
Devano yang sedang berada di parkiran kantor nya sedang memikirkan perkata'an dari Papa nya, yang mengatakan kalau Mahalini tak punya keluarga.
''Nggak mungkin dia tidak memiliki keluarga, tapi dia masuk ke kampus bukan lewat jalur beasiswa,'' Gumam Devano menggenggam erat setir mobilnya.
''Aku akan menyelidiki Mahalini hari ini, yang pasti aku harus tau dia tinggal di mana dan dengan siapa,'' lagi lagi Devano hanya bisa bergumam, namun kali ini dia mulai menyalakan mesin mobil nya untuk menuju kampus nya.
Devano hanyalah sekedar main di kampus tersebut, karena dia sendiri sudah lulus di Universitas luar negeri, namun Devano hanya senang mencari teman yang ada di kampus nya terdahulu sebelum dia memutuskan pindah kuliah ke luar negeri, hanya untuk mengabulkan perminta'an kakek dan juga Papa nya yang meminta untuk segera mengurus perusaha'an besar nya.
Tak butuh waktu lama Devano sekarang sudah sampai di kampus Mahalini.
''Kenapa aku malah ke sini sich!'' Devano menggerutu nggak jelas ketika mobil mewah nya memasuki area parkir di kampus nya. ''Apa sich yang membuat aku datang ke sini, sedangkan aku sangat lelah dan butuh waktu istirahat juga,'' Gumam Devano dengan menjambak rambut nya dengan kasar. Namun setelah mengatakan tersebut, Devano melihat Mahalini berjalan menuju arah parkir, dan dia mengambil motor matic nya yang terparkir di sana.
Mahalini memakai helm yang selalu menemani nya selama dua minggu ini, sesekali dia mengembangkan senyum manis nya, ketika mengingat kehidupan nya lebih baik di banding kemarin.
''Alhamdulillah ya Allah, akhirnya tugasku sudah selesai, dan tinggal mengerjakan yang belum selesai saja,'' ucapnya dengan masih terus tersenyum, ''Kok ngomong nya muter muter yak,'' kekeh nya mengingat ucapan nya barusan.
''Dasar wanita sinting, tertawa sendirian,'' Gumam Devano yang masih setia di dalam mobilnya.
Mahalini melajukan motor nya menuju rumahnya, sedangkan Devano sudah mengikuti Mahalini dari belakang nya.
Mahalini berhenti di toko kue dan membeli beberapa kue di sana.
''Aku akan memberikan beberapa kue kepada orang di sana,'' Gumam nya dan masuk ke dalam toko tanpa membuka helmnya terlebih dahulu.
''Mau beli apa kak?'' tanya seorang pelayan yang menjaga toko kue tersebut.
''Aku mau beli kue ini 4 ya kak, plastik nya sendiri sendiri saja kak, biar gampang bawa nya,'' jawab Mahalini dengan rasa malu, karena dia meminta kantongin sendiri sendiri.
''Jadi berapa kak?'' tanya nya ketika melihat kue kue yang ia beli sudah terbungkus rapi di depan nya.
''Semuanya jadi 150 ribu kak,'' sahut sang penjaga toko.
__ADS_1
''Sama kantong nya juga kak,'' ucap Mahalini.
''Kantong nya gratis kok kak,''
''Tapi aku minta kantong lebih,'' sahut Mahalini tak enak hati kepada wanita di depan nya.
''Nggak apa apa kok kak,'' sambung nya dengan ramah.
''Terima kasih ya kak?'' kata Mahalini setengah membungkukkan badan nya.
Penjaga tersebut hanya membalas senyuman dan celengan kepala pelan melihat kelakuan pembeli nya barusan.
''Wanita itu sungguh sopan sekali, masak iya kantong kresek saja mau di bayar juga,'' adu penjaga toko kepada teman nya yang baru datang dari belakang.
''Jarang banget lho kita nemuin orang seperti itu saat ini,'' jawab nya seraya menaruh kue kue yang sudah di hias di dalam etalase kue.
Penjaga tersebut mengangguk pelan, membenarkan semua jawaban dari teman nya.
Mereka ber 4 langsung berlari menghampiri Mahalini, ''Kakak punya kue, kalian mau nggak?'' tanya nya ketika sudah berkumpul di sana.
''Mau kak, mau kak,'' jawab mereka hampir bersama'an.
Devano mengangkat satu alisnya ke atas melihat kue kue yang ia beli tadi sudah berpindah tangan kepada adek adek pengamwn di depan nya, ''Aku semakin penasaran dengan kamu Mahalini,'' Gumam nya dengan senyum smirk nya.
''Kakak pulang dulu ya, dada??'' pamit nya dan segera melajukan motor nya kembali setelah lampu berganti hijau.
...****************...
Devano membaringkan tubuh nya setelah dia selesai membersihkan tubuh dan memakai pakaian rumah nya, dia tidak menyangka kalau Mahalini tinggal di rumah yang sederhana, dan hanya dengan seorang wanita paruh baya yang ia kenal.
''Bi Ijah? kenapa dia ada di rumah Mahalini?'' Gumam nya pelan.
__ADS_1
Devano mengikuti Mahalini sampai rumah nya dan dia juga tak sengaja melihat wanita paruh baya keluar dari rumah tersebut, sedang menunggu kedatangan Mahalini.
Bi ijah sendiri adalah pelayan yang pernah bekerja di rumah besar kakek nya, dia pamit untuk pulang ke kampungnya karena suaminya sedang sakit parah, tapi setelah sekian tahun Bi Ijah malah bekerja di rumah Mahalini.
Dreeetttt
Ponsel Devano bergetar di atas nakas.
-''Kenapa,'' tanya Devano dengan nada datarnya.
-''Tuan, saya sudah menyelidiki gadis yang bernama Risty Mahalini, dia anak angkat Tuan Setiawan, dan sejak dulu dia sering mendapatkan perlakuan kejam dari istri Tuan Setiawan ketika sedang bekerja di luar kota, jadi Mahalini di bawa kabur oleh adik angkat nya ke rumah yang sekarang ia tempati bersama Bi Ijah, lebih jelasnya sudah saya kirim ke email anda Tuan?'' kata seorang laki-laki kepercaya'an Devano.
Devano segera mematikan sambungan ponsel nya hanya untuk mengetahui tentang Mahalini yang sebenarnya.
Devano mengepal kedua tangan nya setelah membaca isi email yang di kirim orang suruhan nya.
''Jadi seperti itu kehidupan kamu sebelum nya Lini?!'' Gumam nya yang sedang menahan amarah nya.
''Ini alasan kamu bekerja sebagai OB di kantor?'' lagi lagi Devano bergumam.
Devano memejamkan matanya sejenak, memikirkan perasa'an Mahalini yang setiap hari mendapatkan siksa'an dari Ibu angkat dan juga kakak angkat nya.
Tapi Devano penasaran dengan orang tua Mahalini yang sebenarnya. ''Siapa orang yang sudah teha membuang kamu di pinggir jalan dulu,'' ucap nya dengan memeras otak nya, kini Devano malah penasaran dengan orang tua kandung Mahalini.
''Sudahlah, lebih baik aku tidur sebelum Mama masuk ke kamar ku,'' tukasnya dengan beranjak dari duduk nya, setelah menutup laptop yang sedang ia lihat barusan.
Devano mulai memejamkan matanya untuk bergabung di alam mimpi bersama bidadari bidadari yang selalu hadir dalam tidur nya, Devano tampak sangat bahagia di alam mimpi, karena tanpa memikirkan semua pekerja'an yang sedang di limpahkan oleh Papa nya.
Devano adalah laki-laki pekerja keras, sehingga dia tidak pernah membawa seorang wanita kehadapan keluarga besar nya, namun Devano sangat tau sang Mama sudah sangat menginginkan seorang cucu darinya.
...Akankah Devano akan berbuat baik kepada Mahalini setelah mengetahui semuanya.
__ADS_1
Ikuti terus kelanjutan nya ya. Terima kasih yang sudah mampir. Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak. Makasih 🙏💕🙏💕🙏💕😘😘