Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 163.


__ADS_3

''Breng sek, semua ini gara gara Setiawan yang tidak mau memberikan aku uang sama sekali, seandainya dia memberiku uang yang cukup banyak, pasti aku tidak akan bernasib seperti ini sekarang, aku sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi, aku harus pergi kemana sekarang? tidak mungkin aku tinggal di bawah jembatan, bersama dengan pengemis jalanan yang super bau itu,'' gerutu Mama Agnes seraya terus menarik koper nya.


Rasa lapar sudah mulai menyerang, dan di raih nya dompet yang berada di dalam tas selepang nya, terlihat jelas di sana hanya tinggal 20 ribu perak, dan itu tidak akan cukup untuk di bawa makan di restoran mahal, seperti yang dia lakukan sebelum sebelumnya.


Memang benar sekali, kalau kehidupan seperti roda yang terus berputar, kadang ada di atas, kadang juga ada di bawah, jadi kita tidak boleh semena mena terhadap orang yang terlihat kekurangan, jangan hina atau caci mereka, karena do'a mereka mustajabah, dan gampang di kabulkan oleh Allah SWT, karena hati mereka yang ia sakiti.


Begitu pula dengan keada'an Mama Agnes saat ini, tidak punya rumah hanya karena kesenangan sesaat nya saja, sampai sampai dia tega menipu anak anak dan juga suami nya.


Padahal Papa Setiawan sudah sangat baik kepada istri nya yang selalu bersikap egois kepada nya, tapi kata kata yang selalu di lontarkan oleh Mama Agnes tidak pernah di ambil hati oleh Papa Setiawan.


Tapi kali ini Papa Setiawan sudah benar-benar capek dengan sikap Mama Agnes yang semakin liar? dan suka berbohong kepada nya.


''Achhhh!!!'' teriak Mama Agnes dengan suara nyaring nya.


''Dengan uang segini bisa beli apa coba, aku tidak pernah makan di wartek atau semacam nya, aku selalu makan di restoran mewah, tapi dengan uang segitu mana bisa aku makan di sana,'' ucap nya dengan membolak balik uang yang ia pegang saat ini.


''Jangan sok kaya dech lho, tampang elit, buat makan sulit,'' ledek beberapa pekerja yang kebetulan lewat di samping Mama Agnes.


''Awas saja kamu, kalau aku kaya lagi? akan aku pastikan kalian akan merasakan akibat nya,'' teriak nya dengan mengambil batu dan di lemparkan kepada orang yang tadi meledek nya.


Semua orang yang mau berangkat kerja yang kebetulan lewat di jalan yang sama dengan Mama Agnes menjadi takut dan memilih jalan memutar, karena Mama Agnes terlihat memegang sebuah batu besar di tangan nya.


''Mungkin dia sudah gila, makanya dia seperti itu, penampilan nya juga sangat anehh, pakek bawa koper segala,'' bisik laki-laki yang sudah memutar arah.

__ADS_1


Walaupun perjalanan cukup jauh karena lewat jalan memutar, merey semua lakukan? asal mereka sampai di tempat kerja dengan selamat, tanpa tergores sama sekali, ''Kalian kenapa telat, dan kenapa kalian lewat jalan memutar, bukan kah ada jalan yang lebih dekat dari rumah kalian ke sini,'' tanya sang mandor yang melihat beberapa karyawan nya lewat jalan memutar.


''Di jalan sana ada orang gila Pak, kami takut menghadapi dia, dia memegang batu kali yang lumayan besar, yang akan mengakibatkan kepalaku bocor, akibat lemparan baru tersebut,'' adu Sang karyawan yang di angguki mandor nya.


''Kalian masuklah, mumpung Bos belum datang, cepat cepat masuk ke dalam,'' teriak sang mandor dengan berteriak, agar semua karyawan nya bisa langsung bekerja dan tidak mendapatkan teguran dari Bos besar nya yang super duper medit seperti Dedemit.


...****************...


Farel yang melihat video sangat Mama hanya menggeram kesal, sang Mama terlihat nampak sangat kacau, dengan penampilan yang sudah seperti orang gila yang berkeliaran di tengah jalan.


''Mama kamu sekarang kenapa jadi seperti itu sich Farel,'' seru salah satu rekan kerja nya di cafe.


''Entahlah, mungkin dia kena Karma kali, karena sudah memakan uang kuliah Farel,'' sahut salah satu rekan kerja yang tau betul dengan kehidupan si Farel.


''Iya, lebih baik kita kerja saja, ngapain bahas yang lain nya,'' sahut nya dengan memulai memasak kembali. Ya, karena saat ini Farel sedang membantu koki di dapur untuk menyiapkan bahan makanan dan juga mengiris bahan makanan yang akan segera di masak oleh sang koki.


Farel memang sangat senang dengan membantu sang koki di dapur? ketika pekerja'an nya sedang senggang.


Dalam hati Farel terus bergumam, kenapa Mama nya bisa menjadi seperti itu sekarang?.


'Kenapa sekarang Mama malah menjadi seperti itu, padahal kemarin ketika dia mau bercerai dengan Papa, dia nampak sangat bahagia, karena sudah ada lagi yang mengatur ngatur dia lagi, tapi? entah kenapa sekarang malah seperti gelandangan yang tidak punya rumah saja,' gumam nya di dalam hati.


Farel merasa sangat kasian dengan sang Mama nya yang bersikap seperti itu, tapi dia tidak mau kalau dirinya hanya akan menjadi orang yang akan selalu di manfaat oleh sang Mama.

__ADS_1


Apalagi di apartemen nya saat ini, ada Papa nya yang sedang menunggu pernikahan Almira kakak nya.


Farel kini di landa dengan kegalauan yang sangat membingungkan, memikirkan itu semua sampai sampai dia tidak fokus dengan pekerja'an nya, dan akhirnya jari telunjuknya lah yang jadi penasaran.


''Aww,'' teriak Farel ketika jarinya terkena irisan pisau.


''Kenapa kamu tidak hati hati sich Farel, jadi seperti ini kan?'' tegur sang koki yang dengan cekatan membersihkan luka Farel di bawah guyuran air kran di wastafel.


''Maaf, aku hanya tidak fokus dengan pekerja'an ini saja, maafkan aku?'' mohon Farel dengan nada melas nya, agar dirinya masih bisa membantu sang koki di dalam dapur.


''Sudah, jangan banyak bicara dulu, yang penting sekarang luka kamu di obati, setelah itu kamu kerjakan yang lain nya dulu, takut nya kamu malah mengiris lengan kamu lagi, karena saking tidak fokus nya dengan pekerja'an kamu sekarang,'' jawab nya dengan panjang lebar, Farel hanya membalas dengan anggukan seraya tersenyum walau di paksakan, karena dia sudah tidak boleh membantu di dapur.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.

__ADS_1


__ADS_2