
Setelah pulang dari kampus Naira segera menuju ke rumah Paman nya, yang ternyata baru pulang dari perusaha'an tempat dia bekerja.
''Ada apa kamu datang sore sore gini Nai,'' tanya sang tante dengan lembut, ketika dia melihat Naira sang ponakan turun dari mobil nya.
''Sore tante, Paman ada?'' tanya Naira tanpa mau menjawab pertanya'an tantenya.
''Ada di dalam, kamu mau apa cari Paman kamu,'' tanya sang tante setengah menyelidik, karena jarang sekali ponakan nya datang ke rumah nya, dan bertanya keberada'an Paman nya. Naira adalah anak dari saudara perempuan yang bersuami dengan Pak Luwis yang kini sedang bekerja sebagai kepala HRD di perusaha'an Bagaskara Grub.
''Naira mau ngasih ini ke Paman tante, teman aku mau bekerja di perusaha'an tempat Paman bekerja sebagai office girls,'' jawab nya dengan jelas, seraya mengeluarkan selembar amplop berwarna coklat, yang berisikan surat lamaran Mahalini.
''Kamu yakin, teman kamu mau jadi office girls di perusaha'an besar itu? apa dia nggak malu bekeeja sebagai office girls,'' tanya sang tante yang tak percaya dengan ucapan ponakan nya.
''Dia bilang yang penting halal tante, lagian aku cuma bisa membantu seperti ini sama dia,'' gumam Naira dengan nada lirih nya.
''Maksud kamu bagaimana?'' lagi lagi sang tante mengorek tentang teman Naira yang mau bekerja.
''Dia tidak memiliki keluarga tante, dia sendirian di kota ini, keluarga sich ada, tapi keluarga yang cuma menyiksa batin dan fisik dia saja, dia layaknya pembantu di rumah nya, tanpa harus mengeluh lelah dan juga lapar, jadi dia memutuskan untuk pergi dari rumah mewah nya, dengan di bantu sang adik dan juga ayah angkat nya,'' Naira menceritakan semua yang pernah ia dengar sebelum nya dari Mahalini sendiri.
''Siapa yang kabur,'' sambung Pak Luwis yang baru saja menapakkan kakinya di lantai dasar.
''Namanya Risty Mahalini Paman, dia teman aku di kampus, dan dia ingin mulai bekerja? karena tidak ingin selalu merepotkan Papa dan juga adik angkat nya, biaya kuliah saja Papa angkatnya yang biaya'in tanpa sepengetahuan istri nya,'' jawab Naira dengan antusias ketika menceritakan sahabat nya kepada sang Paman.
__ADS_1
Sang Paman terlihat membaca surat lamaran yang sudah ia pegang, Pak Luwis terlihat menganggukkan kepalanya pelan. Setelah puas melihat syarat lamaran dia langsung angkat bicara, yang membuat Naira begitu riang mendengar nya.
''Ya sudah, besok bawa saja teman kamu ke kantor Bagaskara Grub, Paman akan melihat dia di terima atau nggak di sana,'' ucapnya dengan mengulas senyum.
''Beneran Paman? Paman nggak sedang bercandain Naira kan??'' tanya Naira memastikan semua ucapan Paman nya barusan.
''Beneran Nai, kapan Paman bohong sama kamu,'' jelasnya dengan mengelus puncak kepala Naira yang kini tengah memeluk sang Paman, sedangkan tantenya hanya menggelengkan kepala nya pelan melihat kelakuu ponakan nya.
Tante Umai dan Paman Luwis hanya memiliki satu putera, yang kini tengah menuntut ilmu di negeri seberang, untuk melanjutkan S2 nya di sana.
''Terima kasih Paman dan tante, aku akan pulang untuk memberi kabar baik ini kepada sahabat aku yang mungkin sudah menunggu nya di rumah,'' seru Naira dengan semangat.
''Kalau teman kamu ada di rumah kamu sekarang, kenapa dia nggak ikut kamu saja tadi,'' kata sang Paman dengan mengernyit kan dahinya ke atas.
...****************...
Keesokan harinya Mahalini di antar ke perusaha'an di mana dia akan mulai bekerja. Naira sengaja datang ke rumah Mahalini pagi pagi sekali, karena dia ingin mengantarkan sahabat nya langsung ke perusaha'an Bagaskara Grub, dan bertemu dengan Paman nya di sana.
''Pagi sekali kamu datang Nai?'' tanya Mahalini ketika membuka pintu dan nampak lah seorang gadis cantik, namun memakai kaca mata tebalnya.
''Khusus hari ini aku ingin mengantar kamu bekerja di perusaha'an itu, lagian di sana kan? kamu tidak mengenal siapa siapa kan, jadi ya aku antar saja bagaimana? aku baik kan,'' kata Riana panjang lebar. Sedangkan Mahalini hanya menjadi pendengar yang baik untuk celotehan sahabat nya.
__ADS_1
''Pasti kamu belum sarapan kan? bagaimana kita sarapan dulu sebelum berangkat ke perusaha'an itu,'' ajak Mahalini seraya merangkul pundak Naira, dan di bawa nya ke meja makan. Di mana di sana sudah ada beberapa masakan yang tersaji di meja makan tersebut.
''Wah,, kayaknya enak nich say,'' Gumam Naira menunjuk makanan yang sudah tertata rapi di depan nya.
''Sudah, kita sarapan sekarang? nanti malah telat lagi ke kantor nya,'' balas Mahalini yang mengambilkan piring untuk sahabat nya.
Akhirnya mereka berdua sarapan pagi dengan nikmat, dan tak terasa Naira sampai nambah dua kali, karena masakan nya begitu lezat dan nikmat, ya walaupun hanya makanan ala kadarnya, di bandingkan di rumah Naira yang setiap harinya pasti selalu ada menu daging di meja makan nya.
Kini Mahalini dan juga Naira sekarang ada di lobby perusaha'an Bagaskara Grub, Mahalini sangat takjub bisa masuk ke dalam perusaha'an yang di sebut masuk ke lima besar perusaha'an yang sukses dan juga terkenal.
Di tambah lagi para karyawan nya melebihi seribu karyawan.
''Maaf Mbak, mau tanya? ruangan kepala HRD di mana ya,'' tanya Naira kepada resepsionis yang sedang berjaga di sana.
''Maaf, apa mbak sudah buat janji dengan pak Luwis,'' tanya nya dengan sopan, sang resepsionis melihat keduanya dari atas ke bawah, karena penampilan mereka sangat sederhana bagi kaum kelas menengah atas.
''Saya sudah buat janji, dan saya ponakan Pak Luwis. Saya ke sini ingin mengantar kan sahabat saya untuk bekerja di kantor ini,'' jawab Naira panjang lebar. Penampilan boleh cupu, tapi masalah obrolan Naira paling pintar menurut Mahalini.
''Kalian berdua naik lif, Pak Luwis ada di lantai 6,'' Ucap sang resepsionis setelah dia menghubungi Pak Luwis terlebih dahulu.
''Terima kasih ya Mbak,'' Ucap dengan lembut sembari membungkukkan badan nya.
__ADS_1
Sedangkan Naira sudah nyelonong begitu saja, tanpa mengucapkan Terima kasih ke petugas jaga di sana.
''Naira, kamu hebat banget dech, nggak ada takut takutnya menghadapi mbak resepsionis tadi yang terlihat dingin itu,'' bisik Mahalini yang sudah ada di dalam lift untuk menuju ke ruangan Pak Luwis kepala HRD. Mahalini dan Naira menyusuri lorong untuk sampai di ruangan Pak Luwis.