
Nyonya Amora mengangguk pelan dengan pertanya'an Mahalini baru saja, sang anak masih terkejut dengan penemuan yang ada di dalam liontin yang ia pakai, dan dia juga baru mengetahui sekarang.
'Kenapa aku kemarin tidak pernah melihat dan membuka liontin untuk, harusnya kamu senang atau bahagia, bukan nya menangis seperti ini,''
''Tapi Lini masih belum percaya saja Mas, Lini merasa semua ini hanya mimpi saja,'' jawab nya dengan pelan.
''saya minta Tuan Sagara memberi waktu kepada istri ku untuk memikirkan hal ini, karena dia juga masih sangat terkejut dengan pengakuan anda,'' ucap Devano, agar Tuan Sagara memberikan Mahalini waktu untuk bisa menerima semua nya dengan ikhlas.
''Baiklah, Mami akan beri kamu waktu untuk menerima kami dalam kehidupan mu sayang, kami sangat berharap kamu bisa berkumpul dengan kami,'' sahut Nyonya Amora yang sudah beranjak dari duduk nya, dan berjalan menghampiri Mahalini yang duduk di depan nya dengan terhalang meja.
''Maafkan Lini sebelum nya,'' ucapnya dengan membalas pelukan dari Nyonya Amora.
''Mami bisa terima semua nya kok sayang, Mami sudah senang bisa melihat wajah cantik kamu ini, wajah ini yang selalu ada di benak Mami selama ini,'' jawab nya dengan mengulas senyum di bibir nya.
''Maaf Tuan, apa kita tidak melakukan tes DNA saja, sebenarnya saya masih belum terlalu yakin dengan pengakuan anda yang secara tiba-tiba seperti ini, karena saya tidak mau, istri saya kecewa kedepan nya,'' kata Devano yang masih belum mempercayai seseorang di depan nya.
''Kalau semua itu bisa membuat Mahalini percaya, dan bisa menerima kami tidak apa apa, besok kita bisa melakukan tes DNA di salah satu rumah sakit, nanti saya yang akan menghubungi dokter nya,'' sahut Tuan Sagara dengan pasti.
''Tapi Pi, Mahalini adalah benar-benar puteri kita? kenapa harus melakukan test DNA segala sich,'' Nyonya Amora tidak setuju dengan ucapan suami dan juga Devano menantunya.
''Mas, seperti nya tidak usah sampai melakukan test DNA dech?'' tolak Mahalini, dia merasa tidak enak hati kepada Nyonya Amora yang sangat sedih.
''Kita tetap harus melakukan test itu sayang, hanya untuk berjaga jaga saja, Mas tidak mau kamu kenapa kenapa lagi,'' balas Devano yang tetap kekeh dengan pendirian nya.
Saat sedang membahas test DNA, tiba-tiba ponsel Mahalini bergetar pertanda ada pesan masuk.
π© -''Mbak Lini, besok ada yang pesan kue seperti tadi tuh 10 pecs,'' pesan tersebut dari pemilik Toko kue yang tadi pagi sempat bertemu di cafe.
''Chat dari siapa?'' tanya Mama Clara yang penasaran.
''Chat dari pemilik toko kue yang tadi pagi ketemuan dengan Lini Ma, beliau bilang ada yang pesan kue buatan Lini 10 pecs,'' jawab nya dengan wajah senang nya.
''Kayak nya senang banget,'' tanya Nyonya Amora yang juga ikutan penasaran.
''Iya Nyonya, ini adalah usaha pertama Lini, dan alhamdulillah nya ada yang sudah memesan 10 pecs juga,'' balas nya dengan menyunggingkan senyuman nya.
''Maksudnya,'' tanya Tuan Sagara yang masih belum mengerti dengan ucapan sang puteri.
''Mahalini tadi sempat menawarkan kue kue buatan nya kepada pemilik toko kue, dan sekarang ada seseorang yang mau pesan kue nya 10 pecs,'' jawab Mama Clara dengan semangat. ''Awalnya dia juga jadi OB di kantor suaminya, di suruh jadi sekretaris malah dianya nggak mau, dan sekarang malah berbisnis di dunia perbakingan.'' tambah nya lagi, agar Tuan Sagara yang kini mengaku sebagai ayah kandung Mahalini tidak terlalu terkejut dengan penemuan lainnya.
''Tidak apa apa, siapa tau dia bosan di dalam rumah, nanti Mami bantu ya,'' Nyonya Amora menawarkan diri kepada puteri nya, Mahalini hanya mengangguk setuju, melihat wajah sumbringah dari sang Mami, Mahalini tidak bisa menolak permintaan nya.
__ADS_1
''Baiklah, lagi pula ini akan memakan waktu yang lama juga,'' sahutnya dengan terkekeh karena dia juga tidak terlalu pandai dalam berkata kata manis di depan orang, apalagi dia adalah Mama kandung Mahalini.
''Baiklah, kalau gitu Lini pamit dulu Tuan dan Nyonya,'' pamit nya dengan beranjak berdiri dari tempat duduk nya.
''Mami akan ikut Lini, Mami ingin membantu Lini biar cepat selesai bikin kue nya,'' mohon nya dengan menangkup kedua tangan di dadanya.
''Baiklah Nyonya,'' jawaban Mahalini membuat hati Nyonya Amora merasa sangat senang, meski anaknya masih terus memanggil dirinya dengan sebutan Nyonya, tapi tidak apa apa, ini adalah awal yang baik untuk selalu dekat dengan anakku yang dulu hilang, pikir Nyonya Amora dengan senyum yang mengembang.
Tuan Sagara hanya menatap wajah bahagia sang istri dengan senyuman yang menghiasi di kedua bibir nya, di tambah lagi ada lesung pipi di sana.
''Aku harap ini adalah awal kebahagia'an keluarga kita,'' gumam Tuan Sagara dengan sangat pelanggan, sehingga hanya dirinya yang mendengar gumaman nya.
Tuan Sagara dan Nyonya Amora mengikuti mobil Devano dari belakang menuju apartemen yang di tempati Mahalini saat ini.
Sedangkan Mama Clara membawa mobil nya sendiri, tadi Devano sudah menawarkan untuk memanggil anak buah nya untuk mengambil mobil Mama Clara, tapi Mama Clara menolak, dia lebih suka bawa mobilnya sendiri.
Sesampainya di apartemen Tuan Sagara dan Nyonya Amora, mengikuti langkah Devano dan juga Mahalini, sedangkan Mama Clara memilih untuk pulang ke rumah nya, karena sang suami sudah menghubo sejak tadi ketika Mama Clara masih berada di restoran.
''Ayo Nyonya, Tuan?'' Mahalini mempersilahkan Tuan Sagara dan Nyonya Amora masuk ke dalam.
Tuan Sagara mengangguk dan masuk ke dalam apartemen, Mahalini segera membuatkan minuman di dapur dan mengeluarkan beberapa kue yang ia simpan di lemari pendingin.
''Silahkan Nyonya, Tuan,'' Mahalini menaruh minuman dan juga camilan di atas meja, dan dia juga duduk di samping suaminya.
Nyonya Amora mengambil kue, di gigit dan di kunyah dengan perlahan, merasakan rasa enak dan juga nikmat di kue tersebut.
''Kue bikinan kamu enak sayang? kapan kapan boleh Mami pesan kalau di rumah sedang ada kumpul kumpul,'' puji nyonya Amora, ''Cobalah Pi, ternyata anak kita pintar bikin kue nya, jadi pengen mempublikasikan kue bikinan puteri kita dech,'' lanjutnya dengan rasa bangga yang terselip di hati nya.
Setelah Tuan Sagara dan Devano kembali ke perusaha'an nya, karena sore ini Devano maupun Tuan Sagara ada pertemuan dengan klien, jadi kedua laki-laki beda usia itu lebih memilih meninggalkan kedua wanita di dalam apartemen nya.
Mahalini dan Nyonya Amora kini tengah di sibukkan dengan adonan kue untuk pesanan besok pagi.
''Selain bikin kue, kamu bisa bikin apalagi sayang?'' tanya nya.
''Cuma kue saja kok Nyonya,'' jawab nya terus mengaduk adonan kue nya.
''Mami harap kamu memanggil Mami, jangan memanggil Nyonya seperti itu,'' pinta Nyonya Amora dengan penuh harap.
''Baiklah Ma-mami,'' Ucap Mahalini dengan gugup.
Nyonya Amora tersenyum ketika mendengar jawaban sang anak, dia sangat bahagia sekali dengan sebutan itu, rasanya seperti tengah berada di alam mimpi saja.
__ADS_1
Dengan cekatan Mahalini sudah memasukkan adonan kue pertamanya ke dalam cetakan dan langsung di masukkan ke dalam oven. Mahalini hanya memiliki satu oven saja, karena sebelum nya dia tidak ada niatan sama sekali buat jualan kue kue bikinan nya sendiri, Mahalini hanya membeli oven karena dia gemar bikin kue dan cuma buat di makan bersama keluarga nya saja, tapi saat ini? Mahalini harus berusaha dengan sangat giat karena sepuluh loyang kue yang di pesan orang besok pagi.
''Harusnya kamu pakek oven yang besar, biar lebih enak lagi bikin kue nya,'' gumam Nyonya Amora dengan mengaduk adonan keduanya.
''Kemarin Mahalini hanya iseng iseng saja, buat kue kue hanya untuk camilan sendiri Mi, tapi setelah Mahalini berhenti dari kantor Mas Vano, Mahalini jadi kesepian, dan muncul ide untuk memasarkan kue kue bikinan Lini, dan alhamdulillah ada orang yang mau menerima titipan kue dari Lini Ma,'' jawab nya dengan sangat jujur.
Nyonya Amora tersenyum dan nyonya Amora bahkan punya ide untuk membuatkan toko kue untuk anak nya lain waktu.
''Bagaimana kalau Mami buatin kamu toko kue saja,''
''Tidak usah lah Mi, ini saja untuk kesibukan Lini saja, lusa Lini juga akan pindah ke rumah Mama Clara, Mas Vano mengajak Lini untuk tinggal di rumah Mama Clara, agar Lini tidak kesepian di sini,'' balas nya dengan mengulas senyum kepada nyonya Amora sang Mami.
''Memang nya kamu tidak mau tinggal bersama Mami sayang?'' suara nyonya Amora terdengar sendu mendengar anaknya akan tinggal bersama dengan mertuanya.
''Lini kan bisa datang ke rumah Mami, itu kalau Mami mengijin Lini untuk datang sich,'' sahutnya dengan sedikit bercanda, karena Mahalini sudah melihat mimik wajah sang Mami yang sedih.
''Pintu rumah Mami terbuka lebar untuk mu sayang, kalau Kamu mau tinggal di sana juga boleh, Mami dan Papi kamu akan senang mendengar nya,'' balas nya dengan penuh semangat.
''Insya Allah, kalau Mas Vano libur kerja, Mahalini akan datang ke rumah Mami, Mahalini juga ingin tau lebih jelas nya tentang Mahalini yang di culik dan Lininjuga di buang di tempat pembuangan sampah Mi,'' Mahalini menundukkan kepalanya ketika mengingat penuturan dari Papa Setiawan, ketika beliau mengatakan kalau dirinya di temukan di tempat pembuangan sampah dulu.
''Astagfirullah, Mami tidak pernahembayang kan semua itu sayang, Mami sebenarnya sudah mencari kamu kemana mana, sampai akhirnya Mami sakit dan ada seorang suster yang bekerja sama dengan saudara tiri Papi kamu, sehingga membuat Mami bertingkah laku seperti orang gila,'' tukas nya dengan mengingat keada'an nya kemarin yang sempat sakut bertahun-tahun lamanya.
Mahalini terkejut dengan ucapan sang Mami, dan Mahalini pun menghambur ke pelukan Nyonya Amora, di peluknya dengan erat dengan sesekali menciumi pipi Nyonya Amora, Nyonya Amora yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari outerynya tersenyum bahagia, karena mungkin puteri nya akan segera menerima kehadiran nya.
''Mami berjanji, tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi nak, Mami sangat sayang sama kamu, kamu adalah anak Mami yang sekian tahun di cari cari,'' gumam nya, namun Nyonya Amora masih terus memeluk tubuh Mahalini yang terlihat kurus.
''Mahalini juga senang bisa bertemu dengan Mami, tapi kalau hasil test DNA berkata lain bagaimana Mi, Lini harap Mami tidak kecewa kepada Mahalini, Mahalini juga belum mengetahui secara pasti itu semua nya,'' balas nya dengan panjang lebar.
Sampai bau hangus tercium di indera penciuman mereka berdua, lalu melepaskan pelukan nya dan tertawa karena kue yang ada di dalam oven sudah hangus, karena kelama'an ada di dalam mungkin, dan sedang asik berpelukan juga.
Sore itu menjadi sore yang terindah bagi Mahalini dan juga Nyonya Amora, dan Mahalini sempat berdo'a agar kehangatan di sore ini selalu ia rasakan di lain waktu juga.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih ππππππππ.
Jangan bosan dengan karya receh ku ya Kak, maaf kalau ada salah kataππβ