
Almira membeli beberapa kue yang ada di dalam etalase toko, tiba-tiba Almira melihat salah satu kue dengan label nama Mahalini.
''Mbak, coba lihat kue yang itu juga dong?'' pintanya menunjuk kue yang ada di ujung.
''Och yang ini kak? ini rekomended banget dan paling laris di toko sini, banyak pelanggan yang suka dengan kue nya, selain rasanya enak harga nya juga tidak menguras kantong,'' jawab nya dengan memberikan sebuah kue kepada Almira.
''Mahalini,'' gumam Almira membaca label nama yang di tempelkan di mika kuenya. ''Apa Mahalini ini bekerja di sini juga sekarang,'' tanya Almira menatap sang pegawai toko.
''Mbak Lini tidak kerja di sini, tapi beliau bekerja di rumah nya, dan akan mengantarkan semua kue pesanan pada jam sembilan pagi,'' jawab nya dengan panjang lebar.
''Boleh tau di mana rumah Mahalini yang buat kue ini,'' Almira kembali bertanya kepada sang pegawai.
''Kalau masalah itu saya tidak tau pasti Mbak, yang pasti bukan Mbak Lini langsung yang mengantarkan kue kue itu ke sini, melainkan menyuruh seorang sopir,'' jawab nya dengan melambaikan tangan nya ke salah satu teman nya yang juga baru masuk ke dalam.
''Ada apa Sil?'' tanya sang teman ketika dia di panggil.
''Mungkin kamu tau alamat Mbak Mahalini,'' tanya Silvia kepada teman nya yang baru saja di panggil.
''Tidak, aku juga tidak tau alamat rumah Mbak Mahalini, memang nya kenapa Mbak,'' tanya pegawai satunya kepada Almira.
''Di-dia''
''Dia adek Almira,'' potong Hanafi yang baru turun dari mobil nya dan menghampiri Almira.
''Lha, katanya adek nya? kok nggak tau alamat rumah nya di mana sich,'' gerutu salah satu pegawai di dekat Silvia tadi.
''Dia sudah lama tidak bertemu dengan Mahalini, jadi dia hilang kontak dengan Mahalini, dan selama ini kita sudah mencari kemana-mana, tapi belum ketemu juga, dan saya harap anda bisa membantu teman saya ini,'' kata Hanafi dengan alasan yang begitu meyakinkan dua orang di depan nya.
__ADS_1
''Kita nggak tau alamat jelas nya, cuma bos kita yang tau alamat Mbak Mahalini, apalagi saat ini dia sedang hamil jadi tidak boleh pergi ke mana mana lagi,'' papar nya, mendengar ucapan sang pegawai toko Almira mengerutkan kening nya.
Adek nya kini tengah hamil, tapi Almira tidak mengetahui nya, 'Mahalini sedang hamil, tapi aku tidak mendengar dia menikah selama ini, apa jangan jangan dia sudah di lecehkan oleh seseorang,' batin Almira berkecamuk, mengingat para pegawai di toko tersebut mengatakan Mahalini hamil.
''Ya sudah, terima kasih ya Mbak, kita permisi? kalau ada kabar tentang alamat Mahalini, tolong hubungi nomer ini ya,'' ucap Hanafi dengan memberi kartu nama nya kepada pegawai yoko kue.
''Iya, baik Mas,'' jawab keduanya dengan serempak.
Hanafi dan juga Almira pergi setelah membayat semua kue kue yang ia pilih tadi, sampai akhirnya melihat kue buatan Mahalini.
Di dalam mobil Almira masih terus diam tanpa mau buka suara, meski mobil yang ia yumpangi sudah berada di perjalanan menuju kampus nya. ''Sudah, kamu jangan kepikiran hal hal yang tidak baik lagi, mungkin adek kamu sudah menikah dan sekarang dia sedang hamil anak mereka,'' kata Hanafi yang seakan tau apa yang sedang ada di pikiran Almira.
''Iya, tapi Papa dan Farel yidak memberi tahu ku kalau Mahalini sudah menikah, mungkin aku sudah tidak di harapkan lagi oleh semua orang, karena itulah mereka semua tidak mau memberitahu kabay gembira itu kepada ku,'' jawab Almira dengan menundukkan kepalanya.
''Berpikir positif saja, yang penting adek kamu sehat dan juga sudah bahagia dengan laki-laki yang mencintai nya,'' sambung Hanafi yang langsung di angguki Almira.
Almira tidak bisa berkata kata lagi, hanya air mata yang kini sudah membasahi kedua pipinya.
''Mungkin Papa dan adek kamu menyembunyikan pernikahan Mahalini, mereka takut kamu dan Mama kamu akan menghancurkan pernikahan Mahalini, hati seseorang kan tidak ada yang tau kan?'' Hanafi mencoba mencari sesuatu yang mungkin benar adanya.
''Mungkin saja, Papa sangat sayang dengan Mahalini, apalagi ketika beliau tau? aku dan Mama pernah menganiaya Mahalini sampai masuk rumah sakit, semenjak itu Papa jarang pulang ke rumah, kalau pulang pasti hanya ke apartemen Farel tanpa mau datang ke rumah, beliau juga hanya mentransfer uang ke kita tanpa mau menjenguk aku sama sekali,'' ungkap nya denga nada sedih nya, tangisan nya kini sudah tidak terbendung lagi, Hanafi yang melihat Almira menangis hanya bisa membiarkan saja, agar rasa sesak dan juga sakit yang menyelimuti hatinya reda bersama dengan tangisan nya.
Hanafi memberikan tissu ketika sudah sampai di parkiran kampus nya, ''Hapus dulu air mata kamu, aku takut semua orang mengita aku yang sudah membuat kamu menangis dan malah menduga yang macam macam lagi,'' ujar nya dengan tisu yang masih mengambang, karena Almira belum menerima tisu pemberian Hanafi.
''Terima kasih, karena kamu selalu ada di setiap aku sedih,'' sahut Almira menerima tissu pemberian Hanafi.
''Iya sama-sama kok, aku ikhlas bantu kamu, jadi mulai sekarang jangan merasa sendirian lagi ya,'' balas Hanafi dengan senyuman manis nya.
__ADS_1
'Ya Allah, dia sudah terlalu baik kepada ku, sedangkan aku tidak tau harus membalas semua kebaikan Hanafi selama ini dengan apa,' gumam nya di dalam hati.
Almira dan Hanafi turun dari mobil nya dan menuju ke kelas masing-masing, karena Almira dan Hanafi beda jurusan.
Sesampai nya di dalam kelas sudah menunggu sahabat Almira, Mita sudsh cengengesan melihat Almira dengan membawa sesuatu di tangan nya.
''Kamu bawa apa shayy,'' tanya nya dengan antusias.
''Kue, tadi aku mampir ke toko kue, kamu mau?'' Almira membuka bungkusan dan memberikan kepada teman teman nya yang mau dengan kue kue yang ia beli tadi, tak mungkin juga kan kalau Almira menghabiskan semua kue kue itu sendirian, karena terlalu banyak.
Almira juga merekomendasikan kepada semua teman nya kalau kue buatan Mahalini paling enak dan juga harga nya sangat terjangkau.
''Kalian datang saja di toko roti Bu Savitri tak jauh dari perumahan elit ,'' papar nya dengan sedikit mengulas senyum, Almira berharap dengan begini dia bisa membantu penjualan kue kie Mahalini yang ia titipkan kepada toko kue Bu Savitri.
''Ech beneran enak lho, nanti kita mampir ke sana yuk,'' ajak salah satu yang juga mencicipi kue buatan Mahalini.
'Alhamdulillah,' ucap Almira dengan melebarian senyuman nya ketika dia mendengar semua teman nya mengucapkan akan mampir di toko kue Bu Savitri.
Mita selalu sahabat Almira hanya menatap Almira dengan intens, sesekali dia juga tersenyum melihat sahabat nya yang pernah jahat kepada adek angkat nya kini mau merubah sikap nya menjadi lebih baik lagi dari sebelum nya, semua nya adalah berkat Hanafi yang mau membimbing Almira ke jalan yang benar dan juga lebih baik.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕.