Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 150.


__ADS_3

Papa Setiawan sudah mantap untuk menceraikan Mama Agnes, Papa Setiawan juga sudah memiliki bukti yang akan membuat Mama Agnes semakin terpojok dengan video yang ia dapatkan dari putra nya.


''Papa sabar ya, Mira akan terus bersama Papa, biarlah Mama melakukan apa yang dia mau, Mira juga sudah tidak peduli dengan sifat Mama Pa,'' tukas nya dengan menepuk punggung tangan Papa Setiawan.


''Terimakasih sayang, Papa juga tidak ingin menceraikan Mama kamu, tap Papa sudah tidak bisa mempertahan kan Mama kamu, yang semakin hari semakin melewati batas, biarlah kita menjadi saudara saja setelah palu di ketuk oleh hakim,'' jelas nya dengan menatap putrinya yang sebentar lagi akan menjalani rumah tangga bersama dengan Hanafi, laki laki yang sudah merubah sifat nya menjadi lebih baik dari sebelum nya.


''Papa jangan terlalu sedih ya, kami berdua akan selalu menjaga Papa kok, jadi tidak usah terlalu di pikirkan lagi, dengan ancaman Mama,'' kata Farel.


''Iya, Papa tau itu dan Papa sangat yakin kalau putra Papa bisa menjaga dan mengurus Papa kan?'' tanya nya dengan mengulas senyum yang di paksakan di bibir tua nya.


''Papa harus yakin kepada kita berdua, kita bisa menjaga Papa di sini,'' sahutnya dengan penuh keyakinan.


''Kalian tidak boleh mengatakan ini kepada kakak kamu, takutnya malah terjadi sesuatu dengan kehamilan nya. Papa hanya ingin melihat Mahalini selalu bahagia, karena dulu dia sudah sangat menderita,'' pesan Papa Setiawan yang langsung di angguki oleh Farel dan Almira.


Lama mereka mengobrol dengan anak anak nya dan di sore harinya Amira pamit pulang ke rumah kontrakan nya, karena Hanafi sudah datang untuk menjemputnya.


''Almira pamit duu ya Pa, tolong jagain Papa dek, mungkin besok aku akan datag lagi,''


Farel mengangguk dan mengacungkan kedua jempol nya, ''Oke siap,'' jawab nya singkst dan menaap ke arah Hanafi yang tengah berdiri di samping Almira.


''Kak Hanafi, titp kakak ku ya, dan terima kasih karena selama ini kakak sudah mau menjaga kakakku yang cerewet ini,'' seru Farel dengan tersenyum jahat.


''Perintah akan di laksakan,'' jawab Hanafi dengan kekehan kecil dan membalas senyuman jahat dari sang calon adek ipar.


Setelah berpamitan Hanafi mengantarkan Almira ke rumah kontrakan nya tanpa kurang satu apapun.


''Terima kasih kak, dan maaf atas perkata'an adekku yang tadi itu ya,'' gumam Almira menundukkan kepala nya.


''Tidak usah berterima kasih, aku juga senang dengan canda'an adek kamu, dan sebentar lagi dia juga bakalan menjadi adekku juga;'' sahut nya dengan mengelus puncak kepala Amira yang di tutupi dengan hijab yang berwarna navy.

__ADS_1


Almira tersenyum dengan tingkah pasangan nya, sekarang dia belum menjadi wanita halal nya, tapi sebentar lagi Almira akan menyandang status nyonya Alfarisy.


Mas pulang dulu, takutnya ada fitnah dan mengharuskan kita secepat nya menikah lagi, sedangkan kamu nya belum siap untuk membina keluarga, karena surat surat yang di mnta juga belum keluar kan?'' Hanafi meledek sang wanita, mengingat sang wanita yang mengurus surat surat penting untuk pernikahan nyadengan Hanafi malah di persulit oleh sang Mama.


Ya, Mama Agnes tidak merestui Almira yang notabene nya adalah anak gadis nya, Mama Agnes lebih suka dengan Almira dengan laki laki anak sahabat nya, tapi Almira sendiri langsung menolak perminta'an sang Mama, biarlah dia hidup sederhana? Asalkan dia bahagia untuk selama nya,


...****************...


3 bulan berlalu.


Kini Mahalini sudah mulai merasakan kontraksi yang hebat, perutnya terasa di sayat sayat oleh sang jabang bayi yang sudah mendesak mau keluar untuk segera melihat dunia fana dan penuh tipu daya manusia yang mau seenak nya.


''Lebih baik kita bawa Mahalini ke rumah sakit sekarang saja,'' ujar Mama Clara yang sudah khawatir dengan keada'an menantunya.


''Sebentar Ma, Lini kan merasakan sakit nya cuma sesekali saja,'' tolak nya yang terus menguatkan dirinya, agar dirinya bisa melahirkan normal, seperti para ibu ibu lain nya di luaran sana.


''Nggak, pokoknya harus ke rumah sakit sekarang, Mama tidak akan memaafkan Mama kalau sapai terjadi sesuatu sama kamu sayang,'' bujuk Mama Clara dengan penuh kepada sang menantu nya.


''Tidak ada tapi tapia lagi, Vano kita secepatnya bawa istri kamu ke rumah sakit,'' titah nya.


Devano mengangguk dan langsung menggendong sang istri untuk segera di bawa ke rumah sakit.


''Mas, aku tidak mau di operasi cesar, aku maunya lahiran normal,'' gumam Mahalini di sela sela dirinya tengah menahan rasa sakit nya.


''Sayang kamu tidak boleh memikirkan hal lain nya,''


''Sudah jangan terlalu memikirkan yang lain nya dulu sayang, yang penting kamu dan juga kedua bayi kamu selamat, Mami dan Papi kamu sudah menuju ke rumah sakit,'' ucap Mama Clara yang terus menguatkan sang menantu, mengingat Mahalini lahiran untuk yang pertama kalinya.


Sesampainya di rumah sakit, para sang dokter sudah stanby di sana,dokter kandungan yang selalu memriksa Mahalini juga sudah ada di sana, sedangkan Mahalini sudah kehilangan kesadaran nya ketika mobil sudah sampai di halaman rumah sakit.

__ADS_1


''Dokter tolong istriku, lakukan yang terbaik untuk istriku dokter,'' pinta Devano dengan air mata yang sudah berlinang di pelupuk matanya.


''Baiklah Tuan, silahkan tunggu di luar, kami akan melakukan yang terbaik untuk nona Mahalini,'' jawab sang dokter ramah.


Papi Sagara dan yang lain nya, menghampiri Devano, ''Kamu yang sabar ya, istri dan anak anak kamu akn baik bik saja, kita do'akan saja untuk keselamatan istri dan juga kedua anak kamu,'' ujar Papi Sagara.


''Iya Pi, harusnya aku segera bawa dia ke rumah sakit secepat nya, tapi Mahalini tidak mau? Dia selalu bilang jangan dulu jangan dulu Pi,'' aku Devano yang menyesali kebodohan nya karena tidak segera membawa istrinya ke rumah sakit.


''Sudah yang penting sekarang istri kamu sudah di tangani oleh dokter,'' sambung sang ayah dengan mengelus punggung nya.


''Maaf Tuan, Nona Mahalini tidak sadarkan diri, demi keselamatan Nona Mahalini dan kedua bayinya. Kami akan melakukan operasi, kalau anda semua setuju bisa tanda tangani berkas berkas ini secepa nya, agar ketiga nya bisa tertolong dengan cepat.


''Lakukan yang terbaik untuk putriku Dokter, berapapun biaya nya akan saya bayar,'' jawab Papi Sagara denga mengambil alih berkas berkas yang di berikan oleh sang perawat.


Devano hanya diam saja, tapi tak lama kemudian Devano berkata, ''Dokter, aku mau mendampingin istri ku selama operasi berlangsung.'' pintanya yang tsk bisa di tolak oleh sang dokter, akhirnyasang dokter hanya bisa pasrah dan mengangguk.


''Baiklah Tuan, mari ikut kami,'' ajak Dokter Laila yang berjalan lebih dulu.


Sedangkan Mama Clara dan Mami Amora menghubungi para keluarga nya, mereka minta do'a yang terbaik agar menantu dan juga kedua cucunya baik baik saja.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.


__ADS_2