
Almira menunggu Mahalini di depan pintu, Almira akan mengajak Mahalini untuk menjenguk Papa nyanyang sudah sangat lama tidak pernah pulang ke rumah nya, apalagi untuk menghubungi saja mereka berdua sangat susah sekali.
''Dek??'' panggil Almira dengan melambaikan tangan nya.
''Ech kak Mira, Mas? aku mau nyamperin kak Mira dulu ya,'' ijin nya dengan menatap wajah Devano.
''Baiklah, jangan lama lama ya, aku tunggu di parkiran,'' kata Devano dengan menunjuk ke arah parkiran.
''Oke dech, terima kasih sayang?'' ucap nya dengan girang, kebahagia'an Mahalini tidak membutuhkan uang yang banyak, cukup di beri smua perhatian saja, dia sudah sangat bahagia sekali.
''Itukah istri seorang pengusaha,'' gumam Devano ketika Mahalini sudsh pergi dari sisi nya, Mahalini berjalan menuju Almira yang berdiri di sisi jalan.
''Kok tadi Lini tidak bertemu dengan kakak sich,'' ucap Mahalini dengan cemberut.
''Kamu saja yang nggak dengar, kamu sibuk dengan makanan nya, makanay sekarang kamu semakin gemoy saja,'' sahut nya dengan menoel pipi kanan Mahalini, yang semakin mirip dengan bakpao.
''Nggak apa apa gemoy, yang penting sehat, iya kan dek,'' jawab nya dengan tegas seraya mengelus perut nya yang buncit, seraya meminta persetujuan dari sang baby.
''Iya juga sich, yang penting ponakan uti sehat ya sayang?'' Almira juga memegang perut buncit sang adek.
''Oiya dek, minggu besok aku mau nyamperin Papa, apa kamu mau ikut? jadi sekalian saja berangkat nya kalau mau ikut, bagaimana?'' ucap nya yang mulai serius dengan obrolan nya.
''Tapi aku harus minta ijin sama suamiku dulu kak, nanti kalau dapat ijin, aku hubungi kakak ya,'' jawab nya dengan sumringah.
''Baiklah, tapi- kalau bisa Farel juga di ajak saja, bagaimana?'' pintanya kepada Mahalini. Almira sendiri mau mengajak nya secara langsung, tapi dia takut di tolak lagi oleh sang adek, yang juga egois sama seperti nya, tapi dalam masalah sayang ke Mahalini, Farel lah yang lebih sayang sama dia selama ini.
''Nanti aku hubungi Farel ya kak, soalnya aku juga sudah sangat lama tidak pernah bertemu dengan si petakilan itu,'' balas Mahalini dengan menyebut sang adek dengan petakilan, padahal dirinya lah yang petakilan.
''Kalau gitu Lini pamit ya kak, soal nya masih mau ke rumah catering juga, kakak mau ikut nggak,'' tawar Mahalini dengan sedikit memohon.
__ADS_1
''Tidak usah dek, Kak Hanafi, Bunda dan Ayah sudsh menunggu kakak di parkiran, dan suami kamu pasti sudah menunggu juga kan?'' tolak nya dengan halus.
''Tunggu tunggu, Bunda dan Ayah? siaa mereka kak?'' tanya Mahalini yang mulai penasaran dengan sebutan Bunda dan juga Ayah, yang di katakan oleh sang kakak.
''Itu Bunda kak Hanafi dek,'' jawab nya singkat, ''Jangan mikir yang aneh aneh dech dek, beliau menyuruh kakak untuk memanggil seperti itu, jadi kakak tidak bisa menolak, beliau berdua sudah sangat baik kepada Kakak, yang selama beberapa bulan ini hidup sendirian di kontrakan,'' jelas nya dengan menggenggam tangan Mahalini.
''Kayak nya sudah dapat restu nich, tinggal gasken sajalah kak, biar cepat nyusul Lini, dan nanti anak anak kita akan bermain bersama, iya kan,'' kata Mahalini dengan sangat semangat.
''Do'akan saja yang terbaik untuk kakak ya,'' pintar nya dengan senyuman yang selalu menghiasi bibir nya.
Almira merasa sangat bahagia sekali saat ini, meskipun diasudah tidak memiliki banyak uang, tapi kehidupan nya cukup baik, ketika mengenal Hanafi dan kedua orang tuanya yang begitu menyayangi dirinya.
''Pasti kak, Mahalini selalu do'akan kakak untuk mendapatkan yang terbaik, agar kakak bisa bahagia di masa depan, oiya kak, jangan sia siakan orang baik seperti kak Hanafi, mencari seseorang yang seperti kak Hanafi sangat sulit, banyak laki-laki tampan dan juga kaya di luaran sana, tapi mereka belum tentu bisa menyayangi kita dengan tulus,'' pesan Mahalini kepada sang kakak.
Almira mengangguk mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh adek nya, ''Akan kakak ingat selalu pesan kamu dek, Btw terima kasih ya dek,'' Seru Almira yang sudah melangkah pergienjauh, menuju mobil Hanafi.
''Dasar tidak sopan?'' jawab Mahalini yang masih berdiam diri di samping mobil, Mahalini masih tidak sadar, kalau dirinya sudah berdiri di samping mobil suaminya.
Mahalini tampak terkejut dengan suara suaminya, ''Lho, Mas kenapa mobil nya di bawa kesini?'' tanya nya dengan mengerutkan kening nya.
''Lha kan kamu sendiri yang datang ke sini, bukan Mas yang bawa mobil ke sana,'' jawab Devano bingung dengan perkata'an istri nya.
''Masak sich aku yang datang ke sini,'' ucap nya lagi, lalu melihat sekeliling.
'Benar saja, sejak tadi aku berjalan ke arah mobil Mas Devano, tapi kenapa tidak terasa ya, apa jangan jangan karena obrolan kita berdua jadi tidak sadar kalau aku menghampiri mobil Mas Vano,' gumam nya di dalam hati. ''Pantas saja kak Mira tadi langsung ngabur gitu, karena sudah sampek di mobil Mas Vano toh?'' gumam nya pelan.
''Apa kamu mengatakan sesuatu,'' tanya Devano yang sempat mendengar gumaman Mahalini.
''Tidak kok Mas, kita ke rumah catering sebentar ya, aku mau minta rujak buah sama Pak Djarot,''
__ADS_1
''Lagi?'' tanya Devano singkat.
''Apanya yang lagi, kapan aku makan rujak buah, tadi cuma makan nasi dan beberapa kue saja kok,'' elak nya dengan mengambil handphone di dalam tas nya.
''Iya, tapi kamu masih belum kenyang dengan itu semuanya,'' tukas nya sambil melakukan mobil nya, menuju rumah catering milik sang istri.
''Biarin sajalah Mas, lawong aku mau minta sama Pak Djarot kok, bukan sama Mas Vano,'' jawab nya dengan nada yang sudah mulai kesal.
''Iya iya, gitu saja marah sich,'' bujuk Devano dengan mengelus pipi gembul Mahalini.
''Lagian Mas Vano ngomong bae, kalau istri bilang sesuatu mbok ya di dengar dulu, tidak usah membantah kan enak, akun juga tidak akan kesal seperti ini kan?'' omel nya dengan suara sedikit tinggi dari biasa nya.
''Iya iya, Mas minta maaf ya, lain kali Mas tidak akan seperti itu lagi, janji,'' Devano menautkan kelingking nya pada kelingking Mahalini.
''Janji ya, kalau Mas Vano melanggar, Lini tarik kuping nya? biar seperti gajah yang memiliki kuping lebar,'' balas nya dengan mengibaskan tangan nya.
''Memang nya kamu senang dengan suami yang memiliki kuping gajah, kan itu jelek banget sayang??'' Devano tak Terima dengan ucapan sang istri, dia merengek minta di ganti dengan kuping lain nya.
''Sudah ach, aku capek mau tidur sebentar,'' balas Mahalini dwngan memejamkan matanya, dengan menutup pakek ujung hijab nya juga, agar tidak terlalu terang, pikir Mahalini.
Akan kan Hanafi akan bahagia bersama dengan Almira, yang notabene nya gadis keras kepala dan juga egoisπ€π€.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih ππππππππ.