Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 121.


__ADS_3

Mahalini duduk di belakang, sedangkan Devano berada di belakang kemudian.


''Sayang, kok kamu malah duduk di belakang sich, terus Mas sama siapa di depan?'' ucap nya dengan menolehkan kepalanya ke belakang.


''Mas Vano dan kak Hanafi saja di depan nya, Kini malas banget pindah pindah Mas, masak iya? kalau Mas Vano gantian nyetir sama kak Hanafi, Lini juga ikutan pindah, kan capek,'' sahut nya dengan membuka camilan nya.


''Tapi berhentinya kan nanti sayang, kalau sudah sampai di warung, atau kita selesai istirahat juga,'' Jawab Devano yang tak mau kalah dengan istri nya.


''Lebih baik Kak Hanafi saja yang di depan dech, biar nanti gantian nya enak, dan kita berdua tidak usah bergantian juga,'' serunya yang sudah memasukkan camilan ke dalam mulutnya.


''Kalau Lini nggak mau di depan biar saja yang di depan?'' sambung Almira yang berniat untuk bercanda dengan sang adek.


''Lha kan kak Mira sudah ada kak Hanafi, napa mesti dengan Mas Vano,'' cetus nya dengan memelototkan matanya.


''Kan kamu nggak mau,'' lagi lagi Almira menggoda Mahalini.


''Enak saja, itu laki gue bukan laki lho tauk!'' sarkas nya, dengan bersikap angkuh.


''Ya aku juga tau, kalau Devano laki lho dek, tapi kan nggak apa apa yak, di depan berdua,''


''Lebih baik kak Hanafi cepat masuk, atau kita tinggal nich, ngomong terus kapan berangkat nya sich,'' tukas nya yang sudah merasa emosi dengan sang kakak, namun Devano malah tersenyum simpul, melihat macam betina nya sudah mulai mengeluarkan taring nya.


Almira dan Hanafi masuk sesuai perkata'an Mahalini mereka tidak mau membuat bumil bertambah mengamuk, yang ada di dalm mobil akan terus mengeluarkan taring nya.


Farel duduk di jok paling belakang, dan selalu menatap dari belakang kedua kakak nya yang sudah mulai akur, meski Farel belum percaya sepenuhnya kepada Almira, kakak kandung nya.


Sepanjang perjalanan Farel tidak membuka suaranya sama sekali, dia hanya diam melihat interaksi Mahalini dan juga Almira kakak kandung nya.

__ADS_1


''Adek dibuka apa sekarang?'' tanya Mahalini dengan menyodorkan kue kepada sang adek.


''Seperti biasa lah kak, aku kan ingin mandiri, dan juga tidak mau merepotkan Papa lagi, aku takut Papa bertambah drop,'' ucap nya keceplosan. Farel segera menutup mulut nya dengan telapak tangan nya, ketika kedua kakak nya menatap ke arah nya.


''Kanapa tatapan kakak seram begitu sich,'' tanya nya dengan memberanikan diri, untuk bertanya.


''Kamu yang kenapa jangan hilang kalau Papa selama ini sakit?'' tebak Mahalini, membuat Farel salting.


''Enggak kok kak, Papa baik baik saja,'' jawab nya terus mencoba tetau tenang, menghadapi kakak yang super kepo, seperti Mahalini.


''Awas kalau kamu bohong, gue sunat lagi lho,'' tunjuk Mahalini dengan mendelik ke arah Farel.


Devano yang mendengar kata sunat meringis di buat nya, ''Kalau di sunat lagi bakalan habis sayang?'' sambung Devano dengan menatap wajah istri nya dari spion kecil di atas nya.


''Ya kalau dia nyembunyiin sesuatu kepada ku Mas, akan aku potong lagi hartanya thu,'' cetus nya menyipitkan matanya.


''Benar kak, aku tidak bohong? ya sudah kalau kalian tidak percaya, yang penting aku tidak berbuat kok,'' balas nya dengan memejamkan matanya, karena dia sangat ngantuk sekali.


Jam 7 pagi malah di jemput oleh Mahalini kakak nya, untuk menjenguk sang Papa yang kemarin kemarin nya sedang sakit di rumah dinas nya.


''Ya elah, dia malah molor?'' ujar Mahalini dengan menggelangoan kepala nya pelan.


''Mungkin dia capek dek, biarin sajalah? selama ini dia terus menyibukkan dirinya dengan bekerja paruh waktu, kadang Farel mengambil lemburan ketika ada teman nya yang ijin sakit, aku sangat salut dengan adek ku yang satu ini, selama ini aku sudah salah menilai kalian berdua, tapi aku sekarang sudah sadar, kalau ternyata aku memeliki adek adek yang super duper hebat,'' puji Almira dengan mengulas senyum nya.


''Apa sich kak, semua nya pada hebat hebat, karena itu didikan Papa? aku juga bisa sukses karena berkat kamu juga, dulu pernah di suruh bikin kue, dan jadilah seperti ini, karena setiap buku yang aku baca, bukan novel? melainkan buku resep kue dan juga masakan,'' Mahalini mencoba mengingat waktu dulu, ketika dirinya masih sekolah menengah pertama, yang di paksa untuk membuat kue oleh Almira, yang menginginkan kue di malam hari, jadi Mahalini membaca buku yang ia temukan di laci meja yang ada di dapur nya.


Awal bikin kue Mahalini rasanya sangat aneh, tidak seperti kue kue biasa nya yang di pajang di toko toko kue.

__ADS_1


''Kok kamu masih ingat sich, padahal aku sudah lupa,'' celetuka Almira dengan menggaruk tengkuk nya yang tak gatal, saat ini kepala Almira juga tertutup hijab, dia juga mau berhijrah menjadi lebih baik, bukan untuk mengikuti Mahalini yang sudah mengenakan hijab lebih dulu, tapi dengan niat nya dan kemauan nya yang sudah menggebu-gebu, jadi Almira memutuskan untuk segera menutup aurat nya.


''Maafkan aku dek, waktu itu aku cuma ngasal saja, tapi Mama yang memaksa aku buat nyamperin kamu di dalm kamar, dan langsung menyuruh kamu membuat kue, padahal sebenarnya aku tidak suka dengan kue,'' cerita Almira yang di angguki oleh Mahalini.


''Tak apa kok kak, aku sangat bersyukur sekali, karena sering baca buku resep, jadinya semua aku hafalin saja, siapa tau butuh ke depan nya,'' jelas Mahalini.


''Jadi kamu ngafalin buku buku resep yang kamu baca dulu,'' tanya nya nggak habis pikir dengan sang adek, padahal dia bukan cowok yang sekuat itu kalau bekerja, tapi Mahalini kuat mengangkat berat.


Mahalini mengangguk dan tersenyum lepas, karena didikan dari Almira dan Mama Agnes, sehingga dia bisa sesukses sekarang ini.


''Oia kak keada'an Mama sebenar nya kenapa ya.


''Saya juga tidak mengerti dek, tapi setiap beliau menyuruh? memang harus secepat nya di lakukan,'' kata Almira lagi


Sedangkan para laki laki, sibuk dengan obrolan mereka berdua, karena Farel sedang tidur dan kedua kakak nya tidak mau merepotkan sang adek juga.


''Apa secapek itu di restoran nya kak,'' tanya Mahalini menatap wajah sang kakak.


''Ya, mau bagaimana tidak capek, sedangkan semua pekerja'an di lakukan oleh Farel sendirian, aku juga pernah dengar dari salah satu teman nya, yang juga sama sama bekerja di restoran itu, dia bilang kalau Farel sedang mengumpulkan uang, untuk Papa nya? aku kaget dengan ucapan spontan teman nya, kenapa dengan Papa? dia kan sedang kerja di luar kota, Papa sendiri masih bekerja? tapi kenapa adekku mencari uang untuk Papa? selama ini pikiran itu selalu berkecamuk, mengingat Papa yang sudah semakin berumuu, pasti dia sudah capek dengan pekeeja'an nya juga, sampai akhirnya Farel lah yang mau membantu Papa di sana,'' cerita Almira dengan panjang lebar nya.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.


__ADS_2