Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Marah?


__ADS_3

"Yang beruntung itu justru pak Rio, dapat istri cantik, sabar, penurut, lembut lagi"


"Ya mereka berdua sama sama beruntung" bisik bisik para maid itu.


Ceklek


Rio membuka pintu kamarnya setelah menidurkan sang putra dikamar.


"Kamu kemana aja kemarin?" Tanya Rio.


Kay hanya diam sambil masih melanjutkan melipat mukenanya begitu juga Rio yang melipat sarung.


"Kok diem? Masih marah sama aku?" Rio mendekati Kay dan memeluk wanita itu.


"Nggak"


"Kok gitu sama suaminya"


Kay hanya diam. Ia melepaskan pelukan itu lalu membuka tasnya mengeluarkan sebuah kertas.


"Ini, besok datanglah"


Rio menerima amplop bertuliskan panggilan pengadilan agama itu.


"Apa ini?"


"Buka saja"


Rio membaca cermat surat panggilan untuk sidang perceraian.


"Apa apaan ini?!" Amarah Rio meluap.


"Apa kau tidak bisa membaca tuan Rio? Sini biar aku bacakan" Kay hendak menarik kertas itu.


Srekkk


Srekkk


Dalam hitungan detik kertas itu sudah tak berbentuk.


"Kenapa disobek?!" Kesal Kay.


"Sampai matipun aku tidak akan pernah menceraikanmu!"


"Lalu apa? Kau mau menjadikanku budak naffsu seumur hidupku?"


"Tutup mulutmu!!"


"Kau yang seharusnya menutup mulut!! Apa masih kurang dengan pengabdianku 4 tahun ini hah?!"


"Cukup!! Aku tidak akan pernah menceraikanmu apapun alasannya"


"Kenapa? Kau takut kehilangan Rean? Aku akan memberikannya padamu jika kau memang menginginkannya"


"Bukan hanya tentang Rean"

__ADS_1


"Lalu apa? Kau memiliki uang yang banyak jika hanya untuk memuaskan hassrattmu. Kenapa harus mempertahankanku jika hanya dengan alasan bodoh seperti itu"


"Karna aku mencintaimu. Kau dengar?! Aku, Rio Andhitama mencintaimu. Apa masih kurang?" Teriak Rio menggebu.


Kay terdiam


Semuanya hening, hanya terdengar helaan nafas dua manusia itu.


"Aku mohon Kay, jangan seperti ini. Aku tidak mau berpisah denganmu" suara Rio melemas nampak mengiba.


"Cih, seorang Rio mengiba?" Sinis Kay.


"Aku akan melakukan apapun untukmu asalkan kau tidak meminta untuk berpisah. Aku tidak akan sanggup. Aku mohon"


Rio memeluk tubuh istrinya bahkan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu.


Kay hanya diam mematung tak tahu harus bagaiamana.


"Aku mohon pertimbangkan aku, jangan seperti ini" air mata Rio membasahi leher jenjang istrinya.


"Rio jangan seperti ini" Kay mencoba melepaskan pelukan itu namun gagal.


"Aku mohon jangan mengucapkan kata kata itu lagi, aku tidak ingin berpisah. Maaf, maafkan aku jika aku banyak keliru. Tegur aku, pukul aku, tapi jangan seperti ini aku mohon"


Kay tertegun,


"Rio, jangan mengiba seperti ini jika hanya untuk anak. Kita bisa membesarkannya bersama tanpa ada hubungan. Rean tetaplah anak kita walaupun kita tidak lagi bersaama"


"Bukan, ini bukan tentang Rean. Ini tentang hatiku. Aku harus egois untuk kali ini. Tolong dengarkan baik baik, aku mencintaimu. Hanya saja aku bingung harus dengan cara apa aku mengutarakannya. Aku mengira kita baik baik saja. Tapi ternyata dugaanku salah. Aku sudah gagal" Rio menangkup pipi istrinya.


Cupp


Satu kecupan berubah menjadi sebuah lummatan


"Cukup!" Wajah Kay menunjukan kemarahan.


"Setuju ataupun tidak proses itu akan terus berlanjut. Dan aku mohon jangan halangi aku lagi" Kay menggebu.


"Kay aku mohon, jangan seperti ini. Aku tidak mau berpisah darimu. Demi apapun aku mencintaimu, sungguh"


"Sudah cukup Rio. Aku tak ingin mendengar omong kosong itu lagi. Jika kau benar benar mencintaiku, lepaskan aku. Biar aku bahagia dengan pilihanku. Kau terlalu egois, kau selalu bertindak semaumu sendiri dan menggap semuanya benar walau kenyataannya kau menyakitiku. Aku sudah lelah dengan hubungan ini"


"Kalau begitu ayo mulai dengan suasana yang baru. Dengan sikap yang baru bukan hubungan baru. Aku mohon"


"Sudah, lupakan semuanya. Aku sudah memaafkanmu dan aku ingin mulai hari ini kita hidup layaknya mantan suami dan istri yang sesungguhnya. Ingat, jaga batasanmu" Kay berjalan keluar dari kamar dan langsung masuk ke kamar putranya dan segera mengistirahatkan badan dan pikirannya.


Matanya terus saja menangis mengingat ucapan Rio. Hatinya seakan ragu dengan keputusan yang telah ia ambil. Namun otaknya pun menolak jika harus terus bersama pria itu. Semuanya akan berakhir sama, lebih baik perpisah saja. Itu akan lebih baik untuk dirinya walaupun Kay sadar pasti akan berdampak besar pada putranya.


Kay bertekad besok ia dan putranya akan segera kekuar dari mansion itu hendak tinggal berpisah dengan Rio.


Walau nyatanya tenpat tinggal barunya tak jauh dari mansionnya. Hanya berjarak 10 menit saja agar putranya tetap bisa bertemu sang papa setiap harinya.


Pagi hari,


Kay terbangun saat merasakan sesuatu berat menimpa tubuhnya.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya ia melihat Rio sedang tidur sambil memeluknya.


"Rio, lepas!" Kesal Kay.


"Eumm iya sebentar" ucap Rio masih belum melepaskan pelukan itu.


"Cepat lepas" suara Kay lebih keras dari sebelumnya membuat baby Rean mengerjapkan matanya bangun dan mulai menangis.


(semalam baby Rean menangis dikamarnya jadi Rio memutuskan untuk menidurkan putranya dikamarnya)


Mata Rio langsung terbuka mendengar tangisan putranya itu.


"Stt stt ada mama disini" Kay memeluk putranya itu.


"Papa, papa" panggil bocah itu semakin mengencangkan tangisannya.


"Hey, kenapa menangis? Ada papa disini" Rio mengangkat putranya kepangkuannya hingga bocah itu langsung terdiam.


"Papa" rengek bocah itu mendusel duselkan wajahnya.


"Iya papa disini, melek dulu" Rio mengusap puncak kepala putranya.


Bocah itu menatap papanya intens


"Ayo kita jalan jalan pagi dulu"


"Alan alan?"


"Iya, jalan jalan sama papa"


Bocah itu mengangguk


Rio mengajak putranya ke kamar mandi untuk membasuh wajah bantal dua pria tampan itu.


Rio pun mengganti pakaian Rean yang sudah disiapkan Kay dan langsung membawa putranya jalan jalan.


"Kau mau ikut?" Tawar Rio pada istrinya seolah tidak terjadi apa apa semalam.


"Tidak usah" tolak Kay membuat Rio mengangguk paham.


Rio membawa anaknya jalan jalan pagi. Itu adalah rutinitasnya setiap weekend. Dan kini ia mengajak putranya jalan jalan juga walaupun bukan weekend.


sepeninggal Rio, Kay menatap wajahnya dicermin.


"apa ini pemberian Rio?" batin Kay menatap sebuah kalung dengan liontin bertuliskan RK



"Cantik sekali" gumam Kay memuji kalung itu.


tatapannya beralih pada jari tangannya yang terpasang cincin pernikahan yang sama persis dengan yang Rio gunakan.


"apa aku harus melepasnya dalam waktu dekat ini?" Kay mengusap cincin itu perlahan.


hatinya mendadak bimbang dengan keputusannya.

__ADS_1


__ADS_2