
Selesai membersihkan apartemen, Mahalini kembali ke kamar untuk membersihkan tubuh nya dan segera bersiap, karena hari ini dia akan bertemu dengan Ibu Ibu yang kemarin bertemu di mini market.
Mahalini semalam memang sudah memberitahu Devano untuk bertemu dengan beliau, Devano juga tidak keberatan dengan rencana Mahalini tersebut, dan Devano juga melarang Mahalini untuk datang ke kantor nya, karena dia akan kelelahan.
Mahalini memakai jeans warna hitam, di padu padankan dengan kaos warna maron, di tambah hody di luar nampak sekali kecantikan nya.
''Kamu mau berangkat sekarang,'' tanya Devano ketika melihat sang istri sudah rapi dan terlihat sangat cantik dengan hody yang kenakan.
''Nanti, setelah Mas selesai sarapan,'' jawab nya dengan terus mengikat rambut panjang nya.
''Memang nya kamu tidak capek, semalam juga sudah bikin beberapa macam kue, dan di lanjutkan membantu semua pekerja'an ku juga,'' kata Devano yang memang Mahalini membantunya semalam.
''Tak apa kok Mas, lagian apa salah Lini bantuin Mas kerja, kan nggak salah?''
''Ya sudah, kalau gitu bareng saja sayang,'' ajak Devano yang langsung di tolak oleh Mahalini.
''Nggak usah Mas, arah kita kan beda? nanti yang ada Lini malah ngerepotin Mas Vano lagi,'' tolak nya dengan halus. ''Lini bawa motor saja ke sana Mas,'' tambah nya yang di angguki oleh Devano.
Istri nya memang tidak mau merepotkan dirinya, tapi sayang nya Devano sangat senang ketika dirinya di repotkan oleh istri nya.
''Ayo kita sarapan dulu, nanti orang yang menunggu kamu malah pergi lagi,'' ajak Devano memeluk pinggang sang istri.
Mahalini tersenyum dengan membelas pelukan Devano, ''Mas, dua minggu lagi kita akan berpisah,'' gumam Mahalini pelan.
Devano menghentikan langkah nya dan menangkup wajah sang istri dengan berkata, ''Sudah aku bilang sama kamu, kalau aku tidak akan pernah berpisah sama kamu, sampai kapan pun,'' jawab nya dengan tegas.
''Tapi surat perjanjian itu? bagaimana,'' tanya nya dengan menatap dalam mata Devano.
''Surat perjanjian itu sebenarnya sudah aku bakar,'' jawab Devano yang mengejutkan Mahalini.
''Tapi Mas, itu kan mau...?''
''Itu semua aku yang merencanakan sayang, awalnya Mas masih belum ada niatan sama sekali untuk menikah, karena merasa belum siap, tapi setelah bertemu dengan mu, Mas merasa sangat nyaman dan semenjak itu Mas berpikir, tidak ada salah nya berkeluarga lebih dulu dari kakak ku yang sampai saat ini masih betah melajang,'' ungkap Devano dengan panjang lebar, menceritakan semuanya kepada sang istri. ''Sudah lah ayo cepat sarapan, nanti telat lagi,'' tukas nya dengan mencubit hidung Mahalini.
''Mas, sakit??'' rengek nya dengan memegang hidung yang masih terasa sakit.
''Lagian kamu gemesin,'' jawab Devano dengan mencubit pipi chubby Mahalini.
__ADS_1
Mereka berdua nampak makan bersama dengan hidangan yang sederhana, namun terasa sangat nikmat dan juga lezat di lidah Devano.
Mahalini sebenarnya belum pandai memasak makanan kesuka'an suaminya, jadi Mahalini hanya bisa memasakkan masakan yang ia bisa saja.
''Lusa kita akan pulang ke rumah Mama, kamu nggak keberatan kan? kalau kita tinggal di rumah Mama, lagian kan kamu juga mau risen dari kantor,'' Ucap Devano seraya terus menyuapi makanan nya ke dalam mulut nya.
''Mahalini ngikut Mas Vano saja, di mana Mas Vano tinggal? di sana juga Lini akan tinggal,'' jawab nya dengan mengulas senyuman nya.
Devano sangat takjub dengan istri nya, dia selalu menuruti keinginan nya tanpa harus berkata sampai dua kali.
...****************...
Seorang wanita sedang menunggu kedatangan Mahalini di sebuah cafe yang tak terlalu jauh dari apartemen nya, sebenarnya tempat itu Mahalini yang memilih sendiri, karena dia tidak mau pergi terlalu jauh dari apartemen nya, karena dia juga masih sangat trauma dengan kejadian beberapa bulan lalu, yang di mana dirinya malah di siksa dengan sangat kejam oleh Mama angkat dan juga saudara angkat nya.
Mahalini yang masuk langsung melihat ke segala arah, untuk mencari wanita yang kemarin sudah membuat janji dengan nya.
''Mbak,'' seorang wanita melambaikan tangan ke arah Mahalini.
Mahalini membalas lambaian tangan nya, dan melangkah menuju meja nomor 23, ''Sudah lama nunggu nya Nyonya,'' tanya Mahalini dengan mengulurkan tangan nya.
''Duduklah,'' Mahalini mengangguk dan mendudukkan diri di kursi depan nya.
''Lebih baik kita sarapan lebih dulu sebelum membahas pesanan kue nya,''
''Maaf sebelumnya nyonya, tapi Lini sudah sarapan tadi bersama suami di rumah,'' jawab nya dengan rasa tak enak nya, karena harus menolak ajakan wanita di depan nya.
''Ya sudah tidak apa apa kok, santai saja? tidak usah di pikirkan lagi,'' balas nya dengan senyuman nya.
Mahalini mengeluarkan beberapa contoh kue yang sudah ia buat semalam, dan ternyata semua contoh yang ia bawa ternyata di sukai oleh wanita di depan nya.
''Semuanya juga boleh kok Mbak, dan satu lagi? jangan panggil aku Nyonya, panggil saja aku Ibu Intan saja,'' suruh nya dengan sangat ramah kepada Mahalini.
''Baiklah Bu, kalau begitu semua kue kue itu akan di kirim kemana nantinya,'' tanya Mahalini yang belum tau kue buatan nya akan di kiralim ke mana.
''Ibu kan punya toko kue, dan beberapa pelanggan Ibu ada yang sudah bosan dengan kue kue yang di bikin oleh karyawan Ibu, jadi Ibu memilih mencari kue lainnya juga, namun orang yang bekerja sama Ibu sudah tidak sanggup dengan pesanan Ibu, karena sudah terlalu banyak pesanan katanya,'' jelas sang Ibuyang bernama Intan itu kepada Mahalini.
''Apakah chef yang ada di toko Ibu tidak keberatan dengan kue bikinan Lini,'' tanya Mahalini merasa tidak enak dengan chef yang ada di Toko Ibu Intan itu.
__ADS_1
''Ibu hanya mengambil dari orang orang yang mau membuat kue saja, dan menitipkan kue kue tersebut ke toko Ibu, tidak ada chef di sana, hanya ada 3 karyawan saja dan sesekali dia membawa kue buatan tantenya ke toko Ibu,'' jawab nya dengan jepas, ''Kamu tidak usah merasa tidak nyaman seperti itu, ini juga lebih enak kok dari toko yang lainnya, ketika Ibu belum membuat toko kue,'' tambah lagi dengan meyakinkan Mahalini, agar dirinya merasa tidak berkecil hati.
''Baiklah kalau gitu, jadi kita sudah sepakat dengan kerja sama kita ya,'' ucap Ibu Intan dengan bersemangat.
''Iya Bu, terima kasih sudah menerima kue buatan Lini yang tidak terlalu enak ini,'' sahut Mahalini dengan senyuman yang mengembang di kedua bibir nya.
Mahalini sangat senang dengan pujian yang di berikan oleh Bu Intan kepada nya, Mahalini tidak menyanhka kalau dirinya akan beralih profesi sebagai tukang kue, yang hanya di kerjakan di rumah nya dan cuma mengantarkan ke toko pemesan, Mahalini juga berpikir kalau dirinya juga akan memposting kue bikinan nya lewat sosial media, agar nanti lebih banyak lagi dalam menarik pelanggan, di mana dia akan mengajak teman yang nya yang juga punya hobi sama, yaitu perbakingan.
Selama di jalan Mahalini sangat senang dengan hasil tangan nya, Mahalini sudah menghitung hasil dan juga akan belajar menabung dari saat ini, untuk biaya kuliah nya juga, Mahalini tidak mau lagi merepotkan Papa Setiawan dengan membiayai uang kuliah nya, apalagi dia juga tidak mau terlalu tergantung dengan suaminya, yang benar-benar sudah mencintai nya, karena Mahalini masih terbayang bayang dengan surat perjanjian yang pernah ia tanda tangani sebelum dirinya menikah dengan Devano bulan lalu.
Di persimpangan jalan tak jauh dari apartemen Devano, terlihat mobil mewah berhenti di depan nya, dan keluarlah seorang wanita cantik yang sudah berusia lanjut, namun masih terlihat sangat menawan.
''Sayang, kamu dari mana?'' tanya Mama Clara ketika melihat menantunya panas panasan dengan motor matic nya.
''Mama, Mama mau kemana?'' Mahalini malah berbalik bertanya kepada Mama Clara.
''Mama sebenarnya mau ke apartemen kamu, karena Devano tadi bilang kalau kamu sudah berhenti bekerja di kantor nya, jadi Mama pikir menantu Mama ini ada di apartemen sekarang,'' jawab Mama Clara panjang lebar.
''Hehehe,'' Mahalini tertawa, dan berkata, ''Memang nya Mas Vano tidak bilang kalau Lini masih bertemu dengan seseorang di cafe, mungkin Mas Vano lupa Ma, ya sudah? lebih baik kita ke apartemen saja sekarang,'' ajak Mahalini kepada mertua nya.
''Lebih baik kamu ikut Mama saja, di luar panas, nanti menantu cantik Mama ini malah hitam lagi,'' ucapnya dengan menarik tangan Mahalini sang menantu.
''Tapi Ma, motor Lini bagaimana?''
''Sopir Mama yang akan bawa motor kamu ke apartemen, Mama tidak mau menantu Mama jadi gosong seperti orang lainnya,'' jawab nya dengan asal, sedangkan Mahalini sudah mencebikkan bibirnya karena ucapan sang Mama Clara, menurut dia Mama Clara terlalu berlebihan? karena Mahalini bukan hanya sekarang membawa motor di siang hati, tapi sudah sangat sering.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih, 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕
__ADS_1