
"Iya, dia memang meminta untuk bercerai"
"Kau menyetujuinya?"
"Aku menolaknya, tapi dia tetap saja akan melanjutkan proses itu. Dia bahkan tidak mau bertemu denganku lagi"
"Sabar, semua butuh proses. Berdoa saja semoga Kay mencabut gugatan itu"
"Iya aku juga berharap begitu"
"Wajahmu pucat, kau sakit lagi?"
"Iya, hanya seperti biasa" jawab Rio santai.
"Ck kau ini, Kay sudah tau?"
"Belum, 2 minggu yang lalu rencananya aku mau memberitahunya. Tapi dia lebih dulu meminta perceraian. Jadi aku tidak sempat membahas ini"
"Ck, kau ini memang gila. Dulu kau menasehatiku sedetail itu tapi kenyataannya kau sendiri Zonk" ledek Al.
"ahaha.. Iya aku akui, sepertinya aku lemah dalam hal praktek" tawa Rio memenuhi ruangan itu.
"Apa dokter mengatakan sesuatu?"
"Ada"
"Apa?" Al kepo.
"Kau ini laki laki tapi kepomu melebihi perempuan" cibir Rio.
"Ck, kau itu sahabatku. Bahkan saat aku sakit saja hanya kau yang ada disampingku. Dan sekarang aku harus membalas jasamu itu"
"Tidak perlu, kau itu suka repot. Lagipula aku baik baik saja"
"Kalau baik baik saja kenapa dokter menyuruhmu transplatasi hati?" Pertanyaan Al menyudutkan Rio.
"Ya karna memang sudah saatnya diganti" jawab Rio enteng.
"Ck, kau ini sekali kali kalau bicara yang serius" kesal Al.
__ADS_1
"Ini aku serius, kau kira aku bercanda"
"Sudah stadium berapa memangnya?"
"Apanya?"
"Kau ini baru saja digugat cerai sudah mulai gila saja. Ya jelas kanker hatimu lah, kau kira apa?" Kesal Al melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Tidak ada, tenang saja semua aman"
"Saranku, katakan saja pada Kay. Siapa tau itu menjadi bahan pertimbangannya"
"Aku sudah memikirkannya semalam, aku memutuskan untuk menyetujui gugatan itu. Lagipula aku sudah cukup menyakitinya selama ini. Tidak mungkin dia harus kembali bertahan bersamaku hanya untuk merawatku sampai mati kan?"
"Kau ini kalau berbicara memang tak pakai filter" Al menjadi kesal sendiri.
"Kau tak memikirkan bagaimana anakmu nanti?" Tanya Al mencoba memberi sumber semangat hidup pria itu.
"Kenapa memangnya? Dia berada ditangan yang tepat. Aku yakin Kay bisa merawat anakku dengan sangat baik" jawab Rio lagi membuat Al kembali dibuat emosi.
"Kau tak memiliki semangat hidup?" Tebak Al.
"Ada, ini kamu" tunjuk Al pada pria didepannya ini.
"Siapa bilang, aku hanya pasrah saja. Bukan tak memiliki semangat hidup"
"Itu sama saja dasar bodoh" Maki Al kesal.
"Jika hanya untuk menggangguku lebih baik kau pulang" usir Rio.
"Tidak, lebih baik aku disini untuk menginterogasimu"
"Kau ini menyebalkan sekali" decak Rio.
"Mamamu belum tau?"
"Belum, untuk apa juga. Aku tak mau membuatnya kepikiran"
"Lalu bagaimana kau menyembunyikannya? Tidak mungkin seperti ini terus kan?"
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkan pengobatan ke negara A"
"Kau yakin orangtuamu tak curiga?"
"Aku yakin, justru semakin mudah karna aku menggunakan alasan menenangkan diri"
"Ck, kau ini memang licik sekali"
"Kau memang paling pandai memujiku"
"Kudengar kau sudah tak serumah dengan Kayla?"
"Iya, semalam aku tidur dirumah mama"
"Lalu malam ini bagaimana?"
"Aku ke apartemen"
"Oh ku kira.."
"Kau kira apa? Aku tidak semiskin itu sampai harus menjadi gelandangan karna bercerai" kesal Rio membuat Al tertawa.
"Iya iya aku tau kau memang kaya"
Sore harinya, Rio pulang ke apartemennya yang dulu ia tinggali bersama Kayla.
Pria itu merebahkan dirinya setelah tubuhnya terasa sangat lemah.
Drttt
Rio memandang ponselnya itu
"Iya ma.."
"Kamu kemana aja? Kenapa belum pulang. Kamu sedang sakit jangan terlalu banyak lembur" omel mama Tasya diseberang.
"Rio nggak lembur ma, Rio pulang ke apartemen. Rio udah sehat ma, nggak usah khawatir"
"Yakin udah sehat?"
__ADS_1
"Udah ma, tadi Rio udah ke dokter juga" bohong pria itu lagi.