Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Kehilangan Segalanya


__ADS_3

Hari ini Al memantapkan dirinya untuk datang kerumah papa Bryan dan mengatakn semua tentang hubungannya dengan Zifa pada mertuanya itu.


Al sudah berada diruang tamu rumah megah itu


"Al, ada apa? Tumben sendiri? Mana Zifa dan anakmu?" Tanya papa Bryan.


"Al ingin berbicara penting pada papa"


"Tentang apa? Katakan saja"


"Papa, maafkan Al. Tapi Al sudah menyerah"


"Maksudmu?" Papa Bryan bingung karna merasa hubungan Al dan putrinya baik baik saja.


"Xifa dan Al msmutuskan untuk hidup masing maisng"


"Maksudmu bercerai?" Papa Bryan nampak terkejut.


"Tidak pa, Al membebaskan Zifa untuk berhubungan dengan lelaki manapun. Jikapun dia sudah menemukan yang terbaik, baru Al akan melepasnya"


"Itu sama sama brensekk" amarah papa Bryan memuncak.


Bughh


Satu pukulan mendarat dipipi Al.


"Sebenarnya apa maumu?! Dulu kau mengemis ingin memilikinya namun sekarang kau malah membuangnya begitu saja?!!"


"Maaf pa, Al hanya ingin Zifa bahagia"


"Apa kau pikir dengan seperri ini hidup kalian akan sama sama bahagia?!! Hei ingat kalian sudah punya anak!! Gunakan otakmu untuk berfikir" maki papa Bryan.


"Katakan padaku apa yang kau sembunyikan?"


"Al tidak menyembunyikan apapun pa"


"Kau berbohong! Tidak mungkin!!"


"Pa Al tidak berbohong"


"Leukimia stadium akhir" sebut papa Bryan membuat Al mendongak.


"Ba bagimana papa bisa.."


"Aku tahu semuanya Al!!" Mata papa Bryan memerah.


Al hanya terdiam


"Pa, tujuan utama Al kesini yaitu Al ingin menitipkan Zifa sejenak pada papa. Al ingin melakukan pengobatan diluar negeri"


"Istrimu tidak mengetahuinya?"


Al menggeleng


"Jangan sampai dia tau, cukup papa dan asistenku yang tau" tegas Al.


"Orang tuamu?"


"Mereka juga tidak tau, dan kuharap jangan sampai mereka semua tahu"


"Pergilah, tapi kau harus berjanji untuk kembali" tegas papa Bryan.


"Pa, Al tidak bisa berjanji. Karna kemungkinan besarnya hanya akan ada sebuah jasad yang akan kembali"


"Al, jangan seperti ini. Papa tidak suka".papa Bryan meneteskan air matanya.


"Al tidak berhasil mendapatkan pendonor pa. lagipula Al sudah cukup bahagia aku harap nanti papa bisa bantu menjelaskan pada Zifa agar tidak kaget saat melihat keadaanku nanti"


"Al kau harus yakin bahwa kau pasti sembuh. papa akan membantu mencari pendonor untukmu"

__ADS_1


"Al hanya tidak mau membuat papa terlalu berharap besar padaku sedangkan aku sendiri tidak yakin dengan semuanya"


"Loh, papa, kenapa menangis?" Mama Mia heran menatap suaminya meneteskan airmatanya sedang mata Al nampak memerah menahan tangisnya.


"Tidak apa apa ma, ini hanya sebuah negosiasi saja" jelas papa Bryan agar istrinya tidak khawatir.


"Ya sudah ma pa, Al pamit dulu"


"Loh, kok cepet cepet?"


"Enggak papa ma, Al buru buru" Al menyalami kedua mertuanya itu.


Mama Mia terheran namun ia juga enggan bertanya. Batinnya penuh curiga dengan sehalanya.


Sesampainya dirumah, Al mulai mepaking barangnya dikoper.


Tidak banyak, hanya beberapa lembar baju saja.


Langkahnya mendekat kearah putranya yang sedang merangkak kearahnya.


"Aduhh sini anak dady" Al menggendong putranya yang selalu nampak ceria itu.


Zifa keluar dari kamar memberikan ruang untuk Al dan putranya.


"Anak dady udah tambah gemes aja sih" Al menciumi pipi putranya itu.


Tanpa sadar air mata ikut membasahi pipi putranya.


"Ahh maafkan dady membuat wajahmu basah" Al mengusap wajah putranya dengan tisu.


"Tugas dady udah selesai, sekarang giliran tugas anak dady yang paling tampan ini untuk menjaga momy. Berjanjilah pada dady untuk menjaga momy sebaik mungkin" Al berucap seolah putranya tau apa yang diucapkannya.


"Besok dady berangkat keluar negeri, dan mungkin itu terakhir kali nya dady melihatmu"


Al kembali menciumi wajah putranya itu.


"Jadi anak yang nurut sama momy ya Dev. Jangan jadi pengecut seperti dady. Dady harap kau tidak akan mendapat keburukan selama hidupmu. Biar dady yang tanggung semuanya"


Keesokan harinya,,


Al akan berangkat menuju bendara


Pagi tadi ia sudah menyempatkan untuk menemani putranya bermain.


"Aku berangkat dulu, kabari jika terjadi sesuatu" Al mengusap lembut kepala istrinya itu.


"Al, kenapa aku merasa kau akan pergi jauh"


"Tidak jauh, hanya negara X seperti dulu. Aku janji untuk kembali secepatnya" ucap Al


"Sebagai jasad" lanjutnya dalam hati.


"Baiklah, hati hati" ucap Zifa lembut.


Semuanya nampak berbeda, dulu saat Al akan ke negara itu dipenuhi drama karna istrinya yang tak mau berpisah. Dan kini semuanya terasa dingin dingin saja.


Tak ada air mata maupun kata manis terucap dari mulut istrinya itu.


2 bulan sudah Al berada dinegara X dengan segala pengobatannya.


Dan kini Al ditemani asisten Rio untuk konsultasi dengan dokter.


"Apa sudah ada perkembangan dok?" Tanya Al penasaran.


Dokter itu menghela napasnya.


"Dari semua rekam medis anda belum ada kemajuan sejak beberapa bulan yang lalu" jawab Dokter itu membuat Al harus kembali menelan kekecewaannya.


"Tidak apa apa, kami akan mengusahakan semuanya"

__ADS_1


"Baik dok terimaksih"


Al kembali ke apartemen miliknya


Ia menatap tubuhnya didepan cerimin. Sangat memprihatinkan.


Badannya kini kurus dengan wajah tirus. Sudah tak ada lagi aura ceria diwajah pria tampan itu. Wajahnya pucat.


Pria itu tersenyum miris melihat darah yang mengalir begitu saja dari hidungnya.


Tubuhnya seolah sudah matirasa dengan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.


Pria itu meraih tisu lalu menghapus darah dari hidungnya.


"Rio, apa kau sudah mengurusnya?"


"Sudah tuan"


"Apakah dia sudah menerimanya?"


"Sepertinya sudah tuan"


Di tanah air,,,


Zifa membeku melihat berkas ditangannya.


Berkas pertama berisi pemindahan semua harta miliknya untuk istri dan anaknya.


Sedangkan satu surat lagi berisi panggilan dari pengadilan agama untuk sidang perceraian.


Dengan cepat Zifa menelpon Al


"Halo, apa ada masalah?" Suara Al dari seberang.


Suara yang dirindukannya selama ini


"A al, a apa maksud ini semua?" Suara Zifa bergetar.


"Ini sudah kesepakatan kita bukan?"


"Tidak! Aku meminta saat aku sudah memiliki lelaki pilihanku" Zifa protes.


"Maafkan aku Zifa, tapi aku disini sudah mendapatkan wanita pilihanku" bohong Al.


"Ma maksudmu?" Suara Zifa tercekat.


"Maaf, mungkin ini yang terbaik untuk kita" ucap Al lalu mematikan panggilan itu.


Al bersandar di dinding,


Tubuhnya merosot ke lantai bersamaan dengan air matanya.


"Bos, jangan seperti ini" asisten Rio turut prihatin.


"Aku sudah kehilangan segalanya" Al tersenyum getir.


"Tidak bos, masih ada aku"


Al mendongakan wajahnya


"Rio,.maaf mulai hari ini aku memecatmu" ucap Al berat.


"Tapi bos"


"Kau mau melihatku seperti ini sampai aku mati nanti? Bukankah kau lebih baik mencari pekerjaan yang tidak membuang waktumu"


"Bos jangan berkata seperti itu"


jangan lupa Like dan komen sebanyak banyaknya.. share ke temen temen kalian buat bantuin author promo🄰

__ADS_1


__ADS_2