
"Jangan panggil aku dengan paggilan palsu itu lagi. Aku sudah cukup terluka setiap mendengar panggilan 'sayang' itu padaku padahal kenyataannya kita tidak seharmonis itu"
"Maaf, maafkan aku. Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk menumbuhkan cintaku untukmu"
"Tidak perlu, aku sudah tidak membutuhkannya. Yang kubutuhkan hanya kerjasama yang baik untuk merawat anak kita hingga dewasa nanti. Entah kita bersama ataupun tidak, yang pasti aku hanya berharap kita bisa menjadi partner yang baik"
"Pasti aku akan melakukannya"
"Dan satu lagi,,"
"Katakan.."
"Jangan pernah berbohong lagi padaku. Katakan saja sejujurnya meski itu menyakitkan untukku. Aku tau selama ini ada seorang wanita yang terus mengejarmu. Kau memang tak meresponnya secara intens, tapi dengan caramu tidak menghalanginya itu menandakan kau juga tidak keberatan didekati oleh wanita itu"
"Kay, kau salah paham. Itu bukan seperti,,"
"Jangan menjelaskannya, aku sudah tau semuanya. Aku hanya berharap kau jangan pernah menyesal dengan semua keputusanmu. Apapun keputusanmu nantinya aku akan menerimanya. Kau dan aku sama sama pantas untuk bahagia. Jika bahagiamu bukan bersamaku, kejarlah. Aku tidak akan mempermasalahkannya asalkan kau mengatakan sejujurnya padaku. Nanti jika sudah saatnya aku juga akan mengejar kebahagiaanku sendiri. Jadi jangan menyia nyiakan kesempatanmu" Kay mengusap lembut punggung tangan pria itu.
"Kay, aku ingun meluruskan kesalahpahaman ini"
"Katakan jika menurutmu benar"
"Aku tidak menganggap wanita itu. Aku membiarkannya karna dia memiliki kualifikasi bagus untuk kemajuan perusahaan. Cara kerjanya juga bagus bahkan nyaris sempurna. Perusahaan memerlukan pegawai sepertinya. Jadi aku membiarkannya berkeliaran disekitarku"
"Sudah?" Tanya Kay membuat Rio mengangguk.
Kay tersenyum lembut,
"Apapun itu, aku serahkan semua padamu. Sudahlah, aku lelah. Ingin tidur saja" ucap Kay lalu segera memperbaiki posisi tidurnya dan memejamkan mata.
"Maaf" sesal Rio menatap wajah tirus istrinya itu.
Setelah beberapa bulan berlalu, kini kandungan Kay sudah menginjak usia enam bulan.
Wanita itu tetap bisa berdiri tegak meski nyatanya harus sering kali pingsan dan merasakan sakit hebat ditubuh dan kepalanya terutama saat darahnya kembali tidak stabil.
Berat badannya sudah kembali normal karna Rio mengatur ketat makanan yang dimakan ibu hamil itu.
Kemarin dokter sudah berpesan agar Kay mengurangi porsi makannya agar bayi yang dikandungnya tidak tumbuh berlebihan karna luka jahitan bekas operasi Kay mulai kembali membuka.
"Shhh" Kay meringis menahan sakit setiap anaknya menendang karna membuat luka operasinya terasa sakit.
"Huhh ternyata benar kata dokter, ternyata terburu buru itu tidak baik" desah Kay.
"Kenapa nak? Sakit ya?" Tanya mama Tasya.
__ADS_1
Semenjak Rio kembali pulang, ia memutuskan tak kembali ke amerika. Ia justru memutuskan pindah ke mansion utama karna ada mama Tasya yang bisa menjaga Kay jika sewaktu waktu drop.
"Hmm lumayan ma, tiap nendang luka bekas operasinya jadi kerasa sakit" jawab Kay jujur.
"Kamu udah ngomong sama Rio?"
"Udah ma, Rio juga udah konsultasi sama dokter. Udah dikasih obat juga ma"
"Ya udah, yang penting aman aman aja. Kalau ada keluhan lagi langsung ngomong biar cepet nanganinya"
Kay mengangguk paham
"Hari ini ada perayaan ulangtahun perusahaan. Kamu mau ke kantor Rio nggak?" Tawar mama Tasya.
Kay terdiam
Suaminya saja bahkan tak mengatakan apapun walau sekedar mengajaknya ke acara penting itu.
"Enggak deh ma, Kay lagi males keluar rumah"
"Emangnya Rio nggak ngasih tau kamu?" Tebak mama Tasya melihat raut wajah Kay yang berubah.
Kay menggeleng
"Ck, anak itu. Ya udah kamu kesana bareng mama"
"Enggak, pokoknya harus ikut" paksa mama Tasya.
"Udah, siap siap sana gih. Mama juga mau siap siap"
Setelah selesai bersiap, mama Tasya sempat tertegun dengan penampilan menantunya yang tak seperti biasanya.
Biasanya Kay mengenakan dress longgar dibawah lutut dan berlengan.
Namun kali ini berbeda, Kayla nampak mengenakan sebuah dress hitam presbody yang menempel sempurna ditubuh putihnya.
Ditambah dress itu hanya sebatas paha dan juga tanpa lengan dengan potongan leher terbuka hampir mengekspos dadanya yang terlihat menonjol itu.
"Tumben pake baju kayak gini" tanya mama Tasya kepo.
"Kay lagi pengen pake baju ini aja ma, lagian juga belum pernah dipake"
Mama Tasya mengangguk mengerti
"Kamu kelihatan lebih fresh dan cantik pake baju ini" puji mama Tasya jujur.
__ADS_1
Kayla hanya tersenyum malu malu
Mereka berdua pun diantar sopir menuju perusahaan Rio.
Saat baru saja sampai, ternyata gedung itu sudah diisi banyak manusia yang siap merayakan hari jadi perusahaan.
Tamu undangan sudah duduk rapi dikursi yang sudah disediakan.
Mata semua tamu terfokus pada mama Tasya dan Kayla yang berjalan tegas dikarpet merah ruangan itu.
"Bukankah itu istri tuan Rio"
"Istrinya cantik bukan maen"
"Wanita hamil itu istrinya tuan Rio kan? Cantik sekali"
Kata kata pujian terlontar dari para tamu yang menatap kecantikan Kay yang memancar walaupun wanita hamil itu mengenakan kacamata hitamnya.
Rio yang tadinya sedang berbicara dengan sang papa, kini menyipitkan ke dua matanya melihat wanita berjalan mendekat ke arahnya.
Papa Roni tersenyum melihat kedatangan istri tercintanya.
"Mama, kenapa nggak bilang papa dulu. Tau gitu tadi papa jemput sebentar" ucap papa Roni yang masih saja romantis meski usianya tak muda lagi.
Mata Kay melirik ke kanan dan kekiri dari balik kacamata hitam itu.
"Kayla" panggil Rio yang sejujurnya merasa sedikit asing dengan wanita didepannya.
Kayla melepas kacamatanya lalu mengibas rambutnya yang tergerai.
Mata Rio membola sempurna melihat penampilan istrinya yang menurutnya tak wajar itu.
Matanya meneliti dari bawah,
Kay menggunakan hels 5 centi. Pandangannya naik hingga dress istrinya yang hanya menutupi pahanya saja hingga betis wanita terekspos sempurna. Pandangannya naik melihat perut buncit istrinya yang tercetak jelas karna dress yang ketat itu.
Perlahan pandangan itu semakin naik melihat dada istrinya yang menonjol dan juga potongan dada baju itu hampir terbuka.
Mata Rio semakin tajam melihat riasan istrinya yang membuatnya semakin cantik. Padahal wanita itu jarang sekali berdandan.
"Apa apaan ini?!" Rio mulai marah.
"Apa? Memangnya ada apa?" Tanya Kay bingung.
"Kau memakai baju kurang bahan seperti ini" marah Rio.
__ADS_1
Pria itu menarik istrinya ke ruang kerjanya