
"Maksudmu?"
"Aku ingin kita bercerai saja dan menjalani hidup masing masing"
"Kenapa? Apa aku berbuat salah?"
"Tidak, aku justru merasa hanya beban untukmu. Aku harap kau mengerti keinginanku"
Kay memundurkan langkahnya sedikit takut melihat wajah Rio yang berubah.
"Apa katamu tadi? Coba ulangi"
"A aku hanya menjadi bebanmu"
Rio mendudukan dirinya disofa kamar itu.
"Kemarilah" titah Rio tak terbantahkan.
"Tidak mau" Kay menggelengkan kepalanya takut.
"Kenapa? Kau takut padaku?" Tanya Rio.
Kay mengangguk jujur.
"Cepat kemari!" Titah Rio lagi membuat Kay mau tidak mau harus mendekat.
Setelah sudah mendekat Rio menarik istrinya hingga terduduk dipangkuannya.
"Kau mengatakan kau hanya menjadi bebanku?"
Kay kembali mengangguk
Rio langsung melllummat bibir manis istrinya itu hingga Kay terbelalak kaget.
"Eummmm" Kay berusaha melepaskan diri namun Rio semakin mendorong tengkuknya.
"Hah hahh" nafas Kay terengah saat Rio melepaskan ciumman itu.
Rio mengangkat daster milik istrinya lalu menarik dallamann yang digunakan wanita itu dan membuangnya asal dilanjutkan membuka resleting celananya.
"Rio, kenap..."
"Argghhh"
Ucapan Kay terpotong saat merasakan benda milik suaminya itu mas uk kedalam mil iknya.
"Shhh" ringis Kay merasa sakit dibagian intinya jarna belum melakukan pemana san. Selain itu karna Rio sudah lama tak menyen tuhnya.
"Sakit?"
Kay mengangguk lemah
"Maaf" Rio menciumi wajah istrinya.
"Kenapa diam?" Tanya Rio heran melihat istrinya tak bergerak sama sekali.
"Aku tidak tau bagaimana caranya" jujur Kay dengan wajah merona.
"Oh ya ampun" decak Rio heran.
Pria itu mulai menuntun istrinya bergerak sesuai keinginanya.
"Rio, aku lelah" keluh Kay yang dari tadi bergerak dan sudah mendapatkan beberapa kali pelep asan.
Rio hanya diam lalu membopong Kay menuju ranjang. Pria itu langsung melepaskan cellannya begitu saja dan kembali memulai aksinya walaupun Kay masih menggunakan dasternya.
__ADS_1
"Rio, sudah. Aku sudah sangat lelah" keluh Kay mencengkram lengan Rio karna dari tadi suaminya itu belum menyelesaikan permainanya.
"Belum, masih lama"
Setelah beberapa menit berlalu Rio juga masih belum memperlihatkan tanda tanda menyelesaikan permainanya.
"Rio, kumohon sudah" tangis Kay pecah merasakan badannya remuk semua karna ulah suaminya.
"Sedikit lagi Kay"
"Arghhh" erangan Rio menandakan pria itu telah menyelesaikan permainannya.
"Maaf" sesal Rio melihat wajah pucat istrinya yang kelelahan itu.
"Jangan pernah katakan hal itu lagi" peringat Rio tegas membuat Kay mengangguk lemas.
"Istirahatlah" Rio beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Kay menatap sendu punggung Rio yang menghilang dari balik pintu kamar mandi.
Terkadang Kay bingung. Rio selalu bertindak sesukanya seakan mencintainya padahal nyatanya suaminya itu tak pernah mengatakan hal itu. Hanya saja Kay ingat jika pria itu pernah mengatakan akan belajar mencintainya dan memang terbukti Rio memanggilnya dengan panggilan 'sayang' sebagai langkah awal.
Namun bagaimanapun, Kay butuh ungkapan yang pasti. Jika hanya seperti ini Kay malah hanya merasa menjadi pelampiasan has rat pria itu.
Dirumah Al,
Kehamilan Zifa sudah menginjak minggu ke 12. Namun nyatanya putranya masih enggan berada didekat wanita itu.
Dev lebih memilih menginap dirumah papa Bryan maupun papa Farhan.
Hari ini kebetulan Dev sedang di kamarnya. Sesuai usulan Rio, Al sudah membelikan hadiah untuk putranya.
"Ini, berikan pada Dev dan katakan ini pemberian adik bayi. Dia pasti akan luluh" ucap Al lembut pada istrinya.
"Coba saja dulu"
Zifa mengangguk, ia melangkah menuju kamar putranya.
Tok tok tok
Ceklek
Zifa membuka pintu kamar putranya.
"Sayang, ayo sini duduk sama momy" punta Zifa lembut oada putranya.
Dev yang sedang bermain pun mau tidak mau menurut dan ikut duduk diranjang bersama sang momy.
"Apa Dev cemburu karna ada adik bayi?" Tanya Zifa hati hayi membuat bocah itu terdiam.
"Kenapa cemburu? Dady dan momy pasti akan menyayangi kalian berdua. Kalian akan mendapatkan kasih sayang yang sama" Zifa mengusap rambut putranya itu.
"Apa momy sayang Dev?" Tanya bocah itu.
"Momy sangat menyayangimu. Sangat, kau putra momy yang paling tampan. Kau adalah satu satunya laki laki kesayangan momy"
"Dady?" Tanya bocah itu menanyakan posisi dady nya dihati sang momy.
"Dady nomor 2. Dan nomor satunya adalah putra momy yang tampan ini" jelas Zifa.
"Ayo sekarang cium momy"
Bocah itu mengangguk dan mencium momy nya.
"Dev sayang momy kan?"
__ADS_1
"Iya, Dev sayang momy" jawab bocah itu antusias.
"Kalau begitu berarti Dev juga harus sayang adik bayi. Ini adik Dev, nanti kalau sudah lahir Dev jadi punya temen baru. Disaat temen temen Dev belum punya adik Dev malah sudah punya adik. Bukankah harusnya Dev senang. Lagipula pasti adik sedih karna tidak disayang oleh kakaknya. Bagaimana"
"Iya momy, Dev sayang adik"
"Ini, ada hadiah dari adik bayi untuk kakak kesayangannya"
"Dari adik?" Tanya bocah itu bingung.
"Iya dari adik"
"Momy, Dev sayang adik" bocah itu memeluk tubuh momy nya.
"Ini, adik Dev disini" Zifa mengarahkan tangan mungil itu diperutnya.
Bocah itu mengangguk antusias
Malam hari,
"Gimana? Dev mau?" Tanya Al yang baru saja pulang dari kantor.
"Iya, dia mau" jawa Zifa berbinar.
"Hmm baguslah kalau begitu"
"Dady, cepat mandi sana" ucap Zifa mendorong tubuh suaminya.
"Kenapa memangnya?"
"Anak kita mau dipeluk dady nya. Tapi pengen dadynya mandi dulu"
Al tersenyum penuh arti
"Anaknya atau momy nya?" Goda Al.
"Dua duanya, cepett" Zifa mendorong Al menuju kamar mandi.
Waktu berjalan begitu cepat,
Tak dirasa, kini usia kandungan Zifa sudah memasuki bulan ke sembilan.
Al selalu siap siaga jika setiap saat istrinya melahirkan.
Tak dirasa hari ini adalah aniversary pernikahan Rio dan Kay yang ke 2 tahun.
Tidak ada perayaan dihari aniv itu.
Nampak Kay sedang duduk dibalkon sambil menatap bintang yang gemerlapan dilangit.
Ia menghe napasnya,
"Dia belum pulang juga?" Gumamnya karna suaminya belum juga pulang bekerja.
Bibirnya mengukir senyum getir menatap gelapnya malam.
"Aku tidak yakin kalau dia ingat dengan hari ini"
Ceklek
Kepala Kay menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka menampakan suaminya yang baru saja pulang dengan wajah lesunya.
"Kau kenapa? Ada masalah?" Tanya Rio mendekat ke arah Kay.
"No, i'm fine"
__ADS_1