
Mama Devano sudah menunggu kedatangan Mahalini sang menantu di kediaman nya, sampai menjelang sore barulah mereka berdua akhirnya datang dengan bergandengan tangan.
Mama Devano sangat bahagia sekali melihat putera nya sudah mulai menerima Mahalini, tapi nyatanya tidak seperti itu, Devano hanya bersikap mesra di depan orang tuanya saja, gengsi nya yang terlalu di gedein, padahal sudah ada benih benih cinta di hati Devano saat ini.
''Assalamu'alaikum Ma,'' sapa Mahalini dengan nada yang begitu lembut.
''Waalaikum salam sayang?'' jawab nya dengan memeluk tubuh sang menantu yang sudah beberapa minggu ini tidak bertemu karena kesibukan dari masing-masing.
''Ayo masuk sayang, kamu tau nggak? kalau Mama sudah dari tadi nungguin kamu,'' ungkap nya, membuat Mahalini merasa sangat bersalah karena tidak bisa datang tadi pagi, karena di kampus nya ada kuliah pagi dan itu sangat penting banget bagi Mahalini.
''Maafkan Mahalini Ma, tadi pagi Lini masih harus kuliah dulu Ma,'' ucapnya penuh dengan sesal.
''Sudah tidak apa apa kok, lagian Mama juga tadi pagi harus keluar sebentar, dan pulang nya baru tadi siang juga kok?'' jawab Mama Devano yang merasa kasihan dengan menantu nya itu.
''Kamu sudah makan siang belum,'' tanya nya lagi kepada Mahalini.
''Dia bahkan selalu membawa bekal setiap pergi Ma, tadi saja aku kasih kartu dia nggak mau,'' adu Devano kepada sang Mama, mengingat Mahalini menolak kartunya tadi pagi.
''Kenapa kamu malah menolak kartu nya dia sich, harusnya kamu senang karena di beri kartu itu kan sayang,'' kata Mama Devano dengan menatap ke arah sang menantu.
''Lini masih punya tabungan kok Ma, dan lagian kemarin juga sudsh belanja banyak banget, jadi Lini masih belum butuh uang lagi Ma,'' sahut Mahalini jujur. Lagipula Mahalini sempat berpikir kalau dirinya tidak pantas menerima semua fasilitas dari Devano yang hanya sebagai suami di atas kertas.
Mama Devano hanya menggeleng pelan, ketika menyadari betapa polosnya menantu nya itu. ''Sudah biar Mama saja yang minta kartu itu lagi sama suami kamu, biar kita sore ini bisa belanja di Mall, Mama juga sudsh lama tidak shoping,'' tukas nya dengan menadahkan tangan nya ke arah Devano, Devano hanya mendelik ke arah sang Mama, karena Mama nya lah yang meminta Kartu itu bukan Mahalini.
Mahalini hanya terdiam menanggapi semua ucapan Mama mertuanya yang begitu baik kepada nya, di hati Mahalini berdo'a agar dirinya selalu di kelilingi oleh orang-orang yang sangat sayang dengan nya.
'Apakah hamba pantas dengan menjadi seorang menantu di keluarga ini, apakah aku begitu egois ingin selalu tingal dengan keluarga Mas Devano,'
__ADS_1
''Istirahat lah sayang? Devan, bawa istri kamu ke kamar kamu sekarang,'' titah nya dengan menatap wajah putera nya.
''Ayo, aku ajak ke kamar sekarang,'' ajak nya dengan menggenggam tangan Mahalini di depan sang Mama.
''Mama harap kamu selalu bahagia dengan pernikahan kamu sekarang sayang, dan Mama juga berharap segera di beri cucu juga,'' papar nya membuat Mahalini melotot ke arah Devano yang ada di samping nya.
'Mana mungkin aku bisa hamil, sedangkan tidur saja terpisah githu,' batinnya ketika mendengar ucapan dari sang Mama mertua.
''Do'akan saja Ma,'' sambung Devano membuat Mahalini semakin terkejut dengan jawaban Devano.
'Ada ada saja tuan Devan ini, mungkin dia sekarang sudah ada calon lain, makanya dia berani berkata seperti itu,' gumam Mahalini di dalam hatinya.
''Kalau githu Devan mau ke kamar dulu Ma, biar Lini istirahat di sana, dan Devan juga ada pekerja'an yang belum selesai tadi,'' Mama Devano mengangguk.
''Baiklah, kalian istirahat saja di atas. Nanti kalau sudah saat nya makan malam Mama panggil dech,''
Devano terus memeluk tubuh Mahalini dengan mesra, sedangkan Mahalini sedikit berontak dengan perlakuan Devano kepada nya. ''Sudah lepaskan Tuan, sekarang Mama anda sudah tidak melihat lagi kan?'' gumam Mahalini pelan, meminta di lepaskan dari pelukan Devano.
''Enak saja, aku juga tidak mau di perlakukan seperti ini juga kali, pernikahan kita kan hanya sebatas kontrak saja,'' sahut Mahalini yang tak terima dengan ucapan Devano barusan.
''sudah jangan berisik, nanti ada yang dengar bisa berabe kan?'' lagi lagi Devano berkata lembut kepada Mahalini, membuat Mahalini merinding mendengar nya.
''Lebih baik kamu istirahat saja di sini, aku mau ke ruangan kerja sebentar,'' ujar Devano yang sudsh melepaskan pelukan nya di tubuh Mahalini.
''Dari tadi kek di lepas,'' gerutu Mahalini yang kesal di buat nya.
Mahalini membuka pintu kamar di depan nya dan tercengang dengan isi di dalam, kamar yang begitu besar juga sangat luas, tempat tidur juga besar dan itu hanya di tinggali Devano sendirian saja.
__ADS_1
''Besar banget nie kamar, rumah ku saja tidak seluas ini,'' gumam nya dengan pelan dan mendaratkan bokong nya ke tempat tidur yang sangat empuk.
Mahalini sendiri hanya terkagum melihat keindahan kamar Devano, kamar cowok yang begitu rapi dan juga wangi membuat Mahalini bertambah tidak percaya diri bersanding dengan Devano yang dari keluarga terpandang dan juga kaya raya.
Mahalini menguap ketika merasakan sensasi kasur yang begitu empuk itu, dan tanpa terasa Mahalini sudah memejamkan matanya ketika merasakan sejuk dari AC yang terpasang di kamar Devano.
Di sisi lain Devano sedang mengerjakan semua pekerja'an nya yang memang di suruh di kirim ke e-mail nya, ketika dia belum pulang tadi dari kantor nya.
Ada beberapa e-mail yang masuk ke komputer yang ada di dalam ruangan kerjanya, namun Devano di kejutkan dengan getaran ponsel nya, dan menampakkan nama Riki di sana.
-''Ada apa Riki,'' jawab Devano setelah menggeser layar ponsel nya ke warna hijau.
-''Ada di mana kamu sekarang, di cari di ruangan nya tidak ada,'' tanya Riki yang konon sedang membutuhkan tanda tangan nya.
-''Aku sedang ada di rumah Mama, memang nya kenapa?''
-''Aku butuh tanda tangan kamu segera,'' tukas nya dengan nada kesal nya.
''Besok saja, akunsedsng sibuk sekarang,'' Devano memutuskan sambungan telfon nya secara sepihak membuat Riki di seberang sangat kesal dengan sang Bos yang bersikap semua nya.
Devano yang sudah menyelesaikan pekerja'an nya, beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan menuju ke kamar nya, di mana di sana Mahalini sudah tertidur sangat pulas di atas tempat tidur nya.
Mahalini juga menaiki tempat tidur nya dengan telentang sebelum dia memutuskan untuk memeluk Mahalini dari belakang, wangi harum menyeruak dari tubuh Mahalini, membuat Devano memejamkan matanya menikmati wangi yang ia hirup dari curuk leher sang istri.
Devano terus saja mencium curuk leher Mahalini, membuat sang empu terganggu dari tidur nya.
''Tuan Devano sedang apa?'' tanya Mahalini yang terkejut dengan perlakuan Devano yang sangat berani itu.
__ADS_1
''Biarkan aku seperti ini sebentar saja, aku tidak akan melakukan apapun sama kamu kok, aku janji,'' janji Devano.
'Ya Allah, apa Tuan Devan mau minta hal nya sebagai suami, tapi aku takut kalau kita benar-benar akan bercerai setelah 3 bulan itu,' batinnya berkecamuk. 'Tapi- kalau aku menolak permintaan nya, aku yang akan berdosa,' tambah nya lagi di dalam hatinya.