Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 23. Perhatian kecil Mahalini


__ADS_3

''Aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu kepada kamu sayang? sudahlah lebih baik kita masuk sekarang, hari makin sore nggak baik buat tubuh tua kita,'' Ucap Tuan Bagaskara yang kini sudah beranjak dari kursinya, dan akan melangkah ke dalam setelah meraih tangan istri nya.


Akhirnya Nyonya Marlina menurut saja ketika lengan sudah ada di genggaman suaminya.


...****************...


Malam harinya Mahalini tidak bisa memejamkan matanya, hanya untuk qsekedar istirahat saja. Mahalini hanya berguling guling di atas tempat tidur nya, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, Mahalini beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Mahalini kini tengah melakukan sholat tahajjud dan di lanjut dengan membaca Al-Quran yang sudah ia ambil tadi.


Mahalini begitu khusuk membaca Al-Quran sampai tak terasa adzan subuh berkumandang dengan merdu.


''Astaghfirullah, aku benar-benar nggak tidur hari ini,'' gumam nya dan meletakkan Al-Quran ke atas meja, dan dengan segera melaksanakan shalat subuh.


Sedangkan di luar sana, Bi Ijah sudah siap siap membersihkan rumah dan di lanjut ke halaman rumah yang tak terlalu luas itu, Mahalini melarang Bi Ijah untuk memasak, karena memasak adalah tugas Mahalini sebelum berangkat kerja.


''Bibi sudah sholat?'' tanya Mahalini dengan lembut.


''Alhamdulillah sudah neng. Neng mau masak apa hari ini biar Bibi bantu neng Lini saja,'' jawab nya sambil bertanya kepada anak majikan nya.


''Tidak usah Bi, lebih baik Bibi istirahat saja kalau sudah selesai,'' tolak nya dengan ramah. Mahalini memang tidak pernah menyuruh sang Bibi untuk selalu membersihkan ruangan demi ruangan, karena kalau Mahalini sedang libur, dia bisa membersihkan rumah nya sendiri tanpa bantuan sang Bibi, karena Mahalini sudah terbiasa sejak ia masih berumur 9 tahun yang di wajibkan untuk membersihkan seluruh rumah Mama angkat nya, kalau Mahalini sampai menolak maka dia akan tau hukuman seperti apa yang akan ia dapatkan dari Mama angkat nya.


Tepat jam 6 pagi Mahalini sudah rapi dengan baju kaos dan juga celana jeans hitam nya, tak lupa juga dia memakai jaket kesayangan nya yang sudah mulai memudar warnanya.


''Bi, Lini berangkat kerja dulu ya,'' pamit Mahalini kepada Bi Ijah.


''Iya neng, hati hati di jalan.'' jawab Bi Ijah sambil melambaikan tangan nya.

__ADS_1


Mahalini sengaja berangkat ke tempat kerjanya lebih awal dari yang lain, karena dia tidak mau kalau sampai terjebak macet ketika melewati jalan raya menuju perusaha'an Bagaskara Grub.


Hanya butuh waktu 30 menit Mahalini menuju kantor tersebut dengan kecepatan sedang.


''Assalamu'alaikum Pak?'' sapa Mahalini ketika bertemu dengan satpam yang juga baru datang menggantikan teman nya yang sift malam.


''Waalaikum salam neng?'' jawab sang satpam lembut, karena Mahalini seumuran dengan puteri nya yang ikut suaminya ke luar kota.


''Senang banget kayak nya Bapak harus ini,'' tanya Mahalini yang masih berdiri di depan nya, karena di dalam masih belum ada yang datang.


''Iya neng, puteri Bapak akan datang besok pagi, jadi Bapak seneng dengar nya,'' pungkas dengan wajah yang sumringah.


''Alhamdulillah, seneng banget ya Pak, ketika di sambangi puteri Bapak,'' kata Mahalini seraya menyodorkan kie buatan nya semalam.


''Lini....??'' teriak Nara sambil menghambur ke pelukan Mahalini.


''Sudah, Lini pamit dulu Pak,'' pamit Mahalini ketika Nara ingin berdebat dengan Pak satpam.


''Ayo kita beres beres saja dulu, biar cepat selesai,'' ajak Mahalini menarik lengan Nara untuk ke lantai paling atas, di mana di sana adalah ruangan sang CEO yang terkenal dingin.


Selama di dalam lift mereka berdua tertawa ketika sedang bercerita tentang kehidupan sehari-hari nya, sampai akhirnya sampailah mereka di ruangan di mana yang akan di bersihkan terlebih dahulu.


''Lini, kamu ke ruangan Bos sendirian saja, aku mau bikin kopi dan juga sarapan dulu, tadi belum sarapan karena buru buru,'' tutur Nara yang kini mengeluarkan roti dan juga kopi instan dari dalam tas nya, sebenarnya di sana juga di sediakan berbagai macam kopi, tapi Nara lebih memilih membawa sendiri dari rumah nya.


Mahalini mengangguk dan mulai berjalan menyusuri lorong menuju ruangan CEO, karena masih terlalu pagi, Mahalini tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, karena dia pikir sang CEO belum datang. Tapi nyatanya sang CEO malah sedang tidur di sofa dengan laptop yang masih menyala.


''Bagaimana ini, apa aku lanjut bersih bersih saja ya, atau aku keluar dulu ya?'' gumam Mahalini yang di landa kegalauan dengan sang bos yang sedang terlelap di sofa kantor nya.

__ADS_1


Dengan perasa'an takut Mahalini menghampiri sang bos, dengan mengambil selimut yang ada di ruangan itu juga, dengan sangat perlahan Mahalini menyelimuti Devano yang tidur begitu pulas, dengan meringkuk di sofa. Mungkin karena AC nya yang terlalu dingin atau apa Mahalini jadi bingung harus ngapain.


Akhirnya Mahalini memutuskan untuk tetap membersihkan ruangan bosnya, agar dia tidak terkena marah ketika dia terbangun nanti, tapi Mahalini tanpa sengaja menjatuhkan papan nama yang ada di atas meja kerja Devano.


Brakk


Devano yang terusik segera membuka matanya dan melihat selimut di atas tubuh nya, dan dia juga melihat seorang wanita yang sedang membersihkan barang yang barusan terjatuh.


''Mahalini,'' panggil Devano dengan suara serak nya.


''I-iya Tu-tuan,'' jaqab Mahalini dengan gugup, dan membalikkan tubuhnya sehingga menatap ke arah Devano yang sudah merubah posisi nya menjadi duduk.


''Sedang apa kamu,'' tanya Devano mengernyit kan dahinya karena melihat Mahalini sedang menunduk di samping meja kerjanya.


''Maaf Tuan, saya menjatuhkan papan nama anda, akan saya perbaiki segera,'' balas nya dengan menundukkan kepalanya.


''Sudah nggak usah di perbaiki, biarkan saja seperti itu,'' Devano menepuk sofa di samping nya agar Mahalini duduk di samping nya.


Mahalini yang mengerti isyarat dari sang bos segera datang menghampiri dan duduk di tempat yang ia tepuk tadi.


''Nanti malam ikut aku ke rumah kakek, beliau ingin bertemu dengan kamu, bersiap lah nanti aku akan menyuruh supir untuk menjemput kamu di rumah,''


''Jam berapa Tuan?'' tanya Mahalini lembut. Karena Mahalini masih harus ke kampus sore nanti.


''Bersiaplah sepulang nya dari kampus,'' jawab Devano pelan, dia sesekali memijat pelipis nya yang sedikit pusing.


''Lini, tolong bikinin aku kopi hitam. Kepalaku terasa sangat pusing,'' ujar nya tanpa menatap Mahalini.

__ADS_1


''Pagi pagi tidak boleh minum kopi Tuan, bagaimana kalau saya bikinin coklat panas saja, dan beberapa kue juga,'' sambung Mahalini mencoba memberi saran kepada sang bos.


__ADS_2