
Bapak bapak tersebut pulang dengan senyum yang merekah di bibir tua nya, Mahalini juga sangat senang karena sudah menolong orang yang membutuhkan bantuan nya.
''adi kenapa kamu menangis ketika mengobrol dengan Bapak itu,'' tanya Devano yang dari tadi sudah di landa penasaran.
''Aku hanya sedih dengan Bapak itu Mas, beliau menebus obat untuk anak nya yang sedang sakit di rumah nya, beliau juga cerita sedikit tentang penyakit anak nya, anak nya menderita gagal jantung dan jugaginjal, betapa sedih nya Bapak itu, di saat beliau tidak memiliki uang untuk menebus obat nya yang sangat mahal sekali, di tambah lagi biaya makan sehari harinya, beliau hanya bergantung kepada sawah nya yang ada di kampung,'' cerita Mahalini dengan tetsan air mata.
Lagi lagi Mahalini menteskan air matanya mengingat orang tua yang begitu menyayangi anak nya, dan apakah anak nya bisa bersikap seperti itu juga, ketika seorang ayah sedang sakit, entahlah.
Devano menarik nafas panjang nya medengar cerita dari istri nya yang terdengar sangat menyayat hati nya, mungkin bagi Devano uang masalah gampang, karena dengan uang kita bisa berbuat apa saja, tapi tidak dengan kebahagian.
''Sudah jangan sedih lagi, mungkin besok atau lusa kita bertemu dengan bapak itu, kita beri uang lagi untuk pengobatan anak nya yang sedang sakit,'' putus Devano karena melihat istrinya yang masih menangis.
''Sekarang kita mau kemana lagi, apa masih mau ke rumah catering,''
''Iya Mas, aku mau makan masakan koki di sana, sudah lama aku tidak makan masakan koki di sana,'' jawab nya dengan memakai seatbelt nya.
Devano mengangguk dan melajukan kendara'an nya menuju ke rumah catering istrinya.
Di pertengahan jalan Mahalini merasakan ada sesuatu yang mengalir di dada nya, dan buah dada nya terasa sangat sakit dan bengkak.
''Kamu kenapa sayang?'' tanya Devano ketika melihat istrinya tengah menahan sakit di dada nya. ''Apa kita kembali ke rumah sakit saja,'' tanya nya.
''Jangan Mas, aku nggak apa apa kok, hanya dada ku terasa bengkak saja, dan ada yang mengalir juga,'' sahut nya dengan membuka hijab dan juga resleting yang ada di bajunya, Mahalini nampak terkejut melihat apa yang sedag mengalir di dadanya, ternyata ASI nya yang terus menetes, sampai membasahi bra yang ia pakai.
''Kita pulang saja Mas, ASI ku tiba tiba menetes deras, dan ini braku juga sudah basah juga,'' ucap nya suara tercekat.
''Ya sudah kita pulang sekarang saja ya,''
Mahalini memegang dada nya yang terasa berdenyut, dia juga heran karena dia idak melakukan apa apa, dan juga belum meminum obat yang tadi di resepkan oleh dokter Laila,pikir nya.
Pikiran Mahalini terus berpetualang, mencari kebenaran tentang dirinya yang tiba tiba banjir ASI begitu saja.
__ADS_1
''Mas, apa? Mungkin karena Bapak yang tadi itu ya, tadi beliau sempat memegang jepala ku, dan meniup ubun ubunku juga,'' tebak Mahalini.
''Iya, mungkin karena Bapak itu, ya sudah kita jangan berspekulasi dulu, nanti kita pikirkan lagi di rumah, baju kamu juga sudah sangat basah? Apa tidak apa apa, ASI nya menetes seperti terus,'' tanya Devano yang semakin khawatir.
...****************...
Samapai di kediaman nya, Devano membawa Mahalini ke kamar nya, tanpa mau berhenti di ruang tamu nya, karena di sana sudah ada Papa Setiawan yang datang berkunjung melihat cucu cucu nya yang manis dan juga tampan.
''Kenapa mereka langsung masuk begitu saja, apa ada yang terjadi sama mereka berdua?'' gumam Mama Clara menatap pintu kamar Mahalini tertutup.
''Jangan menebak nebak, mungkin dia langsung membersihkan tubuh nya saja, karena baru pulang dari rumah sakit,'' sahut suami nya yang tidak ingin istrinya berpikiran yang macam macam.
Mama Clara mengangguk dan melihat Devano keluar dari kamar nya, dan berjalan ke arah nya dengan baju yang berbeda dari barusan, ketika dia baru pulang dengan menggendong Mahalini.
''Mama, bisa bantu Mahalini sebentar, aku tidak tau harus melakukan apa, cepat bantuin dia Ma,'' bisik nya.
Mama Clara mengangkat tangan nya, bertanya apa yang terjad dengan isyarat nya.
''Apa yang terja--'' Mama Clara menghentikan ucapan nya ketika melihat menantunya tengan menutupi dadanya dengan kain, tapi kain penutup basah.
''Ada apa sayang, kenapa kamu tidak pakai baju, nanti yang ada kamu malah masuk angin lagi,'' cecar nya dengan berbagai pertanya'an.
''Ma, ASI Lini sangat deras, sejak pulang dari rumah sakit menetes terus, aku juga tidak tau mau ngapain di sini, Ma,'' gumam ny dengan lirih.
'Oke, Mama engerti apa yang jadi masalah sekarang, Mama ambil alat pompa ASI dulu di kamar si kembar, kamu tunggu di sini ya,'' Mama Clara bergegas pergi untuk mengambil alat pompa.
Dengan sangat sabar Mama Clara memasangkan alat tersebut ke dada Mahalini, awal nya Mahalini merasa malu kepada mertuan nya, tapi dia juga sadar kalau dirinya sangat membutuhkan bantuan nya, karena ini awal Mahalini memakai pompa ASI yang kemarin sengaja di beli oleh Mami Amora.
''Tidak usah gugup seperti itu, kita sama sama wanita, lagian kita ini ana dan Mama kenapa harus malu sich,'' ucap Mama Clara dengan senyuman khas nya.
''Kenapa tiba tiba seperti ini sayang, dan ini sudah sangat banyak lho,'' Mama Clara mmenuangkan ke dalam botol untuk persedian nanti dan juga besok.
__ADS_1
''Entahlah Ma, aku juga tidak mengerti, tadi tiba tiba saja dadaku terasa bengkak dan ada yang mengalir gitu, dan aku lihat ternyata ASI nya sudah menetes terus Ma,'' cerita nya dengan tanpa ada yang di kuranginya.
''Alhmadulillah kalau seperti itu, karenayang kamu inginkan akan segera terlaksana juga,'' gumam nya lagi. ''Yang ini sudah habis, nanti kalau terasa bengkak lagi, baru di pompa lagi, dan taruh di sini ya, biar nanti Mama yang akan tarok ke dalam lemari pendingin,''
''Baik Ma,''
''Sekarang kamu pakai baju dan temui Papa kamu di ruang tamu, dia sudah sejak tadi menunggu kamu, katanya sudah sangat kangen,'' tukas nya.
''Memang nya Papa siapa yang mengantarkan ke sini Ma?''
''Tadi Hanafi yang mengantarkan ke sini, dia bilang Almira sedang kuliah dan Farel sedang bekerja, jadi calon mantu yang mengantarkan ke sini,'' jawab nya dengan sedetail mungkin.
Mahalini terkekeh dan segera memakai hijab nya dan keluar dari kamar nya, untuk sekedar menyapa Papa Setiawan.
''Assalamu'alaikum,'' ucap Mahalini dengan mengambil tangan Papa Setiawan dan mencium nya.
''Papa sudah lama datang nya?'' tanya Mahalini yang mendaratkan bokong nya dengan perlahan.
''Hati hati sayang,'' kata Devano dengan memegang tangan sang istri.
''Terima kasih Mas,'' ucap nya dengan mmengulas senyum.Hatinya kini sedang berbunga bunga, karena apa yang ia inginkan akhirnya ia rasakan sekarang.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.
__ADS_1