
Meninggalkan Zarine dan pekerja yang memiliki halu tinggi, kini Mahalini tengah menyantap nasi yang tadi di antarkan oleh sang pegawai, atas perintah Devano sang suami.
''Mas Vano jangan sekali kali memerintahkan sepertinya itu pada karyawan lain nya dong, kasian mereka, sudah lelah mengerjakan pesanan yang setiap hari semakin banyak saja, lagian Lini bisa akbilnsendiri kok di dapur, jadi Mas Vano tidak perlu repot memerintah mereka,'' Ucap Mahalini seraya terus menyantap makanan nya.
''Kalau kamu tidak di ambilin, kamu nggak bakalan makan sekarang, bukan nya kamu mau nya selalu di ambilin?iya kan,'' sahut Devano yang membuat Mahalini malu setengah mati, karena apa yang di katakan oleh suami nya semuanya benar adanya, tapi karena gengsi yang tinggi Mahalini tidak mau mengakui nya, maka dari itu dia selalu sok so'an menjadi seseorang yang tidak pernah memerintah.
''Terserah Mas saja dech, lagian Mas Vano kenapa ada di sini sekarang, bukan nya ada di kantor,'' ujar Mahalini, ''Jangan jangan kelayapan lagi, kasihan Randi di sana kan?'' lanjut nya dengan mengerlingkan matanya.
''Apaan sich, aku mana sempat kelayapan seperti yang kamu tuduhkan sekarang, yang ada aku sangat sibuk sekali di perusaha'an, tapi karena mengingat istri ku yang cantik ini belum sarapan tadi, jadi aku luangkan waktu sejenak untuk melihat kabar istri sekaligus calon baby kita, yuck sekarang saja tengok nya,'' ajak Devano dengan menaik turunkan alis nya.
''Apa sich Mas, mesum banget siang siang? kita tuh dah mau jadi orang tua, jadi seharusnya kamu sudah tidak lagi mengganggu ku lagi di tempat tidur, kan sudah ada hasil nya,'' Mendengar penuturan sang istri, Devano terkekeh geli, karena? mana ada orang yang sudah memiliki anak akan berhenti, dalam masalah ranjang, yang ada semakin tua malah semakin menjadi, pikir Devano.
''Sudah lah, Mas Vano cepat kembali ke kantor sekarang, kasihan Randi di kantor,'' papar nya dengan mengambil rujak buah yang tadi di minta oleh Mahalini.
''Sudah, kayak nya kamu lebih merasa kasihan kepada Randi dari pada suami kamu sendiri, sungguh teganya dirimu,'' rajuk Devano dengan melipat kedua tangan kedepan dada nya.
''Mas Vano kalau sedang merajuk malah terlihat lucu tau nggak, semakin tampan pula nich suami ku,'' puji Mahalini mencoba mengalihkan perhatian suaminya, karena Devano menatap ke arah lain nya bukan dirinya.
''Emmmm, ini enak sekali? jarang jarang aku makan rujak buah yang enak seperti ini tau nggak,'' Mahalini terus menyuapkan buah yang sudah di iris kecil kecil, lalu kemudian di colek ke sambel kacang yang cabe nya lumayan banyak.
Devano mengambil satu irisan kecil, dan mengoleskan dengan bumbu kacang, karena Devano sendiri menjadi penasaran setelah ucapan dari Mahalini barusan.
''Achhhh... air air air,'' Devano mengusap lidah nya dengan tisu yang ada di samping nya, karena terlalu pedas bumbu kacang nya. ''Kamu bohong banget sich sayang, mana ada enak seperti ini coba, yang ada lidahku terasa terbakar seperti ini,'' keluh Devano dengan meraih sebotol air mineral yang di sodorkan oleh Mahalini sang istri.
__ADS_1
Mahalini hanya menahan tawa nya karena wajah suaminya yang memerah, saking kepedesan. ''Ini enak banget tau Mas, kamu saja yang cemen dengan cabe segitu saja, malah sudah kepedesan, apalagi ini mangga muda nya? mantap,'' Sambung Mahalini dengan terus mengunyah buah yang sudah masuk ke dalam mulut nya.
''Sudah sudah, jangan banyak banyak makan rujak buah nya, terlalu pedas,'' Devano menyingkirkan rujak buah yang tengah di nikmati oleh Mahalini.
''Enak saja, ini milikku tau nggak,'' Mahalini merebut kembali milik nya yang sudah di ambil oleh Devano suaminya.
...****************...
Keesokan harinya di rumah catering RISTY.
Ibu Gayatri datang secara langsung ke rumah catering Mahalini, beliau sangat terpukau melihat suasana di rumah catering Mahalini, yang begitu luas dan juga sangat nyaman, semuanya tertata tapi di dalam nya, banyak karyawan yang tengah melakukan pekerja'an nya masing-masing.
''Selamat pagi semua nya,'' sapa Ibu Gayatri yang baru masuk dan segera manyapa semua karyawan Mahalini.
''Tidak, saya baru sampai dan langsung di suguhkan pemandangan yang sangat luar biasa seperti ini, menjadi aku iri saja,'' jawab nya dengan mengulas senyum di bibir nya.
''Haruskah Ibu merasa itu dengan rumah catering ini, sedangkan toko kue Ibu juga tak kalah besar dari ini semua,'' sambung Zarine yang memang sudah tau seluk beluk toko kue Ibu Gayatri, karena Mahalini pernah mengajak Zarine datang langsung ke dapur yang ada di toko Ibu Gayatri tersebut.
''Kamu bisa saja kalau soal memuji, Bos kamu ada nggak,'' tanya Bu Gayatri yang menoleh ke kanan dan juga ke kiri.
''Bos biasanya datang jam 9 pagi Bu, silahkan duduk dulu Bu, nanti saya bawakan minuman kesuka'an Ibu ke ruangan sebelah,'' kata Zarine dengan mempersilahkan Ibu Gayatri melangkah lebih dulu ke ruangan sebelah, yang lebih rapi dan juga di khususkan untuk para tamu yang datang langsung ke rumah catering Mahalini.
Tadi Bu Gayatri memang langsung masuk ke dapur lewat pintu samping, jadi Zarine sudah tidak heran lagi kalau Bu Gayatri lebih suka masuk lewat pintu samping, dari pada lewat pintu utama dan langsung mendudukkan diri di sofa yang sudah di sediakan di sana.
__ADS_1
Zarine langsung meninggalkan Bu Gayatri setelah mengantarkan ke ruangan sebelah. ''Tidak heran kalau rumah catering Mahalini sangat maju pesat, sedangkan di balik itu semua ada keluarga yang selalu mempromosikan makanan makanan yang tersaji dengan sangat lezat dan menggugah selera semua orang yang menikmati nya, kokinya saja di datangkan langsung dari koki yang pernah bekerja di hotel bintang lima,'' gumam Bu Gayatri pelan, beliau sangat kagum dengan pemandangan yang ada di ruangan, di mana dia sedang duduk sendiri.
Zarine datang dengan nampan yang berisi teh hangat dan beberapa camilan yang di taroh di dalam toples, ''Silahkan Bu di minum,'' ucap Zarine mempersilahkan Bu Gayatri untuk menyeduh teh nya.
''Terima kasih, maaf sudah merepotkan kamu dengan membawakan minuman dan juga camilan seperti ini,'' sahut nya dengan membalas senyuman Zarine.
''Sama sekali tidak repot kok Bu, Bu Gayatri kan tamu spesial kami di rumah catering ini,'' balas nya dengan ramah.
''Sapi sial atau spesial,'' ulang Bu Gayatri dengan berniat bercanda dengan Zarine.
''Spesial Bu, kalau sapi sial sich itu resiko si sapi sendiri menjadi siap, lagian kenapa mau coba menjadi sapi yang sial,'' balas Zarine dengan kekehan kecil.
Bu Gayatri memang suka sekali bercanda dengan semua para karyawan Mahalini, beliau memang sudah sangat akrab dengan para karyawan yang bekerja di rumah catering milik Mahalini, selain para karyawan Mahalini ramah sopan dan juga baik, mereka semua sangat cekatan dalam menata makanan yang akan segera di kirim kepada costumer nya, tidak ada orang karyawan yang saling iri dengan para karyawan lain nya, mereka semua bahu membahu dalam menyelesaikan semua pesanan costumer, menjadi costumer di rumah catering Mahalini adalah orang yang sangat beruntung, karena selain para karyawan nya ramah ramah dan juga sopan, pemilik rumah catering pun sangat lembut dalam menghadapi semua para tamu yang banyak minta nya.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.
__ADS_1