
"4 tahun rumah tanggaku tapi nggak ada kemajuan ma. Semuanya hampa dan dingin. Kita udah beberapa kali nyoba memperbaiki tapi nyatanya semua berakhir sama. Lebih baik jika seperti ini saja, beberapa hari yang lalu aku sudah membicarakan baik baik dengan Rio tentang perpisahan. Tapi dia menolak keras"
"Itu karna Rio mencintaimu. Jadi dia enggak mau melepasmu"
"Enggak ma, hubungan kami hambar. Saat kutanya perasaannya padaku dia tidak bisa menjawab. Tapi saat kutanya apa yang membuat dia kekeh mempertahankan rumah tangga ini katanya karna anak semata"
Papa Bryan tersenyum
"Laki.laki memang seperti itu. Apalagi seperti Rio. Dia tipe laki laki yang sulit mengatakan isi hatinya. Dengan diia mempertahankanmu selama ini sudah bisa ditebak bahwa dia mencintaimu. Jika dia memang tak mencintaimu dari awal, kenapa dia mau dipaksa menikah padahal dia tau dirinya.punya kekuasaan untuk menolak. Dan lagi, saat kau mengatakan bahwa kau hamil bukan anknya dan yang utama, disaat kau keguguran. Dia masih nekat mempertahanmu, apalagi itu jika bukan cinta"
"Tapi dia tidak pernah memgatakanmya pa, komunikasi kita pun sangat minim"
"Rio itu tipe pria kaku yang sulit untuk mengutarakan perasaannya. Apalagi dengan hubungan kalian yang kamu bilang hambar, itu juga menjadi faktor utama. Dia merasa dirinya sudah memberimu dan Rean kasih sayang semaksimal mungkin walau tanpa ucapan romantis, sedangkan kau merasa dia tak ada effort sama sekali. Coba komunikasikan lagi dengan baik. Papa yakin semua akan baik baik sjaa"
"Kay sudah berkali kali mencobanya pa, tapi kenyataan nya tetap seperti ini. Kay menyerah saja"
"4 tahun bukan waktu yang singkat nak, apalagi kalian sudah memiliki anak. Berpisah itu mudah, yang sukit itu bekerja sama untuk merawat anak kalian bersama. Itu bukan hal mudah, diperlukan kedewasaan sepenuhnya tanpa ego. Dan itu lebih sulit dari yang kau jalani saat ini" mama Mia menambahi.
"Lalu aku harus bagaimana ma, pa?"
"Berlibur sejenak, tengkan pikiranmu dan pikirkan semua matang matang. Papa akan membantumu peegi tanpa sepengetahuan Rio"
"Benarkah pa?" Mata Kay berbinar.
"Ya, hanya 3 hari. Setelah itu selesaikan semuanya. Ambil keputusan terbaikmu"
Kay mengangguk semangat
Sesuai janjinya beberapa jam kemudian Kay sudah terbang menuju sebuah pulau milik papa Bryan.
Pria itu menyurub anak buahnya dan beberapa maid rumahnya untuk membantu Kay selama 3 hari dipulau itu.
Sore hari
"Kok tumben sepi?" Batin Rio tak melihat putranya bermain di ruang tengah.
Pria itu langsung menuju kamar dan membersihkan diri.
Setelah selesai, Rio berjalan menuju kamar putranya.
"Rean, papa pulang" suara Rio tak disahuti.
__ADS_1
Pria itu juga kaget tidak melihat keberadaan istri dan anaknya.
"Mbak, istri sama anakku kemana nbak?" Tanya Rio pada maid disana.
"Loh, tadi nyonya Kayla pamit pergi dengan baby Rean setelah bapak berangkat. Saya kira malah menyusul anda ke kantor"
Wajah Rio memerah penuh amarah kala menyadari istrinya pasti keluar dari rumah.
Pria itu kembali ke kamar mengambil handphone nya dan menelpon ke nomor istrinya.
"Sial! Dia nggak bawa handphone" umpat Rio melihat beberapa kartu dan juga handphone yang Kayla tinggalkan dan bisa dipastikan istrinya akan sulit dilacak.
Mata Rio menatap sebuah kertas, pria itu membuka kertas itu.
"Rio, aku pergi sebentar. Jangan khawatirkan aku. Aku tidak akan lama. Akan kupastikan anak kita aman bersamaku"
"Shitt!! Dia pergi?!" Wajah Rio sudah dipenuhi amarah.
Pria itu langsung menelpon anak buahnya untuk mencari tahu keberadaan Kayla.
1 jam kemudian,
"Halo bos"
"Nyonya Kay terakhir menggunakan taksi ke rumah tuan Bryan hendrawan. Lalu setelah itu jejaknya hilang. Kelihatannya nyonya juga sudah tidak berada di mansion itu"
"Arghh siall!" Rio membanting ponselnya ke ranjang.
Pria itu langsung mengambil kunci mobil dan melajukan mobilnya ke kediaman papa Bryan.
"Ada keperluan apa tuan kemari?" Tanya seorang penjaga di depan gerbang.
"Saya mau ketemu papa Bryan, aku sudah buat janji" bohong Rio.
Pengawal itu pun mempersilahkan Rio untuk masuk.
"Rio Adhitama, ada apa kau mencariku" suara papa Bryan memenuhi ruang tamu rumah megah itu.
"Dimana istriku?" Tanya Rio to the point.
"Aku suka anak muda yang tidak banyak basa basi sepertimu"
__ADS_1
"Jangan banyak bicara, cepat katakan dimana istriku" tegas Rio lagi tanpa rasa takut.
"Kenapa kau mencarinya?"
"Tentu saja karna dia istriku"
"Dia sedang liburan"jawab papa Bryan singkat.
"Tidak mungkin, kau pasti menyembunyikannya. Cepat katakan dimana istriku"
"Memangnya kenapa kalau aku menyembunyikannya? Bukankah kau tidak mencintainya tuan Rio yang terhormat?"
"Dia pergi bersama anakku"
"Oke, kalau begitu besok akan kubawa Rean ke hadapanmu. Hanya Rean, tidak dengan Kayla"
"Bagaimana bisa seperti itu! Dia istriku, tidak sepantasnya kau menyembunyikannya"
"Bukankah kau diberi waktu 10 hari untuk berfikir? Tinggal 4 hari lagi, kenapa kau jadi pusing begini? Dengan ataupun tidaknya kau berfikir, tetap akan berakhir sama kan?"
"Apa yang kau tau, aku dan Kay baik baik saja"
"Bagaimana bisa menyebut rumah tanggamu dengan putriku baik baik saja kalau nyatanya Kayla menggugat cerai kamu" sinis papa Bryan.
"Kita hanya salah paham saja"
"4 tahun, menurutmu dalam waktu itu apa effortmu mempertahankan rumah tanggamu?"
Rio terdiam, pria itu seolah tak memiliki jawaban.
"Kau diam? Kau tak punya jawaban?"
"Aku diam bukan berarti aku tak memiliki jawaban, aku menyayanginya selama 4 tahun ini. Aku selalu berusaha memberikan apa yang dia inginkan"
"Apa yang dia inginkan? Memangnya apa yang pernah dia minta?"
Rio terdiam,
Ia baru sadar selama ini istrinya tak pernah meminta apapun padanya kecuali waktu dan kasih sayangnya.
"Huhh, tak kusangka pengusaha sehebat kamu ternyata lemah dalam urusan cinta" ledek papa Bryan.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Kau mencintai Kayla dan kau belum menyadari itu"