
Mami Amora menghubungi yayasan kasih Bunda, untuk meminta sambungan do'a untuk putri dan kedua cucu nya.
Ponsel Bunda Kinan bergetar ketika selesai sholat isya'.
''Bunda, ada telfon dari Mami Amora,'' kata sang anak asuh nya.
Bunda Kinan segera meraih ponsel nya dan langsung menggeser layar hijau nya.
-'' Hallo, assalamu'alaikum,'' ucap Bunda Kinanti.
-'' Waalaikum salam Bunda,'' jawab Mami Amora dari seberang dengan suara sedih nya.
Perasa'an Bunda Kinanti sudah tidak enak, ketika mendengar suara Mami Amora yang sedikit bergetar.
-'' Ada apa nyonya, apa sudah terjadi sesuatu kepada Mahalini,'' tebak sang Bunda Kinanti.
-'' I-iya Bunda, Mahalini saat ini sedang ada di ruangan operasi, dia tiba tiba kontraksi setelah menerima panggilan telfon dari seseorang yang tidak di kenal nya,'' jawab Mami Amora yang kini sudah menangis tersedu sedu.
-'' Saya cuma meminta bantuan Bunda Kinanti untuk menyambungkan do'a untuk kesembuhan Mahalini,'' kata Mami Amora.
-'' Tidak di minta pun kami di sini akan mendo'akan putri kami nyonya, baiklah saya akan mengumpulkan anak anak untuk ikut mendo'akan Mahalini, nyonya yang sabar ya, semoga semua keluarga di sana ikhlas dan sabar dalam menghadapi semua ujian yang Allah SWT berikan kepada anda nyonya,''
-''Terima kasih Bunda, kalau begitu saya matikan dulu sambungan telfon nya, assalamu'alaikum,'' Mami Amora pamitan dan langsung menutup ponsel nya.
''Bagaimana?'' tanya Mama Clara yang juga ikutan menangis, Mama Clara mengingat dengan betul apa yang terjadi dengan menantunya tadi di rumah nya, dia sangat syok dengan panggilan tersebut dan sekarang orang yang menelfon nya menyebabkan sang menantu mengalami kontraksi dini, dan di haruskan segera operasi juga.
Mengingat kejadian itu semua membuat Mama Clara dengan sang pelaku yang suduah menyebabkan menantunya seperti sekarang ini.
''Pa, bisa kita bicara sebentar,'' bisik Mama Clara kepada suaminya.
''Ayo,'' ajak nya seraya memegang bahu istrinya yang masih bergetar, karena masih terus sedih dan sesekali meneteskan air matanya.
''Ada apa Ma,'' tanya ayah Devano setelah sampai di tempat sepi.
''Mama curiga dengan seseorang yang sengaja membuat menantu kita seperti sekarang ini Pa,'' ucap Mama Clara.
''Apa maksud Mama, dengan mengatakan ada seseorang yang mau mencelakai menantu kita,'' tanya nya lagi, ayah Devano masih tidak mengerti dengan apa yang di katakan istrinya yang mengatakan seperti hal demikian.
Flashback on.
Ya, tadi sebelum Devano dan juga sang ayah pulang ke rumah nya, ada yang menghubungi Mahalini, awalnya Mama Clara bersikap biasa saja, tapi setelah Mahalini mengerang kesakitan, barulah Mama Clara melihat menantunya yang sudah meremas perut bagian bawah nya.
__ADS_1
''Ada apa sayang? Kamu kenapa seperti ini,'' tanya nya dengan terus menyeka keringat yang mulai bercucuran di kening nya.
''Sakit Ma,'' ucap nya dengan suara tercekat, karena menahan rasa sakit yang kini sudah menyerang perut nya.
''Ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang sayang, Mama takut terjadi sesuatu sama kamu dan juga kndungan mu itu,'' ajk Mama Clara dengan sedikit memaksa, tapi Mahalini kekeh hanya ingin di antar ke kamar nya saja, sampai akhirnya ayah dan juga Devano pulang dari kantor dan melihat wajah Mahalini yang sudah pucat pasi.
''Kamu kenapa sayang? Apa yang sakit katakan sama Mas sekarang juga,'' paksa Devano, tapi Mahalini masih terus menggeleng.
Dan ketika Devano melihat ke bawah, dia melihat darah yang mengalir dari ************ istrinya. Dan itu sontak membuat Devano menjerit memanggil sang Mama yyang baru saja keluar dari kamar nya.
''Mama!!''
Mama Clara yang mendengar jeritan putra nya segera kembali ke dalam kamar dan melihat secara langsung, dan betapa terkejutnya Mama Clara melihat sang menantu yang sudah sangat lemas.
Akhirnya Devano dan Mama Clara membawa Mahalini ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Flashback off.
Ayaha Devano menndengarkan cerita dari istrinya, tapi ayah Vano pun tidak ingihanya menebak nebak sebelum ada buktinya.
''Mama jangan ceritakan semua ini kepada semuaorang dulu, kita fokus kepada Mahalini dan juga cucu cucu kita dulu, setelah itu baru kita akan mencari tau siapa dalag yang sudah membuat menantu kita seperti ini sekarang,'' pesan nya dengan mengelus punggung sang istri.
Satu jam menunggu di depan ruangan operasi, dan akhirnya Dokter Laila yang menangani Mahalini keluar dengan senyuman yang menghiasi di bibir nya.
''Bagaimana putri saya Dokter,'' tanya Mami Amora yang kini sudah menghambur ke depan sang Dokter
''Alhamdulillah, semua nya baik baik saja, kedua cucu anda juga sehat dan lengkap, mungkin sebentar lagi akan di pindahkan ke tempat ruangan ICU, sambil menunggu Nona Lini sadar, dia harus di rawat di sana terlebih dahulu,'' jawab nya panjang lebar.
''Alhamdulillah? Baiklah dokter, dan terima kasih,'' jawab Mami Amora dengan mengucapkan syukur alhamdulillah.
Sedangkan Devano masih berada di dalam untuk mengadzani kedua buah hatinya.
Tak lma kemudian Devano pun keluar dengan perasa'an yang sulit di artikan, mengingat dia kini sudah menjadi seorang ayah, tapi di sisi lain dia sangat sedih, ketika melihat kondisi sang istri yang masih belum juga sadar, akibat obat bius nya masih ada.
''Bagaimana keada'an istri kamu sekarang Nak,'' tanya Tuan Sagara selaku sang Ayah Mahalini.
''Alhamdulillah dia sudah membaik Pi, tapi dia masih belum sadar, efek dari bius nya belum hilang,'' sahut nya dengan mengulas senyum.
''Alhamdulillah kalau gitu, Mama mau menjenguk cucu kita di ruangan bayi, apa sudah di bolehkan belum ya,'' tanya nya dengan menatap Devano lalu kepada besan nya, yang juga sudah tidak sabar untuk melihat kedua cucu nya.
''Coba saja tanya ke perawat nya Ma, nanti Vano juga akan ke sana, setelah menemui dokter Laila di ruangan nya,'' jawab nya dan melangkah pergi menuju ke ruangan sang dokter.
__ADS_1
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk dari luar, dokter Laila pun langsung mempersilahkan Devano masuk ke dalam ruangan nya.
''Silahkan duduk Tuan,'' suruh nya dengan mempersilahkan tamunya.
''Ada apa dokter menyuruh saya menghadap,'' tanya Devano datar.
''Saya hanya akan mengatakan bahwa nona Mahalini terkejut dan mengakibatkan kram perut dan berakhir dengan kontraksi, oleh sebab itu untuk saat ini nona Mahalini tidak boleh sampai terkejut apalagi sampai mendapatkan tekanan ari orang orang yang ingin berbuat jaha kepada nya, hanya itu yang saya ingin sampaikan kepada anda,'' ucap nya dengan panjang lebar, membuat Devano mengepal erat kedua tangan nya, sampai kuku kuku jarinya memutih.
''Terima kasih dokter, kalau begitu saya permisi dulu, ada yang harus saya urus lebih dulu di luar,'' pamit nya dan melenggang pergi begitu saja.
Dokter Laila hanya menggelng pelan seraya bergumm kecil, ''Seperti itlah kehidupan orang elit, di mana mana ada orang yang akan memusuhi nya, padahal nona Mahalini sangat lah baik, tapi masih ada orang orang jahat yang mengincarnya, kasian sekali dia,''
Dokter Laila menghela nafas panjang setelah mengatakan semua nya kepada suami pasien nya, karena Mahalini sangat tertekan sekali ketika sampai di rumah sakit.
Devano yang sudah ada di depan Mama nya pun langsung bertanya.
''Sebenarnya apa yang terjadi dengan istri Vano Ma, Dokter Laila mengatakan kalau Mahalini tertekan dan mengakibatkan dia seperti tadi,'' tanya Devano dengan dingin.
Awalnya Mama Clara tidak ma menceritakkan apa yang terjadi kepada putranya, Mama Clara menatap suami nyadan langsung di angguki oleh sang suami.
''Tadinya Mahalini hanya menerima telfon, lantas dia beranjak dan menjauh dari Mama yang sedang duduk santai di ruang keluarga, tapi tak lama kemudian Mahalini meringis kesakitan dan dia meremas perut bagian bawah nya. Mama juga kaget dan akan membawa ke rumah sakit, tapi Mahalini bilang dia tidak apa apa, dan hanya minta di antarkan ke kamar nya saja, setelah itu kamu datang dari kantor,'' cerita Mama Clara panjang lebar, Tuan Sagara juga terlihat menggeram mendengar apa yang terjadi dengan putrinya sebelum nya.
''Maafkan Mama karena sudah menuruti Mahalini sebelum nya, Mama juga khawatir dan tidak bisa berpikir jernih dan hanya mengikuti apa yang di katakan Mahalini saja,'' tambah nya dengan menundukkan kepala nya, dia merasa angat bersalah kepada menantu nya dan juga keluarga nya.
''Ini semua bukan salah kamu jeng, kamu jangan merasa bersalah seperti itu pada diri sendiri, saya akan berbuat hal sedemikian kalau sedang bingung, jangan terlalu di pikirkan lagi? Yang penting searang adalah kesehatan putri kita dan juga cucu cucu kita,'' sambung Mami Amora dengan mengusap punggung sang besan.
''Terima kasih jeng,'' balas nya dengan mengulas senyuman di bibir nya.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.
__ADS_1