Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 49.


__ADS_3

Devano kembali ke kamar nya setelah selesai mengobrol dengan sang Papa di ruangan kerja nya. Rasa lelah dan kantuk ia rasakan, karena seharian ini Devano sudsh berkutat dengan pekerja'an nya, di tambah lagi dia harus bergelut dengan hati dan juga otak nya. Membuat rasa lelah nya semakin terasa oleh Devano.


Memikirkan Mahalini yang sedang istirahat di kamar nya membuat dia semakin semangat untuk memasuki kamar nya, ''Ada apa dengan ku, kenapa aku selalu terbayang wajah cantik Lini, wajah yang begitu teduh, dan juga matanya yang indah menambah kesan cantik di sana.'' gumam nya dengan memegang handle pintu kamar nya, dan bersiap untuk masuk ke dalam, tapi di menit kemudian Devano mengurung kan niat nya untuk masuk ke dalam kamar.


Devano mondar mandir di depan pintu dengan tangan yang di taruh di belakang, seakan-akan dia tengah menggendong sesuatu di sana.


(Lok kata orang kampung mah gendong tuyul, hehehehe, peace ✌✌)


Beberapa saat Devano melihat sang Mama yang berjalan ke arah nya dengan wajah yang sudah habis tidur, ''Kenapa kamu belum masuk kamar Van, apa ada sesuatu sehingga kamu tidak masuk ke dalam kamar kamu sekarang,'' Mama Clara dengan penuh nada menyelidik.


''Devano nggak apa apa kok Ma, hanya saja tadi saat Devano mau masuk ke dalam ponsel Devano bergetar, tak ingin mengganggu tidur Mahalini, jadi Devano angkat telfon di luar kamar githu ceritanya,'' Devano sedikit berbohong dengan sang Mama yang sudah menyerang nya tiba tiba.


''Sudah ach, Devano masuk dulu? dah ngantuk juga nich,'' putus nya membuat sang Mama tersenyum jahat melihat putera nya.


Devano masuk ke dalam kamar dengan ragu ragu, sedangkan sang Mama masih terus saja mengintili dari luar kamar nya. ''Aku tidak akan biarkan kamu tidur di kamar lain nya Devan, Mama juga sudah kepengen cucu dari kamu, sedangkan kakak kamu juga belum mau menikah? entah kenapa dia menjadi seorang yang oenggila kerja sehingga mengabaikan pernikahan begitu saja,'' gumam nya dengan pelan setelah melihat Devano masuk ke dalam kamar nya.


Mama Clara memastikan kalau putera nya tidak keluar lagi dari dalam kamar nya, setelah itu dia kembali ke kamar nya karena rasa kantuk yang semakin menyerang nya.


Di dalam kamar Devano masih berdiri menatap wajah Mahalini yang menurut dia semakin cantik, padahal Mahalini tidak memakai apapun malam ini, namun wajah nya seakan-akan bersinar di dalam kamar yang hanya menggunakan lampu kamar yang sedikit redup, karena lampu utama sudah di matikan oleh sang empu.


Devano naik ke tempat tidur nya dengan sangat perlahan agar sang istri tidak merasa terganggu dengan kehadiran nya di tempat tidur nya. Bau wangi datin tubuh Mahalini menyeruak di hidung Devano ketika sudah mulai mendekati tubuh sang istri, padahal sabun yang Kini pakai sama dengan yang di pakai Devano tadi sore, tapi rasa wangi membuat candu sendiri bagi Devano.


Dengan sedikit hati hati tangan Devano mulai terulur ke perut rampung sangat istri yang sudah terlelap dalam tidur nya, sebenarnya Mahalini merasakan tangan kekar yang melingkat di perutnya, tapi Lini hanya bisa pasrah dengan sikap Devano malam ini.


''Apa yang harus aku lakukan, ketika mas Devan minta hak nya nanti,'' gumam nya di dalam hati. Devano kini masih belum memejamkan matanya, karena masih mencari tempat yang ternyaman di curuk leher sang istri.

__ADS_1


Mahalini masih ingat dengan obrolan teman teman nya yang mengatakan kalau sudah menjadi suami istri, harus melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang istri yang baik bagi suaminya, meskipun suaminya adalah seorang pengusaha, buruh, karyawan dan juga bajingan sekali pun, sebagai seorang istri harus selalu bersikap baik kepada suaminya, karena surga kita setelah menikah ada di suami, perlakukan suami kalian dengan itu, mencari pahala semakin mudah ketika kita membuat pasangan kita nanti bahagia. Ucapan ucapan teman nya membuat Mahalini hanya pasrah dengan Devano saat ini, karena Mahalini juga manusia biasa dan juga menginginkan Surga Allah SWT yang tak indah dari keindahan dunia yang hanya sementara itu.


Meyakinkan hatinya yang masih terasa berat, mahai masih terus berfikir dengan otaknya yang terus mengingat surat kontrak yang sudah ia tanda tangani satu bulan yang lalu.


Menarik nafas dan menghembuskan dengan perlahan lewat bibir nya membuat dirinya sedikit lega, saat ini Mahalini masih kebingungan dengan Devano yang masih memeluk nya dari belakang.


''Tuan, Tuan,'' ucap Mahalini dengan sangat pelan, agar Devano menyingkirkan tangan kekar nya dari perut nya.


''Tuan, Lini mau ke kamar mandi sebentar,'' Ucap Mahalini lagi dengan sedikit menggoyang kan tubuh Devano.


''Lini, bisa diam tidak, aku masih sangat ngantuk,'' jawab Devano yang sudah merasa terganggu dengan suara berisik Mahalini.


''Tuan bisa pindahin dulu tangan nya, Lini mau ke kamar mandi sebentar,'' gumam nya dengan mencoba melepas tangan Devano yang ada di atas perut nya. ''Tuan, Lini sudah tidak tahan mau ke kamar mandi,'' tambah Mahalini membuat Devano mau tak mau melepaskan tangan nya dari perut Mahalini.


''Ternyata sudah jam tiga pagi saja,'' desah nya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi, Mahalini selalu terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi, karena mungkin sudah terbiasa juga, makanya setiap jam tiga pagi merasakan perut nya yang sakit akibat menahan air seninya.


Mahalini membersihkan tubuh nya dengan air hangat, dan dengan segera dia menyambar sarung yang biasa dia pakek untuk sholat dan juga mukenah yang selalu ia bawa kemana-mana, Mahalini selalu membawa tiga benda itu agar dirinya tidak merasa kebingungan seperti kemarin, waktu masih berada di rumah kakek Devano.


Mahalini melakukan sholat sepertiga malam nya tepat di jam tiga lebih beberapa menit saja, Mahalini melaksanakan sholat tahajjud sebanyak 8 raka'at dengan 4 salam, selanjutnya Mahalini melanjutkan membaca Al-Qur'an, juga dengan di niatkan untuk kedua orang tuanya? yang entah ada di mana sekarang.


Apa dia sudah meninggal, atau dia masih hidup Lini masih belum mengetahui keberada'an sang orang tua. Dengan suara yang tercekat Mahalini mulai membaca Al-Qur'an yang sudah ia pegang saat ini.


Mahalini sengaja mengecilkan suaranya agar sang suami tidak merasa terganggu dengan suara ngaji nya.


Surat Yasin dan juga surat Al-waqiah menjadi surat andalan nya selama ini, karena dengan dua surat keduanya, niat dan juga permohonan nya akan segera di ijabah oleh Allah SWT sang Pencipta. Lagi pula surat Al-waqiah juga bisa memperlancar rezeki, dengan di imbangi bekerja yang sungguh sungguh.

__ADS_1


Misalkan cuma baca surat al-waqiah dan orang itu tidak bekerja, apakah rezeki nya akan terus mengalir seperti yang Kyai bilang?.


Bukan seperti itu ya kak, usaha dan do'a menjadi kesatuan yang wajib kita kerjakan setiap harinya, meski kita berdo'a tanpa henti, kalau tidak di imbangi dengan usaha, rezeki mana yang akan kita petik, sedangkan kita menganggur.


Devano mengerjapkan matanya mendengar suara merdu Mahalini yang tengah membaca Al-Qur'an tersebut, dengan masih keadaan mengantuk Devano terbangun dan memilih duduk dan menyandarkan tubuh nya di kepala tempat tidur, seraya terus memperhatikan gerak gerik Mahalini.


Senyuman menghiasi bibir Devano yang masih terus menerus menatap ke arah Mahalini yang masih mengaji di lantai, tepat nya di samping tempat tidur nya.


Devano menatap jam dinding di atas pintu kamar nya, menunjukkan pukul 4 pagi, berarti Mahalini sudah satu jam duduk di lantai dengan menggunakan mukenah dan juga sajadah nya.


Mahalini yang merasa di tatap, sejenak menghentikan ngajinya dan mencoba melihat ke arah ranjang, dan benar saja di atas ranjang Devano tengah memperhatikan nya sejak tadi, Mahalini bertanya tanpa bangun dari duduk nya.


.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕

__ADS_1


__ADS_2