
Mahalini sedang sibuk dengan pekerja'an nya di dapur, beberapa karyawan yang ada di lantai paling atas.
Tiba-tiba Riki datang menghampiri Mahalini ke pantry seraya berkata. ''Bos memanggil kamu, cepatlah ke ruangan nya sekarang,''
Mahalini hanya mengangguk dan segera menyelesaikan pesanan para karyawan lain nya. ''Pak Riki mau kopi juga?'' tanya nya sebelum Riki keluar dari pantry.
''Tidak usah, lebih baik kamu cepat datang ke Bos, sebelum dia keluar taring gara-gara nunggu kamu lama,'' jawab nya dan pergi meninggalkan Mahalini yang masih berdiri di tempat nya.
''Ya sudah lah, lebih baik aku cepat mengantarkan kopi kopi ini dulu, setelah itu baru ke ruangan Bos,'' gumam nya sembari merapikan gelas gelas yang sudah berisi kopi hangat ke atas nampan.
Mahalini berjalan keluar dari pantry dengan membawa nampan yang berisi kopi dan juga teh hangat pesanan karyawan lain nya, setelah itu Mahalini bergegas menuju ke ruangan Devano, di mana Devano sudah menunggu sejak tadi.
Tok tok tok
__ADS_1
''Masuk,'' jawab Devano dengan suara beratnya.
Mahalini memutar knop pintu dan masuk ke dalam, namun sebelum melangkah ke hadapan Devano, Mahalini menutup pintu ruangan kerja Devano dengan sangat pelan, dan baru setelah itu dia berjalan menghampiri seraya berkata. ''Maaf Tuan, anda memanggil saya,''
''Iya,'' sahut nya, ''Kamu ngapain saja di pantry. Sejak tadi aku menunggu kamu datang, tapi kamu sangat lelet? hanya berjalan ke ruangan ku saja,'' cibir nya dengan menutup laptop yang ada di depan nya.
''Maaf Tuan, saya masih menyelesaikan kopi dan juga teh ke karyawan lainnya, dan ini baru selesai,'' balas Mahalini menundukkan kepalanya, Mahalini tak pernah menatap Devano ketika sedang berbicara dengan dia, bukan dia takut dengan Devano, tapi lebih ke rasa malu karena menurut Mahalini Devano bukan muhrim nya.
''Maaf Tuan, saya merasa tidak pantas memandang anda,'' balas nya dengan lembut membuat Devano gagal untuk memarahi Mahalini.
''Sudahlah jangan bahas lagi, duduklah di sofa! ada yang aku bicarakan dengan kamu,'' titah nya dengan membuka laci di meja kerjanya.
Sebuah map kini sudah ada di tangan Devano, lalu diapun mulai bergabung dengan Mahalini yang sudah menunggu di sofa tak jauh dari meja kerja Devano.
__ADS_1
''Ini adalah surat kontrak yang kemarin kita sudah setujui sebelum nya, kamu baca dulu isi kontrak nya,'' Ucap Devano dengan memberikan map ke tangan Mahalini.
Dengan tangan yang bergetar, Mahalini menerima map tersebut, dan mulai membaca poin demi poin yang tertulis di dalam surat kontrak di dalam nya.
Tanpa banyak bertanya lagi, Mahalini meraih bolpoin di depan nya dan langsung membubuhkan tanda tangan nya di surat kontrak tersebut.
'Maaf kan Mahalini Pa, Lini tidak meminta persetujuan Papa dulu, biarlah ini semua Lini jalani dengan cara Lini sendiri,' gumam nya dalam hati.
''Kamu tidak membaca terlebih dulu isi di dalam surat kontrak itu,'' tanya Devano mengerutkan kening nya, ketika melihat Mahalini langsung menandatangani surat yang ia sodorkan.
''Tidak usak Tuan, lagipula kita cuma sebentar menikah nya, dan juta juga sudah saling setuju bahwa kita tidak saling mengurus kehidupan masing-masing,'' sahut Mahalini sembari menyerahkan kembali map kepada Devano.
Devano tak menyangka dengan sikap Mahalini yang begitu percaya dengan sang bos. Benarkah mereka hanya akan menikah kontrak dengan persetujuan mereka berdua, sedangkan di sisi lain ada seseorang yang menginginkan Devano terus bersama dengan Mahalini. Siapa lagi kalau bukan Tuan Besar Bagaskara yang menginginkan cucu satu satunya menemukan kebahagia'an bersama wanita yang tepat dan juga baik, menurut sang kakek.
__ADS_1