
Al hanya menggeleng lemas. Pandangannya terus saja mengarah pada putranya itu.
"Dev, udah ya minumnya. Ini cium dady dulu" Zifa melepaskan lembut mulut Dev dari dadanya.
Ia mendudukan Dev dibrankar Al sedangkan ia langsung membenahi pakaiannya.
"Ehh Dev, jangan. Kasian dady" Zifa kembali mengangkat sang putra karna Dev menepuki wajah Al.
Zifa segera memencet tombol darurat membuat dokter segera datang keruangan Al diikuti papa Farhan dan mama Sofi.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?" Tanya Zifa tak sabar.
"Keadaan tuan Al sudah kembali stabil. Harap kontrol suasana hatinya agar tubuhnya tetap stabil" ucap dokter itu yang diangguki Zifa.
Semua bernafas lega mendengar ucapan dokter itu. Mama sofi dan papa Farhan pun keluar dari ruangan Al memberi ruang bagi Zifa dan Al untuk berbicara.
"Sini sama grandma aja" mama Sofi mengambil alih Dev dari gendongan menantunya itu.
Setelah semuanya keluar,,
"Al i miss u" Zifa memeluk tubuh suaminya erat.
"Hmm kau kesini?"
"Aku tidak tenang meninggalkanmu. Apalagi setelah mendengar kondisimu. Jadi aku memutuskan kemari"
"Terimakasih"
"Jangan seperti ini lagi, kamu harus cepat sembuh. Jangan membuatku khawatir"
Al hanya mengangguk lemas
"Istirahatlah, kau harus bahyak istirahat" Zifa mencium sekilas wajah suaminya itu.
Zifa keluar dari ruangan Al
"Gimana, udah ngobrol sama Al?" Tanya mama Sofi.
"Zifa suruh Al istirahat ma. Buat bicara aja Al masih lemes" ungkap Zifa.
"Ya udah kamu temenin Al disini aja. Mama sama papa mau balik ke apartemen. Biar baby Dev sama mama aja. Nanti malem mama kesini lagi" Zifa mengangguk.
"Tadi Zifa udah pompa stok asi juga ma. Zifa taruh di kulkas apartemen"
"Ya udah kalau gitu, mama duluan"
Setelah semuanya bubar, Zifa kembali masuk keruang rawat.
Zifa terus memandangi wajah Al yang masih menutup matanya.
"Ada apa? Ada yang sakit?" Tanya Zifa saat melihat mata suaminya mengerjap.
"Tidak ada, aku hanya ingin mengobrol saja"
"Al, badanmu masih lemas. Lebih baik kau istirahat"
"Enggak sayang, aku udah mendingan kok" jawab Al tersenyum.
"Al, kau harus cepat sembuh. Apa kau tak kasian dengan Dev yang setiap hari mencarimu?"
"Dev mencariku?"
Zifa mengangguk
__ADS_1
"Setiap hari dia memangil 'dady' sambil menangis. Makannya kau harus cepat sembuh demi aku dan Dev"
"Sayang, apa iau tidak malu memiliki suami sepertiku?" Tanya Al lirih.
"Kenapa malu?" Zifa mengernyitkan dahinya heran.
"Lihatlah, aku punya penyakit. Apa kau tidak malu dikatai memiliki suami penyakitan?"
"Hei, kamu sudah sehat Al. Kau sudah melewati segalanya. Kini hanya tinggal pemulihan tubuhmu saja. Lagipula untuk apa malu. Kau itu suami paling sempurna didunia"
"Benarkah?"
"Iya, apa kau tidak percaya?"
"Kenapa kau bisa menyebutku seperti itu?"
"Lihatlah, kau tampan, kau kaya, badanmu bagus, kau penyayang, setia, bahkan belum genap satu bulan aku sudah hamil. Bukankah itu yang dimaksud sempurna?" Goda Zifa menaik turunkan alisnya.
"Ya ampun sayang, sejak kapan kau jadi berfikir messsumm seperti ini" Al heran.
"Emm sejak aku merindukanmu"
"Benarkah?"
Zifa mengangguk
"Iya, ini juga" Zifa mengusap kepemilikan suaminya dari balik celana.
"Sayang, aku masih sakit. Belum bisa" Al mengingatkan.
"Makanya kau harus cepet sembuh. Apa kau tidak rindu denganku. Aku yakin dia juga sudah rindu dengan milikku" ucapan Zifa semakin tak terkendali.
"Sayang, kenapa malah membahas itu"
Al tersenyum
Ia merentangkan tangannya membuat Zifa segera berhambur memeluk tubuh suaminya itu.
Hikss
Isakan mulai terdengar dari mulut Zifa
"Sayang, kenapa menangis" Al melepaskan pelukan itu lalu mengusap air mata istrinya.
Bughh
Satu pukulan ringan mengenai dada Al
"Kau membuatku khawatir setiap hari. Kau membuatku tak bisa tidur setiap malam. Kau harus membayar semuanya" kesal Zifa dengan air mata masih menetes.
"Aku harus membayarnya dengan apa?"
"Kau harus sembuh dulu secepatnya. Intinya secepat mungkin. Baru kau bisa membayarnya"
Al tersenyum
"Jangan bilang bayarannya masih tidak jauh dari 'itu?" Goda Al.
"Iyalah, apa kau tau. Gara gara kau kita hampir disusul oleh Kay" kesal Zifa.
"Maksudnya?"
"Kay hamil, sudah hampir 5 bulan. Artinya dia sudah hampir punya satu anak sedangkan kita belum persiapan untuk anak kedua" kesal Zifa.
__ADS_1
"Memangnya sahabatmu itu sudah menikah. Siapa suaminya?"
"Apa kau tidak tau sama sekali suaminya?" Tanya Zifa heran membuat Al menggeleng.
"Asistenmu itu"
"Rio maksudmu?"
"Memangnya ada berapa asistenmu" kesal Zifa.
"Kenapa dia tidak cerita?"
"Sebenarnya pun anak yang dikandung kay bukan anak Rio"
"Maksudnya?" al semakin bingung.
Zifa pun menceritakan tragedi yang dialami sahabatnya itu.
"Oh ya ampun, kasian sekali dia" Al merasa iba dengan sahabat istrinya itu.
Sedangkan di apartemen Rio,
Nampak Kay terus merenung didalam apartemen Rio.
Dia masih belum kembali ke indo karna Rio terus mengurungnya tak memberinya celah sedikitpun untuk melarikan diri.
"Huhh aku bingung dengan semuanya. Mana tega aku melihat anakku nanti memanggil Rio dengan panggilan papa"Kay mendesahkan napasnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Tegur Rio melihat wanita hamil itu melamun.
"Hmm, entahlah aku bingung. Bisakah kau melepaskanku saja? Biar aku yang menjelaskan pada orang tuamu. Aku juga berjanji tidak akan menuntut apapun. Lagipula aku juga tak memberimu apapun"
"Tidak bisa, kau kira pernikahan itu main main?"
"Bukannya memang ini main main. Bahkan dalam hampir 7 bulan kita menikah coba kau hitung berapa kali kita bertemu. Sangat jarang kan? Chat, maupun telpon saja kita tidak pernah. Bukankah itu juga main main?" Sindir Kay.
"Lalu apa maumu? Selain bercerai"
"Aku ingin kembali ke indo saja. Aku ingin bekerja, aku bosan disini"
"Apa uang yang kuberi masih kurang?" Tanya Rio heran.
"Itu bukan hakku, lagipula kau gak punya kewajiban itu"
"Kau itu istriku kan?"
"Ck, kau sendiri yang mengucapkan akad tapi kau yang malah lupa" decak Kay membuat Rio tersenyum tipis.
"Ya karna kau istriku, maka itu hakmu"
"Lupakan, aku malas berdebat. Jadi bagaimana? Apa aku boleh kembali ke indo saja?"
"Boleh, tapi bukan dalam waktu dekat ini. Aku harus ke amerika mengurus cabang perusahaan Al yang sedang kacau dan juga sekalian menjenguknya disana"
"Memang apa hubungannya denganmu? Lagian aku bisa pulang sendiri" ketus Kay.
"Dasar bodoh, kau itu hamil. Bagimana jika terjadi sesuatu di pesawat"
"Memangnya apa yang akan terjadi. Dokter saja bilang aman aman saja" bantah Kay.
"Tetap tidak, tunggu satu minggu lagi aku akan mengantarmu ke indo"
"Baiklah" Kay mendesahkan napasnya malas berdebat dengan suaminya yang super menyebalkan itu.
__ADS_1