Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Amarah yang Berkobar


__ADS_3

"ini untukmu, siapa tau kau memang terlalu miskin sampai setiap hari menumpang dimobil suamiku" Kay langsung memasukan uang itu disaku blazer milik Nesya.


"nyo nyonya.." Nesya tergagap.


"tidak usah sungkan, jika kau juga kekurangan makanan kau juga boleh mengemis dirumahku. nanti akan kuberi makanan yang enak" sindir Kay lagi.


"kenapa? kok diam?" Kay tersenyum penuh kemenangan.


"oh ya, ini aku ada sesuatu untukmu"


Kay memberikan sebuah paperbag yang berisi barang belanjaannya tadi.


sebelum ke restoran, Kay sempat mampir ke sebuah butik untuk mengambil pesanan nya.


"ini berisi lingeri bagus. mungkin cocok untukmu" raut wajah Kay terlihat sangat menghina.


"nyo nyonya.."


"tidak usah sungkan begitu, aku ikhlas kok walaupun harganya tidak murah. santai saja. tapi kurasa sedikit kebesaran di dadamu itu. kau tau kan dadaku lebih besar"


wajah Nesya sudah memerah padam ingin mencakar wanita di depannya.


"jangan tersinggung begitu, dadaku besar karna aku sudah punya anak. ah tapi memang kelihatannya punyaku lebih bagus. sepertinya kau perlu perawatan agar tidak kendur" Kay tersenyum penuh kemenangan.


batinnya mengumpati wanita tak tau diri itu.


"Kay,," Rio berbisik seolah mengingatkan istrinya.


"apa kau butuh info om om kesepian? aku memiliki beberapa kandidat yang cocok untukmu"


"ayo nak kita pulang" Kay menggandeng putranya tak memperdulikan Rio yang masih mengobrol dengan Nesya sepertinya pria itu meminta maaf atas perbuatannya.


"mama menangis?" tanya Rean melihat setitik air mata dipipi sang mama.


"hah? enggak kok. mama cuma kelilipan" Kay segera menghapus air mata itu dan segera memasukan putranya ke mobil tak peduli dengan suaminya yang tadi ingin mengantarnya.


"tunggu" Rio membuka pintu kemudi dan meminta istrinya untuk pindah.

__ADS_1


"tidak usah, biar aku yang mengemudi" tolak Kay enggan menatap Rio.


pria itu menghela napasnya. ia melangkahkan kakinya ke samping kursi kemudi.


"papa, mau pangku" pinta Rean membuat Rio mengangguk setuju.


"sini"


sepanjang perjalanan mereka hanya diam. hanya sesekali ocehan Rean membelah kesunyian.


"papa, tadi mama kelilipan"


"kelilipan? kok bisa?"


"tidak tau, tadi mama menangis. saat rean tanya katanya kelilipan" ucapan putranya membuat Rio terdiam.


tak lama kemudian Kay mulai menambah kecepatannya di jalan yang lenggang.


"Kay, pelan pelan ada anak kita disini" tegur Rio halus walaupun putranya hanya diam saja.


sesampainya dirumah Rio turun lalu menyerahkan Rean pada baby sitter.


wanita itu mengendari motor sport yang memiliki cc tinggi.


ia membelah jalanan kota yang sepi itu dengan kecepatan tingginya.


"sialan kau!!" umpat Kay berteriak dijalanan meluapkan emosinya.


air matanya tak henti hentinya mengalir mengisyaratkan pedih yang dalam.


"brensekk kau Rio!!" teriak Kay lagi menambah kecepatannya.


tin tinnn


suara klakson motor dari belakang membuat Kay memelankan kecepatannya.


"Kay jangan ngebut, bahaya!" tegur seseorang yang juga mengenakan motor laki laki sepertinya.

__ADS_1


"sial! malah ada dia" umpat Kay karna Rio lah yang menyusulnya.


Kay menambah gas nya membelah jalanan sunyi. wanita itu tak peduli dengan suaminya yang masih mengikutinya dari belakang.


"sialan!" kesal Kay karna suaminya memepetnya dijalan hingga membuatnya mau tak mau berhenti.


"turun!" titah Rio tak terbantah.


"tidak!"


"cepat turun!"


"ck" Kay turun dari motor besar itu.


"cepat naik" titah Rio agar istrinya memboncengnya.


"tidak mau"


"cepat! biar motor itu diurus anak buahku" titah Rio tak terbantah.


akhirnya Kay ikut naik di motor suaminya.


"kau ingin kebut kebutan kan? biar kuperlihatkan kebut kebutan yang benar"


Rio langsung memacu gasnya dengan kecepatan tinggi.


Kay mulai bergidik dan memeluk punggung tegap itu.


"pelan pelan bodoh!" teriak Kay ketakutan.


Rio masih diam tak memperdulikan.


motor pria itu memecah jalanan sunyi kota itu.


hanya terdengar suara kenalpot kecepatan tinggi.


"kau mau membunuhku ya!!" teriak Kay lagi tak membuat Rio bergeming.

__ADS_1


pria itu terus memacu gasnya hingga Kay hanya mampu memeluk tubuh tegap itu.


tangis Kay pecah melampiaskan amarahnya. rasanya udara malam membuatnya ingin berteriak sekencang kencangnya.


__ADS_2