
Mahalini juga sudah siap berangkat kena cara amal, bersama dengan Devano, Mama Clara dan juga Papa Devano.
Sedangkan Mami Amora datang bersama Papi Sagara, mengendarai mobil nya.
Setibanya di tempat acara, Mahalini bertemu dengan Mami dan juga Papinya, ''Sudah dari tadi sampai nya,'' tanya Tuan Sagara, menyambut uluran tangan putri nya.
''Baru kok Pi, oiya, Mami kemana?'' tanya nya dengan celingukan ke kanan dan ke kiri.
''Tadi Mami kamu di sini sama Papi, mungkin dia ikut teman nya untuk mengambil makanan di sana,'' tunjuk Tuan Sagara, ke tumpukan makanan yang sudah tertata rapi di atas meja.
''Lini mau juga dong Mas?'' rengek nya dengan suara khas anak kecil.
''Ayo,'' ajak Devano menggandeng tangan istri nya, ''Kami tinggal dulu Pi, mau nganter bumil dulu ambil makanan,'' pamit Devano kepada Papa mertua nya.
''Baiklah,'' jawab Tuan Sagara seraya mengangguk kan kepala nya.
Mahalini berjalan ke arah makanan yang banyak di hidangkan di atas meja besar, di mana disana banyak pengusaha pengusaha yang ikut dalam acara amal tersebut, bukan cuma pengusaha saja yang ikut hadir, melainkan masih banyak orang dari kalangan menengah ke atas juga.
''Baiklah, kamu pilih yang mana sayang?'' tanya Devano dengan menundukkan sedikit tubuh nya, agar bisa sejajar dengan sang istri.
''Lini maunya semuanya sich Mas, apa boleh?'' ucap nya dengan memainkan mata genit nya kepada suaminya.
''Kalau di depan laki-laki lain nya, tidak boleh seperti itu ya, bisa bisa laki-laki itu salting lagi di gituin sama kamu,'' pesan Devano kepada Mahalini, akhir akhir ini Mahalini selalu berbuat yang aneh aneh, seperti anak kecil yang merajuk minta di beliin permen, atau juga balon. Nangis nya juga kejer? persis banget anak kecil sedang merajuk kepada orang tuanya.
Mahalini tertawa mendengar penuturan dari suaminya, ''Jelous ya,'' ledek nya dengan menyuapkan kue ke dalam mulut nya.
Mahalini dengan pelan mengunyah kue? yang sudah ada di dalam mulut nya, matanya sembari di putar putar, membuat Devano mengerutkan kening nya karena heran dengan tingkah sang istri.
''Kenapa makan nya seperti itu sich sayang?'' tegur nya dengan ikut mencicipi kue yang di pegang Mahalini.
__ADS_1
''Ya Lini kan mau merasakan sensasi dari rasa kue itu lho Mas, masak iya Mas makan kue langsung di telen gitu, kan nggak asik?!'' sahut nya dengan sedikit judes.
''Aneh banget sich, rasa kue itu sama kali, sama sama terbuat dari tepung bukan dari Emas, atau berlian,'' tukas nya dengan memutar bola matanya malas dengan tingkah sang istri.
''Ich, tau ach malas banget Lini debat sama Mas, lawong Lini cuma mau tau, apa saja yang ada di dalam kue nya kok,'' balas nya dengan berlalu pergi meninggalkan Devano yang tengah memegang banyak makanan di tangan nya.
''Sayang, tungguin kenapa? ini makanan nya bagai,'' seru Devano yang sudah di tinggal pergi.
''Bawa saja, awas kalau sampai di tarok!'' jawab nya dengan sedikit keras.
Mahalini berjalan ke arah kursi, di mana di sana sudah ada Mama Clara dan juga Mami Amora.
''Kenapa sich sayang, apa yang membuat kamu bertengkar dengan suami kamu, tuh lihat banyak yang memperhatikan kamu juga kan?'' gumam Mami Amora, ketika putri nya sudah duduk di samping nya.
''Mas Vano tuh Mi nyebelin, Lini kan cuma mau tau saja? rasa kue dan campuran kue di dalam nya apa saja, ach malah di katain.'' adu Mahalini kepada sang Mami.
''Maksudnya,'' sambung Mama Clara, sedang kedua laki-laki di samping nya hanya menjadi pendengar yang baik saja, untuk ke-tiga wanita di depan nya.
Mama Clara dan Mami Amora hanya mengangguk pelan, 'Ya emang benar sich yang di katakan oleh Devano sayang,' bisik nya di dalm hati.
'Ya itu memang kamu juga sich sayang, merasakan sensasi kue sampai segitu nya,' Mami Amora dan Mama Clara juga sama sama membatin, ketika apa yang di katakan oleh Devano Putra dan menantunya ada benar nya juga.
''Ya sudah, sekarang kamu habisin semua kue kue yang sudah kamu ambil ini, Mama kok tiba-tiba pusing ya,'' ucap nya dengan memegang kening nya, mengingat selama ini tingkah menantunya tidak seperti itu, tapi sekarang malah bertingkah layak nya anak kecil dan sedang di bully oleh teman teman sekolah nya.
Papa Devano dan Tuan Sagara hanya bisa menahan tawa mendengar nya, dia juga merasa kalau menantunya sedikit aneh, dia juga sering nangis dan tidak tau apa penyebab nya dia bisa menangis seperti itu, pikir kedua laki-laki di samping nya.
Devano mendaratnya bokong nya di kursi sebelah sang Mama, Devano juga membawa banyak makanan yang tadi diambil oleh Mahalini.
''Kenapa kamu bawa banyak makanan Vano,'' tanya sang Papa kepada putra nya.
__ADS_1
''Tuh bumil rempong, bikin aku malu sama semua orang orang di sana, apalagi di sana ada banyak pengusaha yang kenal dengan Vano juga Pa, beruntung nya? mereka mengerti kalau itu semuanya kemauan Ibu hamil, jadi mereka semua tidak meledek Vano,'' cerita Devano kepada semua orang yang sedang berkumpul.
''Memang nya kamu bisa ngabisin semua makanan ini sayang?'' tanya Mami Amora dengan membelai punggung sang putri.
''Lini sangat lapar tau Mi? padahal tadi sebelum berangkat sudah makan siang di rumah,'' sahut nya sambil terus mengunyah makanan yang ia pegang.
''Pantas saja gendut,'' gumam Devano, namun segera di sikut oleh Mama Clara, kalau sampai Mahalini mendengar gumaman suaminya, bisa berabe semuanya.
''Memang benar kok Ma, dia sekarang semakin gendut, tapi masih sangat seksi,'' bisik nya, tepat di telinga Mama Clara.
''Kamu mau ada perang Dunia ketiga di kehidupan kamu, kalau sampai istri kamu mendengar nya tadi,'' Mama Clara balik berbisik kepada Devano.
Devano menggelengkan kepala nya pelan, dia tau yang dia katakan sangat lah menyinggung Mahalini sang istri, tapi Devano kan niat nya cuma mau bercanda saja, bukan beneran? meskipun Mahalini gendut, kurus aku akan tetap sayang kok sama dia, pikir Devano.
Mahalini terus saja mengunyah makanan nya, meski acaranya sudah di mulai, ''Sayang, sudah dong?'' bisik Devano.
''Sudah biarkan saja lah, ini semua bukan mau istri kamu juga kan, ada anak yang ia kandung sekarang,'' tegur Papa Devano.
Devano mengangguk pasrah, hanya melihat istri nya yang terus memakan makanan yang ada di atas meja nya, tapi sesekali Devano tersenyum melihat Mahalini yang semakin berisi, namun semakin keluar aura kecantikan nya.
Mahalini sendiri terlihat sangat cantik dengan pakaian yang kebesaran di tubuh nya, tapi masih saja terlihat semakin cantik saja, meski wajah nya hanya di poles sedikit bedak dan liptint.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.