
Mama Agnes menemui Papa Setiawan di rumah dinas nya, Mama Agnes marah marak ketika Papa Setiawan tetap kekeh dengan pendirian nya, yang akan memberikan langsung dana kuliah untuk Farel dan juga Almira.
''Kenapa kamu bersikap seperti ini sekarang, kamu sudah tidak percaya sama aku lagi,'' teriak nya dengan menunjuk wajah Papa Setiawan.
''Bagian kamu terima saja, aku akan memberikan sendiri kepada anak anak uang kuliah nya, mereka juga sudah bisa meng-handle sendiri dalam masalah keuangan, kenapa kamu malah nyolot seperti itu? atau kamu selama ini menggunakan uang kuliah anak anak untuk kesenangan kamu sendiri,'' Papa Setiawan langsung menebak nya.
Mama Agnes langsung gelagapan ketika Papa Setiawan berkata demikian, padahal Papa Setiawan sudah mengetahui semua tentang istri nya, tapi beliau menunggu waktu yang tepat untuk bertindak, dan Papa Setiawan juga belum berbicara dengan anak anak nya perihal dirinya sudah tidak tahan dengan sikap Mama Agnes yang semakin menjadi jadi. (maksudnya gila laki-laki muda) 🤭✌.
''Jangan menuduh sembarangan tentang dirimu, yang selalu diam saja ketika kamu menurutku yang bukan bukan,'' Bela Mama Agnes dengan tenang, dia bersikap setenang mungkin menghadapi suaminya yang kini sudah mulai tidak percaya dalam masalah keuangan nya.
''Pulang lah, bukan nya uang milik kamu sudah masuk ke rekening nya, kenapa datang ke sini hanya untuk meminta uang kuliah anak anak,'' skakmat. Mama Agnes tidak bisa menjawab ucapan Papa Setiawan, dia hanya bengong di tempat nya, dia malu dan mungkin saja masih punya rasa malu itu, dan mungkin saja tidak memilih rasa malu sama sekali.
Mulut Mama Agnes terasa kelu, ketika mendengar ocehan dari suaminya. ''Apa mungkin dia sudah tau aku main sering dengan laki laki di luaran sana?'' gumam Mama Agnes di dalam hatinya.
''Kenapa? masih memikirkan kata kata seperti apa yang cocok untuk membela diri,'' cicit Papa Setiawan yang sudah mulai jengah dengan istri nya, istri yang sudah 26 tahun menemaninya, dan kenapa harus sekarang dia berulah dengan laki-laki lain, bahkan laki-laki tersebut seperti anak-anaknya nya sendiri, pikir Papa Setiawan, Papa Setiawan sudah mendudukkan diri nya di sofa yang berada tak jauh darinya.
Dari tadi Papa Setiawan berdiri karena meladeni perdebatan Mama Agnes yang membuat dirinya tidak bisa lagi mengontrol emosi nya.
''Keluarlah sekarang, sebelum aku panggil satpam ke sini,'' ujar nya dengan menunjuk ke arah pintu.
''Aku akan pergi dari sini, tapi lain kali aku akan datang lagi, ingat itu!!'' Mama Agnes tak kalah ketus dari Papa Setiawan.
__ADS_1
Mama Agnes menghentakkan kakinya ke lantai rumah dinas Papa Setiawan, tidak ada rasa penyesalan sama sekali di lubuk hati Papa Setiawan saat ini.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya merasa ada kelegaan tersendiri ketika melihat Mama Agnes melangkah pergi setelah di usir Papa Setiawan.
Bibi yang bekerja di rumah Papa Setiawan segera masuk menemui Tuan nya, takut nya sang Tuan malah seperti kemarin, ketika Mama Agnes datang.
''Tuan tidak apa apa?'' tanya sang Bibi dengan khawatir.
''Aku baik baik saja kok Bi, lagian aku sudah tidak peduli lagi dengan apa yang ia katakan kepada ku tadi, makanya aku tidak kenapa napa Bi, kalau kemarin aku belum siap kehilangan Mama anak anak, tapi setelah anak anak mengatakan dirinya sudah membiaya kuliah dan juga hidup nya selama 4 bulan terakhir, aku sudah tidak memiliki rasa lagi kepada Agnes, apa aku egois kalau aku mengajukan gugatan cerai Bi,'' Papa Setiawan meminta nasehat kepada sang Bibi.
''Kalau semua nya bisa membaik? kenapa harus memikirkan hal seperti itu lagi Tuan, den Farel dan Non Almira pasti mengerti dengan keputusan Tuan,'' jawab nya dengan panjang lebar.
''Kamu benar Bi, kemrin aku masih memikirkan anak anak? tapi sekarang tekadku untuk bercerai dengan Agnes sudah bulat, apalagi dia sudah memiliki laki-laki yang memuaskan nafsu ranjang nya.
''Aku akan beristirahat di kamar, kalau ada tamu bilang saja tidak ada, aku ingin waktu untuk sendiri,'' Ujar Papa Setiawan mengingatkan sang asisten rumahnya.
''Baik Tuan, lebih baik anda segera istirahat di kamar, karena saya sangat khawatir kalau sampai penyakit Tuan kambuh lagi, seperti kemarin,'' jawab nya dengan menunduk, dia takut sang majikan menjadi marah, ketika dirinya menggurui sang majikan. Pikir sang asisten rumah nya.
''Baiklah, aku titip rumah dulu,'' pamit nya dan beranjak dari ruangan keluarga menuju kamar nya, yang ada di lantai dasar.
Di lantai atas memang banyak kamar, tapi Papa Setiawan tidak mau menempati kamar kamar tersebut, biarlah kamar di atas menjadi kamar milik anak anak nya.
__ADS_1
''Aku harus bagai sekarang, apa aku harus melaporkan masalah ini kepada den Farel, atau Nona Almira? tapi Nona Mahalini juga wajib tau karena dia sudah di asuh Tuan Setiawan dari kecil,'' gimana sang asisten rumah nya dengan mondar mandir tak tentu di ruang tamunya.
''Sudahlah, lebih baik aku hubungi den Farel saja kalau begitu, siapa tau den y bisa langsung datang ke sini, setelah tau kejadian barusan,'' lagi lagi sang Bibi bergumam dengan mengangkat satu alis nya ke atas.
''Biarin saja Tuan besar marah kepada ku, asal Tuan terus sehat dan tidak tertekan seperti ini. Aku hanya kasian kepada Tuan saja, aku sudah menganggap majikan ku seperti saudara sendiri,'' ucap nya dengan melangkah pergi menuju dapur, karena hati sudah semakin siang, dan dia belum memasak makanan siang nya.
''Kan, gara gara Agustus aku lupa semua nya, pekerja'an ku yang tadi juga belum kelar, dan sudah di tinggal begitu saja, ach..... dasar pikun pikun??'' sang Bibi menepuk jidad nya, karena dia sudah melupakan pekerja'an nya dan berlari menuju ruang tamu ketika melihat Mama Agnes keluar dari rumah sang Tuan.
''Dasar ge blek banget sich kamu Jem Jem?'' gumam nya dengan terus ngedumel karena pekerja'an nya semakin banyak saat ini.
Sedangkan di dalam kamar Papa Setiawan memandangi foto dirinya bersama dengan Mama Agnes yang saat itu masih memiliki Almira, mereka berdua sangat bahagia di dalam kehidupan nya, sampul akhirnya dirinya harus pindah ke kantor cabang, dan mengharuskan pulang setiap bulan sekali, karena pekerja'an nya tidak bisa ia tinggal lama lama, karena sudah tugas nya menguris kantor cabang milik Tuan Sagara.
Tapi sekarang Cinta itu seakan akan sudah lenyap dan menyisakan sakit hati dan juga berakihat ke perceraian juga, Papa Setiawan tidak pernah menginginkan perceraian itu terjadi, tapi takdir berkata lain, dan mengharuskan mereka berdua berpisah untuk selamanya nya.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.