Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 177.


__ADS_3

''Khanza, Khalid, selamat ulang tahun ya, panjang umur dan sehat selalu,semoga menjadi anak anak yag selalu yang membanggakan kedua orang tua kalian,'' kaa Dito dengan memberikan sebuah kado kecil kepada kedua nya.


''Kak Dito apa apa'an sich, kakak datang ke sini saja aku sudah sangat bahagia sekali,'' jawab Khanza yang di angguki oleh Khalid sang kakak.


''Iya benar kak,'' Khalid juga ikut menimpali apa yang di katakan oleh sang adek barusan.


''Tak apa kok, hadiah nya juga tidak semahal yag kalian kira juga,'' balas nya dengan senyum canggung nya, karena Dito sendiri merasa sangat malu dengan hadiah yang ia berikan kepada si kembar, melihat ada tumpuka kado yang lebih bagus dan lebih besar dari kado pemberian nya.


''Tk apa, asak kak Dito ikhlas, kita berdua menerima nya kok, dan terima kasih juga kadonya kak,'' kata Khanza mengulas senyum manis di bibir mungil nya.


''Sangat ikhlas kok,'' balas nya dengan membalas senyuman yang di lemparkan kepada Dito tadi, dan di sinilah puncak acara di mulai, semua nya masuk ke dalam rumah untuk melihat si kembar tiup lilin.


''Sayang, bisa kita mulai sekarang acaranya?'' tanya Mahalini dengan sangat hati hati, takut nyasang anak masih menunggu teman nya yang lain yang belum datang.


''Boleh kok Bunda, agar mereka semu nya bisa mulai menikmati makanan yang sudah kita sediakan di meja,'' sahut nya dengan bahagia.


Mengingat hari ulang tahun nya yang kemarin hanya di hadiri oleh para keluarganya saja/ tapi sekarang para teman dan juga saudaranya juga datang untuk memeri selamat ulang tahun.


Nyanyian ulang tahun menggema di setiap ruangan besar nya. Beberapa badut yang sengaja di undang oleh Tuan Sagara mulai menghibur para anak anak yang datang ke pesta tersebut.


Semuanya larut dalam permainan yang di lakukan oleh sang badut, dengan mengajak anak anak dalam permainan nya.


Sedangkan beberapa karyawan Mahalini ikut membantu dalam menyiapkan minuman dan juga makanan ringan ke para tamu, meskit Mahalini sudah melarang, tapi mereka semua dengan senang hati membantu para koki yang sedang sibuk memasak di dapur yang ada di belakang.


Koki yang memang tidak bekerja di rumah catering Mahalini, di tunjuk untuk membuat jamuan di pesta cucu nya, namun yang bekerja di rumah catering Mahalini sengaja di liburkan seua nya, untuk menemani buah hatinya datang ke pesta Khanza dan Khalid.


''Sebaik nya kamu kembali ke depan saja, nanti Tuan Sagara melihat kamu semua berada di sini, aku yang akan di pecat oleh beliau,'' kata sang koki yang merasa takut dengan kehadiran para peagawai Mahalini.

__ADS_1


''Tidak apa apa, kalau kamu di tegur Tuan, aku akan membela dan mengatakan yang sesungguh nya, lagian aku juga tidak pantas bergabung degan mereka semua di depan, mengingat aku hanya seorang pelayan di rumah catering Bos Lini,'' jawab Ibu Dito dengan panjang lebar.


''Siapa yang bilang seperti itu sama kamu,'' tanya teman kerja nya yang memang tidak tau apa yang sudah terjadi sebelum nya.


''Bukan siapa siapa kok, Bos kita sudah membela kita semua, bahkan dia berani sama teman yang kaya itu, kalau kami di sini juga di undang dan layak ikut bergabung dengan mereka semua nya.


''Sudah, lebih baik kita lanjutan pekerja'an kita semua nya, karena cepat selesai pekerja'an kalian, kami semua ikut senang,'' seru salah satu koki yang tidak mau larut dalam kesedihan, mengingat para karyawan Devano dan para kolega Tuan Sagara yang juga ikut hadir dalam pesta sehari ini.


''Semangat!!'' teriak Ibu Dito menyemangati para teman nya, dan para koki di sana.


...****************..,,...


Almira tidak bisa hadir di acara ulang tahun ponakan kembar nya, karena Almira tengah berbadan dua, dan harus betres, mengingat kandungan nya yang sangat lemah.


Butuh waktu beberapa tahun Almira di beri kepercaya'an untuk merasakan kehamilan yang membuat dirinya selalu tersiksa dengan mual muntah yang ia derita di pagi hari, tapi Almira sangat senang menjalani semua nya, karena semua wanita yang tengah mengandung akan mearasakan hal yang sama dengan Almira.


''Sudah Mas, apa Mahalini dulu juga seperti ini ya?'' Almira berbalik bertanya kepada suami nya.


''Tidak semuanya sayang? Dulu aku lihat Mahalini tidak seperti kamu kok, tapi di dalam rumah nya mungkin juga begitu,'' cetus nys dengan setengsh berpikir, karena Hanafi cuma tau Mahalini hanya di luaran saja.


''Sudahlah Mas, aku juga menikmati momen momen seperti ini, yang belum tentu bisa di rasakan lagi ketika anak kita lahir ke dunia ini,'' putus nys dengan mengambil tissu untuk membasuh bibir nya yang basah.


Hanafi mengangguk dan segera menggendong sang istri untuk kembali ke kamar nya, Hanafi sendiri sebenarnya tidak tega, dengan Almira yang sudah pucat pasi karena terus terusan memuntahkan isi perut nya


Sejak bangun dari tidur nya.


Dengan sangat pelan pelan Hanafi membaringkan Almira ke tempat tidur nya, ''Istirahat lah sayang, Mas akan ke tempat loundry setelah ini, kau sama Bunda di rumah saja, kalau terjadi sesuatu cepat hubungi Mas ya,'' pesan nya dengan mengecup kening Almira sang istri.

__ADS_1


''Iya mas, Mas hat hati ya di jalan,''


''Adek tidak boleh nakal selama Ayah bekerja ya, anak Ayah akan selalu nurut dengan perkata'an Ayah,'' bisik nya di depan perut Almira yang masih terlihat rata.


''Iya Ayah, adek janji tidak akan nakal selama Ayah pergi kerja,'' jawab Almira dengan menirukan suara anak kecil.


Hanafi terkekeh geli mendengar ucapan Almira barusan. Tak lama kemudian Hanafi melangkah pergi guna menuju ke tempat kerja nya.


Di perjalanan menuju tempat laundry milik nya, Hanafi terus terusan menyunggingkan senyuman nya, mengigat dirinya sudah seperti orang gila yang terus tersenyum sendirian.


''Nggak nyangka aku bakalan di panggil Ayah oleh anakku kelak, aku sudah tidak sabar lagi ya Allah,'' gumam nya dengan terus melajukan mobil nya dengan kcepatan sedang, karena tempat yang ia tuju tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu 30 menit saja ke tempat laundry nya.


Sedangkan Almira sendiri sudsh terlelap dalam tidur nya, setelah meminum vitamin yang di berikan oleh sabf Bunda mertua.


Bunda Hanafi sangat menyayangi Almira seperti anaknya sendiri, bukan menganggap sebagai menantu dari keluarga nya.


Sifat Almira yang sudah menjadi baik dan juga beretika, membuat Bundda Hanafi begitu memanjakan nya, dari waktu ke waktu, di tambah lagi dia akan di berikan seorang cucu, pastinya kebahagia'an nya bertambah lagi.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.


__ADS_2