Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Perhatian Zifa


__ADS_3

"Oh, ya udah kamu istirahat sana. Istrimu ada dikamar" ucap papa Bryan.


Al pun masuk ke kamarnya


"Sayang" panggil Al melihat istrinya bermain ponsel.


"Hmm, kau sudah pulang" Zifa basa basi.


"Iya" Al mendekat ke sang istri lalu mengusap perut istrinya.


"Hai anak dady" sapa Al.


"Wajahmu pucat, kau sakit?" Tanya Zifa.


"Tidak, hanya sedikit kelelahan saja"


Al duduk disofa, ia melepaskan barangnya seperti sepatu dan jam tangan.


Ia membaringkan diri disofa itu lalu kembali memejamkan matanya karana tubuhnya masih lemas karna ia pulang dari rumah sakit langsung kembali kerumahnya.


Beberapa hari kemudian,,


Malam hari,


Beberapa hari kemudian tubuh Al sudah mulai pulih.


Hari ini adalah hari terakhir ia minum obat karna hanya tersisa satu kali minum saja.


Al yang tak melihat keberadaan istrinya pun segera mengambil obatnya.


Ceklekk


Tiba tiba pintu kamar dibuka.


"Al apa yang kau pegang?" Tanya Zifa melihat gelagat aneh suaminya.


"Hah? Apa? Tidak ada apa apa?"

__ADS_1


"Kau bohong ya" tebak Zifa lalu mendekat ke arah suaminya.


"Ini apa?" Tunjuk Zifa pada bungkus obat.


"Kau sakit?" Tanya Zifa memegang dahi suaminya.


"Tidak sayang, ini hanya vitamin saja"


"Tidak mungkin. Jangan jangan kau pulang dari luar kota itu kau sakit?"


"Tidak yang"


"Al tolong katakan yang sebenarnya"


Al menghela napasnya. Mau tidak mau ia harus mengatakan yang sebenarnya.


"Aku tidak pulang 2 hari karna aku dirawat dirumah sakit" Al berkata jujur.


"Hah? Kenapa kau tak bilang?" Zifa kaget.


"Tidak mungkin. Katakan, kau sakit apa?"


"Hanya masuk angin biasa yang"


"Al" Zifa menekankan kata katanya.


"Hanya maag kambuh saja" Al sedikit menutupi.


"Tidak mungkin. Papa juga punya maag, dia kalau kambuh paling kedokter diberi resep obat saja tidak sampai rawat inap" Zifa tidak percaya.


"Makannya aku bilang kalau dokternya berlebihan" terang Al lagi.


"Ayo cepat ketakan kau sakit apa?" Desak Zifa.


"Hanya DERG" jujur Al.


"Hah? Bagaimana bisa? Kau telat makan?" Zifa sedikit panik.

__ADS_1


"Tidak, mungkin sedikit kelelahan saja"


"Coba kuingat ingat, seingatku sehari sebelum berangkat ke kota X kau tidak makan siang dan makan malam kan? Jangan bilang kau tak sarapan juga paginya?"


"Hehe, aku terlalu terburu buru" Al sedikit mengeluarkan tawa canggungnya.


"Oh astaga" Zifa menepuk keningnya.


"Memangnya apa gejalamu kemarin sampai rawat inap?" Zifa mulai kepo.


"Tidak ada yang bahaya" jawab Al enteng.


"Al, katakan!"


"Sayang, beneran deh aku nggak papa"


"Al.." Zifa menekankan kata katanya.


"Hanya sesak nafas saja" jawab Al singkat.


"Oh astaga, kenapa kau tidak menelponku?"


"Aku tidak apa apa. Itu hanya masalah kecil nyatanya aku masih hidup sampai sekarang" jawab Al enteng.


"Kau itu kalau bicara sembarangan" ketus Zifa.


"Tidak apa apa yang, aku tidak akan rela mati sebelum melihat anakku lahir" Al mengusap perut istrinya yang mulai berisi itu.


Zifa hanya diam mendengar ucapan suaminya.


"Kau sudah makan tadi?" tanya Zifa karna suaminya pulang kerja melewati jam makan malam.


"belum" jujur Al.


"oh astaga, kau itu sudah dewasa tapi masih saja seperti anak anak. masak iya makan harus diingetin" kesal Zifa.


ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar.

__ADS_1


__ADS_2