehat?" Gumam Kay mengingat rumah tangganya yang tak ada kehangatan, kasib sayang maupun perhatian di dalamnya.
Kay menselonjorkan badannya, ia sadar dari tadi perutnya terasa kencang.
"Kenapa sih anak mama? " Kay terus bergumam berbicara pada anaknya.
"Apa aku kerumah sakit aja ya?" Lanjutnya lagi.
"Bikk" panggil Kay pada maid rumah itu.
"Iya nyonya"
"Mama kemana sih bik?, kok nggak kelihatan" tanya Kay karna ingin diantar wanita kesayangannya itu.
"Nyonya dan tuan besar sedang ada acara. Mungkin nanti malam baru pulang. Ada yang bisa saya bantu "
"Oh begitu ya, nggak papa bik, cuma nanyain aja. ya udah deh bik, Makasih"
Maid itupun kembali oe belakang.
Kay berdiri dengan susah payah karna perutnya yang sudah membesar.
"Apa aku minta Rio buat nganter aja ya? Tapi nanti kalau dia ternyata lagi sibuk gimana dong" Kay menimang nimang keputusannya.
Ia berjalan perlahan menuju teras depan.
"Pak, anterin ke rumah sakit bentar ya?" Pinta Kay pada sopir.
"Siap nyonya"
Kay pun diantar sopir kerumah sakit.
"Pak, agak cepet bisa nggak?" Pinta Kay karna khawatir dengan kandungannya.
Sesampainya dirumah sakit, Kay langsung mengantre karna ia tidak membuat janji temu dahulu. Bahkan handphone saja wanita itu tak membawanya.
Kay pun juga tak membawa dompet karna Kay tak perlu repot repot mengurus administrasi rumah sakit karna sudah masuk ke tagihan asuransi keluarga Aditama.
"Oh nyonya Kayla, ada yang bisa saya bantu?" Sambut dokter itu ramah.
"Dok dari tadi perutku kenceng terus, rasanya juga mules mules sakit gitu. Apa bahaya ya dok?"
"Terus menerus atau ada jeda waktu?"
"Ada jeda waktunya dok" Kay makin ketar ketir saja.
"Ohh jangan jangan malah udah pembukaan" tebak dokter itu.
Dokter itupun mengecek
"Waduh buk, ini malah udah pembukaan 3" ungkap dokter itu.
"Terus gimana dong dok? Jadwal operasinya kan masih minggu depan"
"Nggak papa nyonya Kay, bayinya juga sudah siap lahir. Mungkin cepet cepet udah nggak sabar ketemu mama papa nya" dokter itu menenangkan.
"Saya suntikan dulu obat pereda nyerinya. Tapi ini nanti tidak akan bertahan lama. Mulai sekarang nyonya Kay harus puasa dulu sampai minimal 5 jam kedepan sembari menyiapkan proses operasinya"
__ADS_1
"Emangnya ini kalau normal bener bener nggak bisa ya dok?"
"Tidak bisa nyonya, anda mengalami riwayat preeklampsia dan juga transplatasi ginjal"
"Ya udah deh, pokoknya yang terbaik aja. Yang penting anakku terlahir sehat dan selamat"
"Nggak cuman anaknya dong bu, nanti kalau ibunya nggak sehat yang ada bapaknya jadi keteteran"
Kay mengangguk paham
Tak dirasa, jam menunjukan pukul 5 sore,
Operasi yang dijalani Kay akan berlangsung 2 jam mendatang.
Wanita itu bahkan melupakan suaminya.
"Oh ya ampun, aku belum mengabari Rio" decaknya merasa kesal dengan dirinya sendiri.
Sedangkan dirumah, Rio mondar mandir memanggil nama istrinya.
"Bik,"
"Iya tuan"
"Dimana istriku? Dari tadi siang belum kembali ke kamar"
"Maaf tuan, bibik juga tidak tahu. Tadi bibik menemani nyonya makan sebentar, setelah itu beliau menonton tv. Setelah itu bibik tidak tahu lagi" jelas maid itu.
Rio berdecak kesal karna handphone Kay pun juga tidak dibawa.
"Apa jangan jangan nyusul mama ya?" Batinnya.
"Tapi nggak mungkin juga, mama kan udah berangkat sebelum dia turun ke bawah"
Rio kembali ke kamar untuk mengecek, siapa tau istrinya sudah kembali.
Drttt
Drttt
Rio menatap ponselnya yang berdering diatas nakas.
"Siapa ini?" Batinnya melihat nomor asing dilayar ponselnya.
Klik
Panggilan ditolak oleh Rio.
Pria itu malah menelpon mama nya
"Halo, ada apa?"
"Mama dimana?"
"Masih di acara, ini mau perjalanan pulang"
"Kayla ikut mama atau nggak?"
__ADS_1
"Loh, kamu gimana sih. Ya mama berangkat berdua sama papa"