Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
I'm Fine


__ADS_3

Setelah beberapa hari berlalu kondisi Rio berangsur membaik.


Pria itu sudah kembali membuka matanya.


"Rio, kau bangun" Kay tersenyum senang.


Rio hanya hampu tersenyum tipis merasakan nyeri di area dadanya.


"Aku ingin melihat Rean sebentar" pinta Rio membuat Kay mengangguk semangat.


"Rean sedang diluar bersama mama, biar aku panggilkan dulu" Kay berjalan keluar ruangan itu lalu membawa Rean kedalam ruang rawat diikuti keluarga yang lain.


Mama Tasya menciumi wajah putranya itu.


"Syukurlah nak akhirnya kamu bangun. Mana yang sakit?"


Rio tersenyum,


"Tidak ada ma" pria itu menenangkan.


"Papa papa" panggil bocah laki laki membuat Rio mengalihkan pandangannya.


"Kemari" pinta Rio tersenyum.


Kay mendudukan putranya disamping Rio.


Bocah itu menciumi wajah papanya menggambarkan bahwa bocah itu sangat merindukan sang papa.


"Rio, kata dokter..."


"Sudah, tidak apa apa. I'm fine, mom" Rio memotong ucapan mamanya.


Mama Tasya mengangguk paham dengan air mata yang terus mengalir.


"Jangan putus asa dulu. Masih banyak harapan" paruh baya itu mengusap kepala putranya.


"Tidak apa apa ma"

__ADS_1


"Memangnya dokter bilang apa ma?" Tanya Kay membuat ruangan menjadi hening.


"Kenapa semua diam?" Tanya nya heran.


"Tidak apa apa, hanya sebuah kemenangan" jawab Rio lirih.


"Kemenangan apa?"


"Tidak ada, tidak jadi"


"Ya sudah kalian bicara berdua dulu" ucap papa Roni lalu diikuti semua keluarga keluar dari ruangan itu kecuali Kay.


Wanita itu masih sibuk mengusap pipi pria yang masih berstatus suaminya.


"Kata dokter, sudah ada pendonor yang cocok untukmu. Semoga setelah ini kau bisa sembuh" ucap Kay lalu mengusap air mata disudut matanya.


"Kata dokter kemungkinannya kecil karna sel kanker sudah menyebar" Rio menggenggam telapak tangan Kay berusaha menguatkan wanita itu.


"Sudah berapa lama?"


"Hampir 4 tahun" Rio tersenyum kecut.


"Aku sudah melakukan pengobatanku dengan baik. Hanya saja nasibku yang kurang baik"


"Kapan kau melakukannya? Aku tak pernah melihatmu rawat inap?"


"Karna aku tak pernah mau rawat inap" jawab Rio tersenyum.


Wanita itu seolah meminta penjelasan lebih.


"Sudah jangan difikirkan, tidak penting juga"


"Aku membatalkan gugatanku, aku sudah bertekad untuk memperbaiki rumah tangga kita"


"Jangan.."


"Kenapa? Kau sudah tidak mencintaiku?"

__ADS_1


Rio tersenyum tipis, sejenak pria itu terdiam.


"Bukankah kau ingat aku pernah mengatakan padamu sebelum perpisahan ini?"


Kay nampak mengernyit mencoba mengingat ingat


"Jangan terallu beraharap, aku tidak mau kau kecewa" lirih Rio lagi.


"Kenapa? Kau punya wanita lain? Ayo katakan padaku Rio"


"Aku tidak bisa menjamin semuanya akan baik baik saja. Jangan berharap lebih, nanti kau kecewa.."


"Rio, katakan dengan jelas. Aku sama sekali tidak paham"


Rio terdiam sejenak,


"Dokter bilang aku sudah tidak lama lagi. Dan aku juga merasakannya. Jadi jangan mengharapkanku"


Jantung Kay terhujam


"Tidak tidak, kau akan sembuh sebentar lagi. Kau akan sehat, kita akan membesarkan anak kita bersama"


Rio hanya tersenyum tipis, air mata pria itu seolah menggambarkan segalanya.


Mulutnya terkunci tak mampu untuk berbicara.


Jika ia diminta memilih, dia tak akan memilih jalan takdir yang kejam seperti ini.


Usianya baru menginjak 30 tahun tapi tuhan mencabut nikmat hidupnya.


"Jangan menangis, kau harus tetap tertawa demi Rean" Rio mengusap telapak tangan wanita itu.


Kay menggeleng


"Jangan seperti ini, aku mau kita terus bersama. Aku tidak mau, maafkan ke egoisanku. Aku lalai menjadi istrimu sampai tidak tahu hal seperti ini" tangis Kay tersedu.


,,,

__ADS_1


yukk dukung karya author yang baruu



__ADS_2